RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kebiasaan membaca berita negatif secara terus-menerus saat jam kerja dapat membuat pikiran justru semakin sulit beristirahat.
Penelitian menemukan, doomscrolling di tempat kerja berkaitan dengan meningkatnya rumination atau kecenderungan memikirkan sesuatu secara berulang, yang kemudian dapat menurunkan keterlibatan seseorang terhadap pekerjaannya.
Temuan tersebut berasal dari penelitian Ian M. Hughes, Melissa G. Keith, Juseob Lee, dan Cheryl E. Gray yang diterbitkan dalam jurnal Computers in Human Behavior pada 2024.
Baca Juga: 7 Bahasa Gaul Versi Gen Z yang Sering Muncul di Media Sosial, Apa Artinya?
Penelitian ini menjadi salah satu studi empiris awal yang secara khusus melihat dampak doomscrolling ketika seseorang sedang bekerja.
Peneliti menggunakan dua pendekatan. Studi pertama melibatkan 352 responden dengan metode time-lagged, sedangkan studi kedua menggunakan daily diary yang melibatkan 126 pekerja dengan pengukuran berulang.
Hasil keduanya secara umum mendukung dugaan bahwa doomscrolling di tempat kerja dapat meningkatkan rumination dan pada akhirnya berkaitan dengan menurunnya work engagement.
Baca Juga: Resep Tahu Cabe Garam, Menu Simpel yang Nikmat dan Lezat Ditemani Nasi Panas
Bukan cuma membaca berita buruk
Doomscrolling merujuk pada kebiasaan menjelajahi informasi negatif secara terus-menerus, terutama melalui media sosial.
Seseorang mungkin awalnya hanya ingin mengetahui perkembangan sebuah peristiwa. Namun, satu unggahan kemudian membawa ke unggahan lain, dilanjutkan komentar, pembaruan terbaru, dan informasi negatif lainnya.
Tanpa terasa, waktu yang awalnya hanya beberapa menit menjadi lebih panjang.
Masalahnya bukan hanya waktu kerja yang terpakai. Menurut penelitian tersebut, informasi negatif yang terus dikonsumsi dapat menjadi sumber stres dan berkaitan dengan proses psikologis yang disebut rumination.
Pikiran ikut membawa masalah dari layar
Rumination berbeda dari sekadar memikirkan sesuatu.
Istilah ini merujuk pada kecenderungan memikirkan persoalan atau pengalaman secara berulang. Seseorang bisa saja terus memutar kembali informasi yang baru dibacanya, memikirkan kemungkinan buruk, atau sulit mengalihkan perhatian dari topik tersebut.
Inilah yang membuat doomscrolling menarik dari sisi psikologi.
Baca Juga: Love Language Setiap Zodiak, Begini Cara Mereka Menunjukkan Rasa Sayang
Aktivitas tersebut mungkin dilakukan sebagai jeda singkat dari pekerjaan. Namun, informasi yang dikonsumsi justru dapat membuat pikiran tetap sibuk setelah layar ditutup.
Penelitian Hughes dan rekan-rekannya menemukan bahwa hubungan antara doomscrolling dan rumination kemudian berkaitan dengan menurunnya work engagement, atau keterlibatan seseorang terhadap pekerjaannya.
Mengapa sulit berhenti?
Ada paradoks dalam kebiasaan ini.
Seseorang mungkin membuka media sosial karena ingin beristirahat sejenak dari pekerjaan. Tetapi ketika yang dikonsumsi adalah informasi negatif secara terus-menerus, otak justru mendapatkan rangsangan yang berpotensi mempertahankan perhatian pada hal yang mengkhawatirkan.
Baca Juga: Hiperinflasi Era Soekarno: Ketika Rupiah Kehilangan Nilai dan Ekonomi Indonesia Terpuruk
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa hubungan antara doomscrolling dan rumination lebih kuat pada pekerja dengan tingkat neuroticism yang lebih tinggi.
Namun, temuan ini tidak berarti setiap orang yang melakukan doomscrolling akan mengalami masalah psikologis yang sama. Penelitian menunjukkan adanya hubungan antarvariabel, bukan kepastian bahwa satu kebiasaan akan menghasilkan dampak yang sama pada setiap individu.
Jeda kerja belum tentu membuat pikiran beristirahat
Temuan ini memberikan gambaran bahwa bentuk istirahat juga perlu diperhatikan.
Berhenti mengerjakan tugas selama beberapa menit tidak selalu berarti pikiran mendapatkan istirahat. Jika jeda tersebut justru diisi dengan membaca berbagai informasi negatif tanpa batas, perhatian dapat tetap tersangkut pada persoalan di luar pekerjaan.
Karena itu, ketika seseorang merasa sudah berhenti bekerja tetapi pikirannya tetap dipenuhi berbagai informasi yang mengkhawatirkan, mungkin bukan pekerjaannya saja yang perlu diperhatikan.
Cara menggunakan waktu jeda juga bisa menjadi bagian dari persoalan. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari