Stres Kerja Bisa Bikin Orang Lebih Impulsif Berbelanja, Ini Penjelasan Psikologinya

Hakam Alghivari • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 21:39 WIB
Ilustrasi perempuan yang berbelanja untuk memperbaiki suasana hati
Ilustrasi perempuan yang berbelanja untuk memperbaiki suasana hati. 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Stres kerja dan kelelahan emosional dapat meningkatkan kecenderungan seseorang melakukan pembelian impulsif.

Penelitian terhadap lebih dari 1.200 karyawan menunjukkan bahwa tekanan pekerjaan dan burnout berkaitan dengan meningkatnya perilaku belanja tanpa perencanaan, sementara kemampuan mengendalikan diri menjadi salah satu faktor penting dalam hubungan tersebut.

Baca Juga: Ramaikan Agustus dengan Diskon, Gerai FnB hingga Elektronik Bidik Daya Beli Masyarakat

Temuan itu menunjukkan bahwa kebiasaan membeli barang secara tiba-tiba tidak selalu berkaitan dengan kebutuhan atau keinginan terhadap produk.

Dalam kondisi tertentu, tekanan yang muncul selama bekerja dapat memengaruhi cara seseorang mengendalikan dorongan ketika berhadapan dengan keputusan konsumsi.

Penelitian yang dilakukan Havva Değirmenci Tarakcı dan İlknur Ayar pada 2026 tersebut melibatkan 1.228 karyawan di Turki. Peneliti menguji hubungan antara stres kerja, kelelahan emosional, pengendalian diri, dan pembelian impulsif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa stres kerja dan kelelahan emosional berpengaruh terhadap kecenderungan pembelian impulsif. Peneliti juga menemukan bahwa pengendalian diri memiliki peran penting dalam hubungan tersebut.

Baca Juga: Mengakui Kesalahan Ternyata Bisa Meningkatkan Kepercayaan Orang Lain, Ini Temuan Penelitian

Ketika pekerjaan menguras pengendalian diri

Seseorang yang menjalani hari kerja dengan banyak tuntutan tidak hanya menghabiskan waktu dan tenaga. Pekerjaan juga dapat membutuhkan konsentrasi, pengambilan keputusan, pengendalian emosi, serta kemampuan menghadapi berbagai tekanan.

Ketika tekanan tersebut berlangsung terus-menerus, kondisi psikologis seseorang dapat mengalami kelelahan. Salah satu konsekuensinya adalah kemampuan untuk mengendalikan dorongan dapat menjadi lebih sulit dipertahankan.

Dalam konteks belanja, kondisi tersebut menjadi penting karena pembelian impulsif pada dasarnya melibatkan keputusan yang spontan dan relatif minim perencanaan.

Seseorang mungkin awalnya hanya membuka aplikasi belanja untuk melihat-lihat. Namun, ketika menemukan barang yang menarik, dorongan untuk membeli dapat muncul sebelum pertimbangan mengenai kebutuhan dan anggaran dilakukan secara matang.

Bukan berarti setiap orang yang mengalami stres kerja akan otomatis berbelanja secara impulsif. Penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan antara kondisi psikologis yang diteliti dengan kecenderungan tersebut, bukan bahwa stres selalu berujung pada pembelian.

Burnout ikut menjadi bagian dari persoalan

Stres kerja yang berlangsung dalam waktu lama juga dapat berkaitan dengan kelelahan emosional atau burnout.

Dalam penelitian tersebut, burnout menjadi salah satu variabel yang diperhitungkan bersama stres kerja dan pengendalian diri. Temuannya memperlihatkan bahwa kelelahan emosional berkaitan dengan meningkatnya kecenderungan pembelian impulsif.

Baca Juga: Psikologi Ungkap Alasan Banyak Pria Lebih Memprioritaskan Sifat daripada Kecantikan Fisik

Kondisi ini membantu menjelaskan mengapa sebagian orang merasa lebih mudah tergoda berbelanja setelah menjalani hari yang melelahkan.

Belanja kemudian tidak hanya dilihat sebagai aktivitas untuk mendapatkan barang. Dalam situasi tertentu, keputusan membeli dapat muncul bersamaan dengan dorongan untuk mendapatkan pengalaman yang menyenangkan setelah menghadapi tekanan sepanjang hari.

Namun, penting membedakan antara membeli sesuatu sebagai bentuk penghargaan kepada diri sendiri dan pembelian impulsif.

Pembelian yang sudah direncanakan tetap dapat dilakukan setelah seseorang bekerja keras. Pembelian impulsif lebih berkaitan dengan keputusan membeli yang muncul secara spontan, tanpa perencanaan sebelumnya.

Mengapa pengendalian diri menjadi penting?

Salah satu bagian penting dari penelitian tersebut adalah peran self-control atau pengendalian diri.

Pengendalian diri membantu seseorang menahan dorongan sesaat dan mempertimbangkan konsekuensi sebelum mengambil keputusan. Dalam konteks belanja, kemampuan tersebut dapat membantu seseorang berhenti sejenak sebelum menekan tombol pembayaran.

Ketika kondisi psikologis sedang tertekan atau lelah, proses tersebut dapat menjadi lebih sulit.

Misalnya, seseorang telah melewati hari kerja yang penuh tekanan. Sepulang kerja, ia melihat promosi barang yang sebenarnya tidak masuk dalam daftar kebutuhan. Dalam kondisi normal, ia mungkin mempertimbangkan harga, manfaat, dan kondisi keuangan terlebih dahulu.

Namun, ketika sedang mengalami kelelahan emosional, keputusan dapat lebih mudah dipengaruhi oleh dorongan sesaat.

Di sinilah hubungan antara stres, burnout, pengendalian diri, dan pembelian impulsif menjadi menarik.

Baca Juga: Psikolog Ungkap Ciri Pria yang Rentan Berselingkuh, Bukan Sekadar Soal Penampilan

Bukan soal "orang sibuk pasti boros"

Temuan penelitian ini tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa semakin sibuk seseorang bekerja, semakin boros pula dirinya.

Kesibukan kerja dan stres kerja merupakan dua hal yang tidak selalu sama. Seseorang dapat memiliki pekerjaan dengan aktivitas padat tetapi mampu mengelola tekanan dengan baik. Sebaliknya, pekerjaan yang secara fisik tidak terlalu sibuk tetap dapat menimbulkan stres apabila tuntutan psikologisnya tinggi.

Karena itu, persoalan utamanya bukan sekadar berapa lama seseorang bekerja atau seberapa padat jadwalnya.

Yang lebih penting adalah bagaimana tuntutan pekerjaan tersebut memengaruhi kondisi psikologis dan kemampuan seseorang mengendalikan dorongan.

Belanja setelah hari yang buruk perlu diperhatikan

Kebiasaan membeli sesuatu setelah mengalami hari kerja yang berat sebenarnya tidak otomatis merupakan masalah.

Yang perlu diperhatikan adalah polanya.

Jika seseorang mulai sering membeli barang yang tidak direncanakan setiap kali merasa stres, lelah, kecewa, atau tertekan, kebiasaan tersebut layak diperhatikan. Terlebih jika pembelian dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan dan kemudian menimbulkan penyesalan.

Dalam kondisi seperti itu, persoalannya bukan lagi sekadar tentang barang yang dibeli, melainkan kemungkinan adanya hubungan antara kondisi emosional dan cara seseorang mengambil keputusan konsumsi.

Penelitian Tarakcı dan Ayar memberikan gambaran bahwa stres kerja dan burnout dapat menjadi bagian dari rangkaian psikologis yang berkaitan dengan pembelian impulsif. Pengendalian diri menjadi salah satu faktor yang ikut menentukan bagaimana seseorang merespons dorongan tersebut.

Dengan demikian, ketika seseorang merasa semakin sering melakukan pembelian spontan setelah menjalani hari kerja yang melelahkan, pertanyaan yang perlu diajukan mungkin bukan hanya "Apa yang ingin saya beli?", tetapi juga "Apa yang sedang saya rasakan?"

Editor : Hakam Alghivari
Pekerja belanja stres kerja burnout impulsif