Mengakui Kesalahan Ternyata Bisa Meningkatkan Kepercayaan Orang Lain, Ini Temuan Penelitian

Hakam Alghivari • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 20:18 WIB
Ilustrasi grup karyawan santai. (MAGNIFIC)
Ilustrasi grup karyawan santai. (MAGNIFIC)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Mengakui kesalahan sering dianggap sebagai tanda kelemahan. Tidak sedikit orang memilih bertahan dengan pendapatnya atau mencari pembenaran demi menjaga harga diri.

Sejumlah penelitian psikologi justru menunjukkan bahwa keberanian mengakui kesalahan dapat memberikan kesan yang lebih positif dan membantu membangun kepercayaan orang lain.

Salah satunya ditunjukkan dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Social Psychology. Melalui empat eksperimen yang melibatkan 679 partisipan, peneliti mengamati bagaimana orang menilai seseorang yang mengakui kesalahan dalam sebuah perdebatan di media sosial dibandingkan dengan mereka yang menolak mengaku salah atau memilih diam.

Hasilnya, partisipan cenderung memberikan penilaian yang lebih baik kepada orang yang bersedia mengakui kekeliruannya. Mereka juga dinilai lebih layak diajak berinteraksi dan memiliki reputasi yang lebih positif.

Baca Juga: Sering Mengeluh Ternyata Bisa Menular, Penelitian Ungkap Dampaknya terhadap Orang di Sekitar

Dalam laporannya, tim peneliti menjelaskan bahwa mengakui kesalahan diri sendiri menghasilkan kesan interpersonal yang lebih positif dibandingkan tetap mempertahankan pendapat yang keliru. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengakuan atas kesalahan dapat menjadi sinyal kejujuran dan keterbukaan di mata orang lain.

Mengapa Mengaku Salah Justru Membangun Kepercayaan?

Psikologi menjelaskan, kepercayaan tidak hanya dibangun melalui kemampuan atau pencapaian seseorang, tetapi juga melalui integritas.

Ketika seseorang berani mengakui telah melakukan kesalahan, orang lain cenderung melihatnya sebagai pribadi yang lebih jujur dan tidak berusaha menutupi fakta. Sikap tersebut menunjukkan bahwa seseorang lebih mengutamakan kebenaran daripada sekadar mempertahankan citra diri.

Dalam dunia psikologi, kemampuan seperti ini berkaitan dengan konsep intellectual humility atau kerendahan hati intelektual. Konsep ini menggambarkan kesediaan seseorang untuk menyadari bahwa dirinya tidak selalu benar, terbuka terhadap informasi baru, dan bersedia mengoreksi pandangan ketika ditemukan bukti yang lebih kuat.

Orang dengan sikap tersebut umumnya dipersepsikan lebih mudah diajak bekerja sama karena tidak menempatkan ego di atas fakta.

Baca Juga: Psikologi Ungkap Alasan Banyak Pria Lebih Memprioritaskan Sifat daripada Kecantikan Fisik

Permintaan Maaf Saja Belum Tentu Cukup

Penelitian lain yang dipublikasikan dalam Frontiers in Psychology pada 2022 menunjukkan bahwa permintaan maaf memang dapat membantu memulihkan kepercayaan setelah seseorang melakukan kesalahan.

Namun, efeknya bergantung pada bagaimana permintaan maaf itu disampaikan dan apakah orang lain menilainya sebagai sesuatu yang tulus.

Peneliti menemukan bahwa persepsi mengenai dapat dipercaya (trustworthiness) menjadi salah satu faktor penting yang menentukan apakah hubungan dapat kembali pulih setelah terjadi kesalahan.

Artinya, meminta maaf hanya sebagai formalitas tanpa disertai tanggung jawab atau perubahan perilaku belum tentu menghasilkan dampak yang sama.

Baca Juga: Menurut Psikologi, Ini 5 Alasan Perempuan Melankolis Layak Dijadikan Kekasih

Temuan serupa juga diperkuat oleh penelitian yang dimuat dalam Journal of Applied Psychology pada 2023. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa setelah melakukan pelanggaran, orang yang mengakui kesalahan dan bertanggung jawab atas tindakannya cenderung memperoleh respons interpersonal yang lebih positif dibandingkan mereka yang lebih banyak memberikan alasan atau pembenaran diri.

Bukan Berarti Harus Selalu Mengalah

Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa mengakui kesalahan bukan berarti seseorang harus menerima semua tuduhan atau selalu mengalah dalam setiap situasi.

Pengakuan kesalahan yang dimaksud adalah ketika seseorang memang menyadari telah melakukan kekeliruan dan bersedia bertanggung jawab atas tindakannya. Sikap ini berbeda dengan mengaku bersalah demi menghindari konflik atau menyenangkan orang lain. (kam/bgs) 

Editor : Hakam Alghivari
mengakui kesalahan kesan psikologi kepercayaan