Sering Mengeluh Ternyata Bisa Menular, Penelitian Ungkap Dampaknya terhadap Orang di Sekitar

Hakam Alghivari • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 18:08 WIB
Ilustrasi karyawan kantor. (MAGNIFIC)
Ilustrasi karyawan kantor. (MAGNIFIC)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pernah merasa suasana hati berubah setelah mendengar seseorang terus-menerus mengeluh?

Atau tanpa sadar ikut merasa kesal setelah membaca unggahan bernada negatif di media sosial? Ternyata, kondisi tersebut bukan sekadar perasaan.

Sejumlah penelitian psikologi menunjukkan bahwa emosi yang terkandung dalam keluhan dapat menular kepada orang lain, bahkan hanya melalui sebuah unggahan sederhana.

Baca Juga: Parenting: Anak yang Terlalu Sering Diselamatkan Orang Tua Berisiko Sulit Mandiri Saat Dewasa, Ini Temuan Penelitian

Salah satu temuan tersebut dipublikasikan dalam The Journal of General Psychology. Dalam eksperimen yang melibatkan 591 pengguna Instagram di Indonesia, peneliti menemukan bahwa paparan terhadap unggahan berisi keluhan dapat memicu digital emotional contagion, yaitu kondisi ketika emosi seseorang memengaruhi emosi orang lain melalui interaksi di ruang digital.

Para peneliti menjelaskan bahwa paparan terhadap unggahan yang berisi keluhan berpotensi memicu penularan emosi pada orang yang membacanya. Bahkan, keluhan yang mengandung emosi marah, sedih, dan jijik cenderung membangkitkan emosi serupa pada para partisipan penelitian.

Temuan ini menunjukkan bahwa konten yang tampak sederhana di media sosial ternyata mampu memengaruhi kondisi emosional orang lain.

Baca Juga: 7 Langkah Cara Menolak Ajakan Nongkrong dengan Sopan Tanpa Menyinggung Teman

Emosi Menyebar Layaknya Penyakit Menular

Fenomena tersebut dikenal sebagai emotional contagion atau penularan emosi. Dalam psikologi, istilah ini menggambarkan proses ketika seseorang secara tidak sadar menangkap dan merasakan emosi yang sedang dialami orang lain.

Sebuah artikel tinjauan (review) yang diterbitkan di Frontiers in Psychology pada 2025 bahkan menyebut bahwa emosi dapat menyebar layaknya penyakit menular.

Menurut penulis, penularan emosi merupakan mekanisme dasar yang membantu manusia membangun hubungan sosial, berempati, dan bertahan hidup sebagai makhluk sosial. Namun, mekanisme yang sama juga membuat emosi negatif dapat berpindah dari satu orang ke orang lain ketika terjadi paparan yang terus-menerus.

Seperti dalam kehidupan sehari-hari, kondisi ini bisa terjadi ketika seseorang berada di lingkungan kerja yang dipenuhi keluhan, mengikuti grup percakapan yang didominasi nada pesimis, atau terlalu lama membaca unggahan negatif di media sosial. Tanpa disadari, suasana hati yang semula netral dapat berubah menjadi ikut kesal, sedih, atau mudah marah.

Tidak Semua Keluhan Berdampak Sama

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa tidak semua bentuk keluhan memiliki efek yang sama. Dalam eksperimen tersebut, keluhan yang sarat emosi seperti kemarahan, kesedihan, dan rasa jijik memiliki pengaruh paling kuat terhadap kondisi emosional pembaca.

Sementara itu, unggahan yang tidak berisi keluhan justru memunculkan respons emosional yang berbeda dan tidak menunjukkan pola penularan yang sama.

Artinya, masalahnya bukan sekadar seseorang mengeluh, melainkan bagaimana keluhan itu disampaikan dan emosi apa yang dibawanya. Keluhan yang bertujuan mencari solusi atau dukungan tentu berbeda dengan keluhan yang terus-menerus meluapkan kemarahan tanpa arah.

Baca Juga: Jangan Langsung Melarang Jika Pria Memiliki Hobi, Selama Positif Justru Bisa Memberikan Banyak Manfaat

Perlu Bijak Mengelola Emosi

Temuan ini tidak berarti seseorang harus memendam semua keluhannya. Dalam psikologi, mengungkapkan perasaan tetap penting sebagai bagian dari regulasi emosi.

Namun, cara menyampaikan keluhan dan frekuensinya juga perlu diperhatikan, terutama di ruang digital yang memungkinkan satu unggahan dibaca oleh banyak orang dalam waktu singkat.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu lebih sadar terhadap jenis konten yang dikonsumsi setiap hari. Paparan berulang terhadap unggahan bernada negatif dapat memengaruhi suasana hati tanpa disadari.

Karena itu, menjaga keseimbangan antara mengakses informasi, berbagi pengalaman, dan memberi ruang bagi konten yang lebih positif dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk menjaga kesehatan psikologis di tengah derasnya arus media sosial. (kam/bgs) 

Editor : Hakam Alghivari
penelitian Keluhan emosi psikolog Menular