Kenapa Kita Sering Menyesal Setelah Mengambil Keputusan? Memahami Choice Overload dalam Psikologi

Hakam Alghivari • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 17:04 WIB
Ilustrasi pria penuh penyesalan. (MAGNIFIC)
Ilustrasi pria penuh penyesalan. (MAGNIFIC)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Rasa menyesal setelah mengambil keputusan tidak selalu menandakan seseorang telah memilih hal yang salah.

Dalam psikologi, kondisi ini dapat dipengaruhi oleh choice overload, yakni fenomena ketika terlalu banyak pilihan justru membuat proses pengambilan keputusan menjadi lebih sulit dan hasil akhirnya terasa kurang memuaskan.

Baca Juga: 7 Hal yang Bikin Keluarga Semakin Kompak, Kebersamaan Dimulai dari Kebiasaan Sederhana

Fenomena ini semakin mudah ditemui di era digital. Mulai dari memilih ponsel, menentukan jurusan kuliah, mencari pekerjaan, hingga memilih tontonan di layanan streaming, seseorang dihadapkan pada puluhan bahkan ratusan alternatif. Alih-alih memberikan rasa bebas, banyaknya pilihan justru dapat membebani cara otak memproses informasi.

Ketika banyak pilihan justru menghambat keputusan

Konsep choice overload menjadi perhatian luas setelah penelitian psikolog Sheena S. Iyengar dan Mark R. Lepper pada 2000.

Dalam eksperimen yang dikenal sebagai jam experiment, pengunjung toko lebih tertarik mendatangi stan yang menawarkan 24 varian selai. Namun, mereka justru lebih banyak melakukan pembelian ketika hanya tersedia enam pilihan.

Baca Juga: 5 Tanda Perempuan Sebenarnya Peduli Meski Terlihat Dingin di Depan, Ini Penjelasan Psikologi

Temuan tersebut menunjukkan, semakin banyak alternatif, semakin besar pula usaha mental yang diperlukan untuk membandingkan setiap pilihan. Otak harus mempertimbangkan kelebihan, kekurangan, risiko, hingga kemungkinan hasil dari setiap opsi. Proses ini membuat pengambilan keputusan terasa lebih melelahkan.

Penyesalan muncul karena terus membandingkan

Setelah keputusan dibuat, otak tidak selalu berhenti mengevaluasi. Seseorang kerap membayangkan bagaimana hasilnya jika memilih alternatif lain. Dalam psikologi, kecenderungan ini dikenal sebagai counterfactual thinking, yaitu proses membandingkan kenyataan dengan kemungkinan yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

Baca Juga: Menurut Psikologi, Penyesalan Masa Lalu Ternyata Cara Otak Membohongi Diri Sendiri!

Semakin banyak pilihan yang tersedia sejak awal, semakin banyak pula skenario yang dapat dibayangkan. Akibatnya, rasa puas terhadap keputusan yang telah diambil menjadi berkurang karena perhatian terus tertuju pada peluang yang dilewatkan.

Kondisi tersebut juga berkaitan dengan konsep opportunity cost. Setiap keputusan berarti mengorbankan pilihan lain. Ketika alternatif yang ditinggalkan terlihat sama-sama menarik, rasa menyesal menjadi lebih mudah muncul meskipun keputusan awal sebenarnya sudah tepat.

Tidak semua orang mengalami hal yang sama

Psikolog Barry Schwartz dalam bukunya The Paradox of Choice menjelaskan bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam mengambil keputusan. Ia membedakan dua kecenderungan, yaitu maximizer dan satisficer.

Seorang maximizer cenderung mencari pilihan terbaik dengan membandingkan sebanyak mungkin alternatif. Mereka biasanya menghabiskan lebih banyak waktu untuk mencari informasi dan sering merasa belum yakin meskipun keputusan telah diambil.

Sebaliknya, satisficer akan berhenti mencari ketika menemukan pilihan yang sudah memenuhi kebutuhan dan tujuan. Kelompok ini umumnya lebih cepat mengambil keputusan dan lebih mudah merasa puas dengan hasilnya.

Baca Juga: Kepribadian Seseorang Konon Tercermin dari Gaya Tulisan Tangan Menurut Psikologi, Benarkah?

Bukan berarti salah satu lebih baik daripada yang lain. Namun, penelitian menunjukkan bahwa individu dengan kecenderungan maximizer lebih rentan mengalami penyesalan dan ketidakpuasan setelah mengambil keputusan.

Fenomena yang dekat dengan kehidupan sehari-hari

Choice overload tidak hanya terjadi saat membeli barang. Fenomena ini juga muncul ketika seseorang memilih kampus, pekerjaan, tempat tinggal, hingga pasangan hidup.

Bahkan, banyaknya pilihan menu makanan atau film yang tersedia dapat membuat seseorang menghabiskan lebih banyak waktu untuk memilih daripada menikmati hasil pilihannya.

Baca Juga: Bukan Selalu Sombong, Ini 7 Alasan Psikologis Mengapa Seseorang Sulit Mengucapkan Terima Kasih

Media digital turut memperkuat kondisi tersebut. Beragam ulasan, rekomendasi, dan perbandingan produk membuat seseorang merasa harus terus mencari informasi agar tidak salah memilih. Padahal, semakin lama proses membandingkan berlangsung, semakin besar pula peluang munculnya keraguan.

Cara mengurangi penyesalan setelah mengambil keputusan

Psikologi tidak menyarankan seseorang menghindari pilihan, tetapi belajar membatasi proses pengambilan keputusan agar tidak menjadi beban mental.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menentukan kriteria utama sebelum mulai memilih. Dengan memiliki prioritas yang jelas, seseorang tidak perlu mempertimbangkan setiap alternatif yang sebenarnya tidak sesuai dengan kebutuhannya.

Baca Juga: Kepribadian Orang yang Sering Mengingat Detail Kecil tentang Orang Lain Menurut Psikologi

Membatasi jumlah pilihan yang dibandingkan juga dapat membantu mengurangi beban kognitif. Selain itu, berhenti mencari alternatif baru setelah keputusan dibuat dapat mencegah munculnya kebiasaan terus-menerus membandingkan hasil yang sudah dipilih dengan kemungkinan lain.

Yang tidak kalah penting, menerima bahwa tidak ada keputusan yang benar-benar sempurna. Setiap pilihan selalu memiliki konsekuensi dan peluang yang tidak dapat diprediksi sepenuhnya.

Pada akhirnya, kualitas sebuah keputusan tidak hanya ditentukan oleh hasil akhirnya, tetapi juga oleh kesesuaiannya dengan informasi dan tujuan yang dimiliki saat keputusan itu dibuat. Memahami choice overload membantu seseorang menyadari bahwa rasa menyesal bukan selalu pertanda telah memilih jalan yang keliru, melainkan bagian dari cara kerja pikiran ketika dihadapkan pada terlalu banyak kemungkinan. (kam/bgs) 

Editor : Hakam Alghivari
psikologi keputusan salah penyesalan