Kesalahan Orang Tua Saat Memuji Anak yang Justru Menghambat Kepercayaan Diri, Tidak Semua Pujian Berdampak Baik

Hakam Alghivari • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 20:33 WIB
Ilustrasi anak tengah yang selalu menyendiri, dan merasa tidak mendapat perhatian cukup dari orang tua
Ilustrasi anak tengah yang selalu menyendiri, dan merasa tidak mendapat perhatian cukup dari orang tua

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Ketika si buah hati berhasil menyusun balok hingga menjulang tinggi, atau menyelesaikan gambar pertamanya, bahkan memperoleh nilai yang memuaskan di sekolah, hampir semua orang tua akan memberikan pujian.

Memuji anak sendiri memang merupakan bagian penting dalam pola asuh yang positif. Namun, para psikolog perkembangan mengingatkan bahwa tidak semua bentuk pujian memberikan dampak yang sama. Dalam kondisi tertentu, pujian yang kurang tepat justru dapat membuat anak takut gagal, terlalu bergantung pada pengakuan orang lain, bahkan kehilangan keberanian untuk mencoba hal-hal baru.

Baca Juga: 7 Kalimat yang Sebaiknya Tidak Diucapkan Orang Tua kepada Anak, Bisa Berdampak pada Kepercayaan Diri

Fenomena ini masih banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang tua beranggapan semakin sering memuji, semakin tinggi pula rasa percaya diri anak. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa yang menentukan bukanlah seberapa sering pujian diberikan, melainkan bagaimana pujian itu disampaikan.

Pujian Bukan Sekadar Membuat Anak Senang

Bagi anak, pujian bukan hanya rangkaian kata yang menyenangkan untuk didengar. Ucapan dari orang tua perlahan membentuk cara mereka memandang diri sendiri.

Apabila seorang anak terus-menerus dipuji karena dianggap "pintar", ia dapat mulai percaya bahwa kecerdasannya adalah sesuatu yang harus selalu dibuktikan. Akibatnya, ketika menghadapi soal yang sulit atau mengalami kegagalan, ia lebih mudah merasa kecewa dan menganggap dirinya tidak lagi sepintar yang selama ini dikatakan.

Baca Juga: Anak Sering Bertanya Banyak Hal, Apakah Itu Tanda Jenius? Begini Jawaban Psikologi

Psikolog Carol S. Dweck dari Stanford University menjelaskan kondisi tersebut melalui konsep mindset. Dalam penelitiannya, Dweck menemukan bahwa anak yang terus mendapat pujian terhadap kemampuan bawaan (person praise), seperti "kamu memang pintar", lebih cenderung menghindari tantangan karena takut kehilangan label tersebut. Sebaliknya, anak yang diapresiasi atas usaha, strategi, dan ketekunannya (process praise) lebih berani mencoba hal baru dan tidak mudah menyerah ketika mengalami kesulitan.

Temuan itu kemudian menjadi salah satu dasar berkembangnya konsep growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui latihan, proses belajar, dan ketekunan.

Ketika Pujian Berubah Menjadi Tekanan

Tidak sedikit orang tua yang tanpa sadar menjadikan pujian sebagai standar yang harus terus dipenuhi anak.

Misalnya, setiap kali anak meraih peringkat pertama, orang tua mengatakan, "Kamu memang selalu juara." Kalimat tersebut memang terdengar membanggakan, tetapi secara tidak langsung menciptakan ekspektasi bahwa anak harus terus menjadi yang terbaik.

Lama-kelamaan, anak bisa merasa takut melakukan kesalahan. Mereka enggan mengikuti perlombaan baru, mencoba aktivitas yang belum dikuasai, atau mengambil tantangan yang berisiko membuatnya gagal. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena khawatir mengecewakan orang tua atau kehilangan identitas sebagai "anak yang pintar".

American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa rasa percaya diri yang sehat bukan dibangun dari kebutuhan untuk selalu berhasil, melainkan dari keyakinan bahwa seseorang tetap berharga meskipun sedang belajar atau melakukan kesalahan.

Kesalahan yang Paling Sering Dilakukan Orang Tua

Dalam praktik pengasuhan, terdapat beberapa bentuk pujian yang tampak positif, tetapi kurang tepat jika diberikan secara berulang.

Salah satunya adalah memberi label terhadap identitas anak, seperti "Kamu jenius," "Kamu paling hebat," atau "Kamu memang berbakat." Kalimat semacam ini membuat fokus anak berpindah dari proses belajar menuju citra diri yang harus dipertahankan.

Baca Juga: Bahaya Paparan Layar HP pada Anak, Ini Batas Aman Screen Time Menurut WHO

Kesalahan lain adalah memberikan pujian secara berlebihan untuk hal-hal yang sebenarnya biasa dilakukan anak. Pujian yang terlalu sering tanpa alasan yang jelas dapat kehilangan makna. Anak bahkan bisa menjadi terbiasa mencari validasi dari orang lain sebelum merasa bangga terhadap dirinya sendiri.

Selain itu, sebagian orang tua tanpa sadar menyisipkan perbandingan dalam pujian, misalnya, "Lihat, kamu lebih pintar daripada temanmu." Cara seperti ini memang dapat membuat anak merasa unggul sesaat, tetapi juga berpotensi menumbuhkan kebiasaan mengukur nilai diri berdasarkan pencapaian orang lain.

Apa yang Sebaiknya Dipuji?

Para ahli justru menganjurkan agar orang tua lebih banyak mengapresiasi proses dibandingkan hasil akhir.

Ketika anak berhasil menyelesaikan puzzle yang sulit, misalnya, orang tua dapat mengatakan, "Ayah melihat kamu tidak menyerah meskipun tadi sempat kesulitan." Kalimat seperti ini membantu anak memahami bahwa usaha dan ketekunan adalah sesuatu yang bernilai.

Begitu pula ketika anak gagal. Orang tua tetap dapat memberikan apresiasi terhadap keberanian mereka untuk mencoba.

Pendekatan tersebut membantu anak membangun motivasi intrinsik, yakni dorongan untuk belajar karena ingin berkembang, bukan semata-mata mengejar pujian.

Kepercayaan Diri Tumbuh dari Rasa Aman, Bukan dari Sanjungan

Kepercayaan diri sering disalahartikan sebagai keyakinan bahwa anak selalu hebat. Padahal, maknanya jauh lebih dalam.

Anak yang percaya diri bukanlah mereka yang merasa selalu menjadi yang terbaik. Sebaliknya, mereka adalah anak yang berani mencoba, tidak takut melakukan kesalahan, serta yakin bahwa kegagalan merupakan bagian dari proses belajar.

Rasa aman itulah yang seharusnya dibangun di dalam keluarga. Ketika anak mengetahui bahwa orang tuanya tetap menerima dan mendukungnya meskipun hasil yang diperoleh belum sesuai harapan, mereka akan lebih berani mengeksplorasi kemampuan, menghadapi tantangan baru, dan belajar dari setiap pengalaman.

Pada akhirnya, pujian memang tetap dibutuhkan. Namun, pujian akan jauh lebih bermakna apabila diarahkan pada usaha, ketekunan, keberanian, dan proses belajar yang dijalani anak. Sebab, tujuan utama pengasuhan bukanlah membesarkan anak yang haus akan sanjungan, melainkan membentuk pribadi yang yakin terhadap kemampuannya sendiri, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang bertepuk tangan. (kam/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
memuji anak dampak orang tua kepercayaan diri Kesalahan