RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Namun, ketika menghadapi masalah, sebagian orang lebih mudah mencari penyebab di luar dirinya dibanding mengevaluasi perannya sendiri.
Dalam psikologi, kebiasaan menyalahkan orang lain secara terus-menerus dapat berkaitan dengan cara seseorang mengelola emosi, menghadapi tekanan, dan memandang tanggung jawab.
Sikap ini tidak selalu berarti seseorang memiliki karakter buruk. Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi. Mulai dari pengalaman hidup, pola asuh, hingga cara seseorang membangun persepsi terhadap dirinya dan lingkungan.
Baca Juga: Orang yang Sulit Membuang Barang Lama Biasanya Memiliki Karakter Ini, Psikologi Punya Penjelasannya
Salah satu pola yang sering dikaitkan dengan perilaku tersebut adalah external locus of control.
Konsep yang diperkenalkan psikolog Julian B. Rotter pada 1950-an ini menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan berbeda dalam melihat kendali atas kehidupannya.
Orang yang memiliki internal locus of control cenderung melihat dirinya memiliki peran dalam menentukan hasil, sedangkan orang dengan external locus of control lebih sering menganggap kejadian dipengaruhi oleh faktor luar seperti orang lain, keadaan, atau keberuntungan.
Baca Juga: Kepribadian Orang yang Sering Mengingat Detail Kecil tentang Orang Lain Menurut Psikologi
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dengan kecenderungan eksternal yang kuat mungkin lebih mudah berkata, "Ini terjadi karena dia," atau "Saya gagal karena situasinya memang seperti itu," tanpa melihat bagian yang bisa ia perbaiki.
Sulit Mengakui Kesalahan dan Mekanisme Melindungi Diri
Psikologi juga mengenal istilah defensive mechanism atau mekanisme pertahanan diri. Ini merupakan cara psikologis yang digunakan seseorang untuk mengurangi rasa tidak nyaman ketika menghadapi ancaman terhadap harga diri.
Mengakui kesalahan bisa terasa berat bagi sebagian orang karena berkaitan dengan rasa malu, takut dinilai, atau merasa gagal.
Akibatnya, pikiran dapat mencari cara untuk melindungi diri, salah satunya dengan mengalihkan kesalahan kepada pihak lain.
Misalnya, seseorang yang mendapat kritik di tempat kerja mungkin langsung menyalahkan rekan, aturan perusahaan, atau kondisi lingkungan sebelum mempertimbangkan apakah ada bagian dari pekerjaannya yang perlu diperbaiki.
Berkaitan dengan Pola Berpikir, Bukan Sekedar Sifat
Kebiasaan menyalahkan orang lain juga dapat berkaitan dengan self-serving bias, yaitu kecenderungan manusia untuk mengaitkan keberhasilan dengan faktor diri sendiri, tetapi menghubungkan kegagalan dengan faktor eksternal.
Dalam penelitian psikologi sosial, fenomena ini sering ditemukan karena manusia secara alami ingin menjaga citra positif terhadap dirinya. Ketika seseorang mengalami kegagalan, menyalahkan faktor luar dapat menjadi cara cepat untuk mempertahankan rasa percaya diri.
Baca Juga: Kebiasaan Orang yang Sering Menolak Telepon, Biasanya Memiliki Kepribadian Ini Menurut Psikologi
Namun, jika pola ini terjadi terus-menerus, seseorang dapat kehilangan kesempatan untuk belajar dari pengalaman.
Tanda Kalau Pola Ini Mulai Menjadi Masalah
Ada beberapa perilaku yang sering muncul ketika seseorang terlalu sering menempatkan kesalahan pada orang lain, seperti:
- Sulit menerima kritik meski diberikan dengan alasan yang jelas
- Merasa dirinya selalu menjadi pihak yang dirugikan
- Jarang meminta maaf atau mengakui kesalahan
- Mengulang konflik yang sama karena tidak melakukan evaluasi
- Lebih fokus mencari siapa yang salah dibanding mencari solusi.
Dalam hubungan sosial, pola seperti ini dapat membuat komunikasi menjadi sulit karena pihak lain merasa tidak didengar atau tidak dihargai olehnya.
Baca Juga: Bukan Cuma Nilai Bagus, Ini 7 Tanda Anak Jenius yang Sering Diabaikan
Mengubah Pola dengan Evaluasi Diri
Psikologi tidak melihat kepribadian sebagai sesuatu yang sepenuhnya tetap. Pola perilaku dapat berubah ketika seseorang mulai menyadari kebiasaannya.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membiasakan diri bertanya: "Apa bagian saya dalam masalah ini?" sebelum mencari penyebab dari luar.
Kemampuan untuk mengakui kesalahan bukan berarti merendahkan diri, melainkan menunjukkan kemampuan refleksi dan tanggung jawab.
Sebagai refleksi, setiap orang bisa melakukan kesalahan. Perbedaannya terletak pada bagaimana seseorang merespons kesalahan tersebut. Apakah menggunakannya sebagai kesempatan belajar, atau terus mencari pihak lain untuk disalahkan. (k/bgs)
Editor : Hakam Alghivari