Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Kebiasaan Orang Jadul yang Dulu Dianggap Biasa, Ternyata Membantu Rumah Tetap Adem Saat Musim Kemarau

Hakam Alghivari • Selasa, 16 Juni 2026 | 20:26 WIB
Ilustrasi seorang kakek menutup tempayan berisi air di rumah lawas. (AI/HAKAM ALGHIVARI/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi seorang kakek menutup tempayan berisi air di rumah lawas. (AI/HAKAM ALGHIVARI/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Musim kemarau mulai tiba di berbagai wilayah Indonesia. Siang hari terasa lebih terik, halaman rumah lebih cepat kering, dan beberapa ruangan yang biasanya nyaman perlahan mulai terasa hangat bahkan pengap. Tak sedikit orang akhirnya mengandalkan AC atau kipas angin hampir sepanjang hari untuk menjaga kenyamanan di dalam rumah.

Namun jauh sebelum pendingin ruangan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, masyarakat Indonesia sebenarnya sudah memiliki berbagai cara sederhana untuk menghadapi cuaca panas. Menariknya, banyak kebiasaan tersebut lahir bukan dari teori arsitektur modern atau teknologi canggih, melainkan dari pengalaman hidup selama puluhan bahkan ratusan tahun di iklim tropis.

Baca Juga: 5 Tips Ilmiah Menghadapi Cuaca Kemarau Ekstrem

Generasi terdahulu memahami bahwa rumah yang nyaman tidak selalu bergantung pada mesin pendingin. Mereka memanfaatkan pohon peneduh, mengatur bukaan rumah, menyiram halaman pada waktu tertentu, hingga merancang teras sebagai ruang perantara agar hawa panas tidak langsung masuk ke dalam rumah. Sebagian kebiasaan itu kini mulai ditinggalkan karena dianggap kuno atau tidak lagi relevan.

Padahal jika diperhatikan lebih dekat, banyak prinsip yang digunakan orang-orang dulu ternyata memiliki dasar yang masuk akal. Bahkan beberapa di antaranya kembali digunakan dalam konsep rumah tropis modern yang saat ini banyak diminati. Apa yang dulu dianggap sekadar kebiasaan sehari-hari, ternyata menyimpan cara-cara cerdas untuk membuat rumah terasa lebih adem saat musim kemarau.

Lalu, kebiasaan apa saja yang dulu dipercaya dapat membantu menjaga kesejukan rumah? Berikut beberapa di antaranya.

Baca Juga: Protes Kreatif: Mengapa Aksi Tanam Pohon Sering Dipilih untuk Menyindir Jalan Rusak?

Menyiram Halaman

Generasi dulu hampir akrab dengan pemandangan seseorang menyiram halaman saat matahari mulai turun atau pagi hari enjelang siang.

Sekilas terlihat seperti aktivitas membersihkan rumah. Padahal banyak orang tua percaya bahwa menyiram halaman dapat membuat suasana rumah terasa lebih sejuk.

Menariknya, keyakinan ini tidak sepenuhnya keliru. Permukaan tanah, semen, atau paving yang terpapar matahari menyimpan panas. Ketika disiram air, sebagian panas tersebut dilepaskan sehingga area sekitar rumah terasa lebih nyaman saat siang ataupun menjelang malam.

Tak heran jika kebiasaan ini masih sering dijumpai di berbagai daerah hingga sekarang.

Membuka Jendela Lebar-Lebar di Pagi Hari

Dulu, membuka jendela setiap pagi hampir menjadi ritual wajib.

Begitu matahari terbit, pintu depan dan belakang dibuka agar udara segar masuk ke dalam rumah. Tujuannya bukan hanya agar rumah terang, tetapi juga mengganti udara yang terjebak sepanjang malam.

Rumah-rumah lama biasanya dirancang dengan banyak bukaan sehingga angin dapat mengalir dari satu sisi ke sisi lainnya. Apa yang kini dikenal sebagai ventilasi silang sebenarnya sudah lama dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Baca Juga: Orang Cerdas Terkadang Bingung dengan Dirinya Sendiri, Ini 7 Karakter yang Sering Tidak Mereka Sadari

Menanam Pohon Peneduh di Sekitar Rumah

Orang dulu tidak sembarangan menanam pohon.

Selain untuk buah, banyak pohon sengaja ditanam sebagai peneduh alami. Pohon mangga, sawo, tanjung, hingga ketapang sering ditempatkan di sisi rumah yang paling sering terkena sinar matahari.

Ketika tajuk pohon membesar, dinding dan halaman tidak lagi menerima panas secara langsung. Efeknya bisa terasa sangat signifikan, terutama pada sore hari.

Saat ini, konsep yang sama kembali populer melalui tren rumah tropis yang mengutamakan area hijau sebagai pengendali suhu alami.

Baca Juga: Ada Alasan Mengapa Banyak Rumah Premium Menggunakan Material yang Justru Terlihat Tidak Sempurna

Memasang Tirai Bambu atau Gedek

Sebelum tirai modern dan kaca film tersedia luas, banyak rumah menggunakan tirai bambu atau gedek sebagai pelindung dari terik matahari.

Material alami ini mampu mengurangi intensitas cahaya yang masuk tanpa sepenuhnya menghalangi aliran udara.

Karena itu ruangan tetap teduh sekaligus tidak terasa pengap. Prinsip inilah yang kini banyak diterapkan kembali melalui penggunaan kisi-kisi kayu, secondary skin, dan berbagai elemen peneduh pada rumah modern.

Membuat Teras Sebagai Ruang Perantara

Rumah-rumah lama hampir selalu memiliki teras yang cukup luas.

Bukan sekadar tempat duduk, teras sebenarnya berfungsi sebagai lapisan penyangga antara cuaca luar dan ruang dalam.

Sebelum panas mencapai ruang keluarga atau kamar, sebagian besar sudah lebih dulu tertahan di area teras.

Konsep ini membuat rumah terasa lebih nyaman tanpa bantuan pendingin udara. Tak heran jika teras kembali menjadi elemen yang banyak dicari dalam desain tropical modern.

Menggunakan Material Alami di Dalam Rumah

Kayu, bambu, rotan, dan berbagai material alami mendominasi rumah-rumah lama Indonesia.

Saat itu mungkin pilihan tersebut lebih banyak didorong oleh ketersediaan material. Namun tanpa disadari, material alami juga membantu menciptakan suasana yang lebih nyaman dibanding permukaan sintetis yang menyimpan panas berlebihan.

Karena alasan yang sama, material alami kini kembali populer pada interior modern.

Baca Juga: Dulu Dianggap Kampungan, Sekarang Justru Jadi Ciri Rumah Tropical Modern

Bukan Sekadar Kebiasaan Lama

Melihat kembali berbagai kebiasaan tersebut, kita mungkin menganggapnya sebagai tradisi sederhana yang dilakukan orang tua atau kakek-nenek dulu.

Padahal banyak di antaranya lahir dari pengalaman panjang hidup di iklim tropis. Mereka mungkin tidak mengenal istilah ventilasi silang, pendinginan pasif, atau desain bioklimatik. Namun mereka memahami satu hal penting: bagaimana membuat rumah tetap nyaman tanpa bergantung pada teknologi.

Menariknya, di tengah meningkatnya suhu udara dan biaya listrik saat ini, banyak prinsip lama tersebut justru kembali relevan. Apa yang dulu dianggap kebiasaan biasa, ternyata menyimpan pelajaran berharga tentang cara hidup yang lebih selaras dengan lingkungan sekitar. (kam/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#jadul #kebiasaan #rumah #Kemarau #adem