RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Fenomena fatherless atau "ketiadaan peran ayah" kini bukan lagi sekadar isu domestik biasa, melainkan telah bergeser menjadi masalah sosial yang mengkhawatirkan, terutama di kawasan masyarakat urban (perkotaan).
Di tengah gedung-gedung pencakar langit dan kesibukan kota yang dinamis, banyak anak yang tumbuh besar dengan sosok ayah yang "ada secara fisik, namun absen secara psikologis".
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai fenomena fatherless country di lingkungan masyarakat urban, dampak, serta akar penyebabnya:
Indonesia sering kali disebut dalam berbagai kajian psikologi sosial sebagai salah satu negara fatherless (ketiadaan peran ayah) tertinggi di dunia.
Di area perkotaan (urban), fenomena ini mengkristal dalam bentuk yang lebih spesifik: Father Hunger, sebuah kondisi di mana anak merindukan kehadiran, bimbingan, dan kasih sayang figur ayah, meskipun sang ayah tinggal di bawah atap rumah yang sama.
Akar Penyebab di Lingkungan Urban
Masyarakat urban menghadapi tekanan struktural yang unik, yang tanpa disadari mengikis peran ayah dalam pengasuhan anak:
Baca Juga: Hari Ayah Nasional 2025: Ironi 'Fatherless' dan Fenomena 'Yatim Pasif' di Indonesia
Tuntutan Ekonomi dan Jam Kerja Ekstrem: Budaya kerja subuh-pulang malam (commuter life) membuat waktu berkualitas ayah dengan anak habis di jalan dan tempat kerja. Ayah urban sering kali berangkat saat anak masih tidur dan pulang ketika anak sudah terlelap.
Kekeliruan Budaya Patriarki Tradisional: Masih kuatnya dogma bahwa tugas ayah "hanya" mencari nafkah secara finansial, sedangkan urusan pengasuhan, emosi, dan pendidikan anak adalah tugas mutlak seorang ibu.
Kelelahan Mental (Burnout) Perkotaan: Ketika akhir pekan tiba, sisa energi ayah sering kali dihabiskan untuk beristirahat demi memulihkan diri dari stres pekerjaan, bukan untuk berinteraksi secara mendalam dengan anak.
Dampak Psikologis pada Tumbuh Kembang Anak
Absennya figur ayah dalam kehidupan emosional anak di masyarakat urban membawa dampak domino yang cukup serius bagi masa depan generasi muda:
Krisis Identitas dan Harga Diri: Ayah adalah jendela pertama bagi anak untuk melihat dunia luar. Ketiadaan keterlibatan ayah membuat anak sering kali tumbuh dengan rasa tidak aman (insecure) dan rendah diri.
Hambatan Regulasi Emosi: Anak yang kehilangan figur ayah cenderung lebih rentan mengalami kecemasan, depresi, dan kesulitan dalam mengendalikan amarah (anger management).
Risiko Perilaku Menyimpang di Remaja: Ketiadaan batasan tegas (law/rules) yang biasanya dibawa oleh figur ayah membuat remaja urban lebih rentan mencari validasi di luar rumah melalui pergaulan bebas, tawuran, atau penyalahgunaan zat terlarang sebagai kompensasi pencarian jati diri.
Memutus Rantai "Fatherless"
Urbanisasi tidak harus mengorbankan peran pengasuhan. Pendekatan Fathering (pengayahan) di era modern menuntut kualitas pertemuan di atas kuantitas. Meluangkan waktu 15–30 menit sehari tanpa gangguan gawai untuk mendengarkan cerita anak, menemani mereka bermain, atau terlibat dalam keputusan akademis adalah langkah awal yang besar untuk menyembuhkan fenomena ini.
Kesimpulan
Masyarakat urban harus mulai menyadari bahwa kecukupan materi dan fasilitas mewah di kota besar tidak akan pernah bisa menggantikan pelukan, validasi, dan kehadiran seorang ayah. Ayah bukan sekadar mesin pencari uang, melainkan pilar emosional yang membentuk ketahanan mental seorang anak. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko