Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

6 Tanda Red Flag Psikiater yang Tidak Profesional

Bhagas Dani Purwoko • Senin, 1 Juni 2026 | 19:25 WIB
KESEHATAN MENTAL: Mencari psikiater profesional tidak mudah, kenali sifat-sifat red flag-nya.
KESEHATAN MENTAL: Mencari psikiater profesional tidak mudah, kenali sifat-sifat red flag-nya.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Menemukan psikiater memang butuh perjuangan; sering kali kita terhambat masalah asuransi atau daftar tunggu yang bisa memakan waktu berbulan-bulan.

Namun, dilansir dari laman Verywell Minde, mempertahankan psikiater yang salah justru jauh lebih berbahaya daripada mencari yang baru.

Menurut pengamatan seorang terapis berlisensi yang juga berstatus sebagai pasien, ada 6 tanda bahaya (red flags) yang membuktikan psikiatermu gagal menjalankan tugasnya, mulai dari tidak adanya perbaikan gejala, abai terhadap efek samping obat yang menyiksa, sesi konsultasi yang cuma fokus pada obat, hingga tindakan tidak etis seperti memintamu menulis ulasan palsu di internet.

Jika psikiatermu menunjukkan salah satu saja dari tanda-tanda ini dan menolak memperbaiki pendekatannya, inilah saat yang tepat untuk mencari penyedia layanan kesehatan mental lain.

Bekerja sama dengan profesional seharusnya membawa perubahan positif. Jika kamu ragu apakah harus bertahan atau pergi, waspadai enam tanda bahaya berikut ini:

Red Flag 1: Tidak Ada Perubahan Sama Sekali

Saat menjalani terapi, gejalamu seharusnya membaik atau setidaknya ada penyesuaian resep pengobatan.

Baca Juga: Dinsos Tak Sanggup Datangkan Psikiater

Jika kamu masih menderita dan psikiatermu tidak berusaha mencari jalan keluar lain, tinggalkan saja.

Jangan sampai kamu terjebak seperti pengalaman sang terapis, di mana mantan psikiaternya meyakinkan bahwa penderitaannya saat itu adalah "kondisi terbaik yang bisa dicapai".

Padahal, setelah ia berganti ke psikiater yang optimis, gejalanya hilang hanya dalam beberapa bulan! (Fakta Tambahan: Menurut kajian keilmuan yang dipublikasikan di National Institutes of Health (NIH), pengambilan keputusan bersama (shared decision-making) untuk terus mengevaluasi efektivitas klinis sangat krusial agar pengobatan psikiatri berhasil).

Red Flag 2: Fokus pada Hal yang Salah

Pernahkah psikiatermu lebih peduli pada efek samping luar ketimbang stabilitas mentalmu? Sang terapis membagikan pengalaman pahitnya saat psikiaternya selalu memulai sesi dengan kalimat, "Wah, berat badanmu bertambah lagi!"

Ucapan ini tidak hanya menghancurkan rasa percaya dirinya, tapi juga sama sekali tidak bermanfaat secara psikiatris. Anehnya, dokter tersebut hanya fokus mengkritik efek samping itu tanpa berniat mengganti atau menghentikan resep obatnya.

Red Flag 3: Mengabaikan Keluhan Efek Sampingmu

Obat psikiatri punya deretan risiko efek samping, mulai dari yang sekadar mengganggu hingga yang benar-benar menyiksa.

Jika kamu merasa tidak nyaman, kamu berhak meminta ganti obat, dan psikiater wajib menghormati itu.

Baca Juga: Kebiasaan Menumpuk Barang “Nanti Dipakai” dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental

Kalau mereka malah berdalih bahwa rasa sakitmu "tidak seburuk itu" tanpa mau mencoba alternatif lain, segeralah cari dokter baru.

Sang terapis, yang selalu masuk dalam kelompok "1% orang dengan efek samping terburuk", berjuang mati-matian selama bertahun-tahun sampai akhirnya ia menemukan psikiater yang langsung mempercayai keluhannya tanpa banyak menghakimi. Kamu pun pantas mendapatkan perlakuan yang sama.

Red Flag 4: Sesi Konsultasi Cuma Membahas Obat

Kesehatan mentalmu dipengaruhi oleh jaringan yang kompleks, kehidupan sosial, kondisi rumah, keluarga, pekerjaan, hingga cuaca.

Jika setiap sesi psikiatermu hanya bertanya soal pil yang kamu telan tanpa menanyakan apa yang terjadi di kehidupan nyatamu, mustahil bagi mereka untuk mendapat gambaran utuh tentang pemicu gejalamu.

Meskipun sesi ini bukan sesi terapi mendalam, dokter mutlak harus menanyakan aspek kehidupan lain untuk mengambil keputusan resep yang lebih akurat.

Red Flag 5: Menyuruhmu Melakukan Hal yang Bikin Risih

Ada batas tipis antara rekomendasi pengobatan dan tindakan tidak etis. Dengarkan instingmu jika dokter menuntut hal yang terasa salah.

Contoh paling nyata: psikiater memaksamu mencoba "sampel gratis" karena mereka diam-diam mendapat imbalan promosi dari pihak tertentu.

Atau yang paling parah, mereka memintamu menulis ulasan positif di internet. Mantan psikiater sang terapis bahkan secara terang-terangan meminta review positif demi menetralisir ulasan jelek dari pasien sebelumnya yang dianggap "balas dendam".

Jangan pernah merasa bersalah untuk kabur dari dokter semacam ini. Mereka bekerja untukmu, bukan sebaliknya!

Red Flag 6: Membuatmu Merasa Buruk dan Tak Berharga

Apapun kondisi mental yang sedang kamu perangi, psikiater wajib memperlakukanmu dengan rasa hormat layaknya pasien medis lainnya.

Baca Juga: Hal yang Terkesan Sepele Ternyata Bisa Menggerogoti Kesehatan Mental, Mengenal Micro-Stressors

Tidak ada dokter yang berhak meremehkan, menghina, atau membuatmu merasa "kurang". Sang terapis sangat terpukul saat psikiater lamanya tiba-tiba melontarkan kalimat tajam: "Bayangkan apa yang bisa kamu lakukan jika kamu tidak begitu sakit."

Ucapan itu membuatnya merasa seperti kasus gagal yang tak punya masa depan. Belajarlah dari pengalaman ini; jangan pernah menoleransi pelecehan atau sikap merendahkan dari tenaga profesional manapun.

Psikiater yang baik akan selalu terbuka terhadap kritik dan bersedia bekerja sama memperbaiki rencanamu.

Menyampaikan ketidaknyamanan adalah langkah yang sangat memberdayakan jika hal itu berujung pada perubahan.

Namun, jika suaramu diabaikan, jangan ragu. Kamu tidak perlu menunggu sampai keenam tanda bahaya ini terjadi; satu saja sudah cukup menjadi alasan.

Ingatlah selalu bahwa kamu membayar mereka untuk layanan medis. Jika layanan tersebut merugikanmu, kamu berhak "memecat" mereka dan mencari yang lebih baik. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#psikiater #Obat #profesional #red flag #Kesehatan Mental