Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Orang Tua Korban Kekerasan Masa Kecil Pasti Akan Siksa Anaknya? Ini Jawaban Riset Psikologi!

Bhagas Dani Purwoko • Minggu, 24 Mei 2026 | 19:16 WIB
KEKERASAN: Mitos atau fakta? Orang tua korban kekerasan menjadi penyiksa anak?
KEKERASAN: Mitos atau fakta? Orang tua korban kekerasan menjadi penyiksa anak?

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Banyak orang tua yang memiliki masa lalu kelam sering kali dihantui ketakutan luar biasa: "Apakah saya akan berakhir menyiksa anak saya sendiri seperti yang dilakukan orang tua saya dulu?" Jawabannya adalah TIDAK.

Dilansir dari laman Psychology Today, secara statistik, mayoritas orang tua (sekitar 70%) yang pernah menjadi korban penganiayaan atau penelantaran di masa kecil justru tidak tumbuh menjadi pelaku penganiayaan terhadap keturunan mereka.

Rasa khawatir yang Anda miliki saat ini justru merupakan pertanda baik; ketakutan tersebut adalah langkah pertama dan pertahanan terbaik untuk memutus siklus kekerasan di dalam keluarga.

Dr. Frank W. Putnam, seorang pakar trauma, menegaskan bahwa transmisi (penularan) risiko penganiayaan anak antargenerasi bukanlah sebuah takdir yang tidak bisa dihindari.

Baca Juga: Kasus Kekerasan EPA U-20 yang Libatkan Fadly Alberto Jadi Evaluasi Pembinaan Sepak Bola Usia Dini

Berikut adalah pembedahan mendalam mengenai rantai trauma keluarga dan bagaimana cara sains membuktikan bahwa siklus mematikan ini bisa dihentikan.

Rasa Khawatir Adalah Kunci Memutus Siklus

Banyak orang tua korban trauma merasa tidak pantas mengasuh anak karena takut kehilangan kendali.

Namun, riset membuktikan bahwa orang tua yang secara sadar mengkhawatirkan hal ini justru memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk menjadi pelaku kekerasan. Mengakui sejarah kelam pribadi dan memproses emosi tersebut adalah "vaksin" terbaik.

Pemrosesan emosional ini bahkan tidak selalu harus dilakukan di ruang terapi klinis. Sebuah studi klasik dari Egeland & Susman-Stillman (1996) menemukan fakta melegakan:

Ibu-ibu berisiko tinggi yang menceritakan pengalaman traumatis masa kecilnya kepada teman baik, pasangan, atau orang terdekat yang suportif, terbukti berhasil mencegah anak-anak mereka dari penganiayaan, baik oleh tangan mereka sendiri maupun oleh pasangan yang kasar.

Baca Juga: Orang Tua yang Bertingkah Sok Muda ala ABG Bikin Ilfil atau Keren? Berikut Riset Psikologinya!

(Untuk panduan lebih lanjut mengenai dukungan psikologis, American Psychological Association (APA) merekomendasikan intervensi sosial seawal mungkin bagi calon orang tua dengan riwayat trauma).

Mengapa Risiko Tetap Ada? Waspadai 'Bom Waktu' Tambahan

Meski 70% berhasil memutus rantai, kita tidak bisa menutup mata terhadap 30% sisanya. Memiliki riwayat penganiayaan di masa kecil tetap menjadi faktor risiko tunggal terkuat terjadinya kekerasan pada keturunan.

Studi prospektif Ertem et al. (2000) mencatat, anak-anak dari orang tua korban trauma memiliki peningkatan risiko 6 hingga 12 kali lipat untuk mengalami hal serupa. Tingkat penularan 30% ini enam kali lebih tinggi dibandingkan tingkat kekerasan pada keluarga tanpa riwayat penganiayaan (Kaufman & Zigler, 1987).

Bahayanya, penularan ini tidak selalu bersifat langsung (orang tua yang memukul). Sering kali, kekerasan terjadi secara tidak langsung.

Orang tua mungkin gagal melindungi anak, kurang waspada, menciptakan lingkungan rumah yang tidak aman, atau membiarkan pasangan baru (ayah tiri/pacar) melakukan kekerasan terhadap sang anak.

Risiko kekerasan ini akan meledak secara eksponensial jika riwayat trauma dikombinasikan dengan faktor pemicu lain, seperti:

Baca Juga: Orang Tua Harus Stop Menghibur Anak Saat Mereka Mengaku Bosan, Begini Menurut Psikologi

Ancaman 'Disosiasi' dan Pola Kekerasan yang Menular

Dalam studi berdurasi empat dekade yang dipimpin Putnam (2026), anak perempuan korban pelecehan seksual diikuti perkembangannya hingga paruh baya.

Ditemukan bahwa tingkat disosiasi (mati rasa emosional atau terputusnya kesadaran dari realitas) adalah prediktor terbaik apakah mereka akan menjadi ibu yang keras dan suka menghukum.

Dalam banyak kasus, ibu-ibu ini tidak menyentuh anak mereka, tetapi disosiasi membuat mereka "buta" dan gagal melindungi buah hatinya dari predator lain.

Baca Juga: Gelisah Saat Bayi Tidur? Mengupas Sisi Psikologis Mengapa Orang Tua Baby Blues Kehilangan 'Rasa Aman' Sendirian

Selain itu, transmisi kekerasan ini sering kali memicu efek bola salju (multiple types of abuse). Polanya terbagi dua:

  1. Pola Homotipik: Orang tua korban pelecehan seksual memiliki anak yang juga menjadi korban pelecehan seksual.

  2. Pola Heterotipik: Orang tua korban pelecehan seksual memiliki anak yang mengalami bentuk penganiayaan berbeda, seperti penelantaran atau kekerasan fisik.

Tiga Langkah Mematikan Siklus Trauma

Apakah setiap tipe kekerasan butuh penanganan berbeda? Bukti riset kumulatif menunjukkan bahwa semua bentuk utama penganiayaan anak berakar pada tiga pilar risiko utama yang sama: (1) Riwayat trauma orang tua, (2) Penyalahgunaan zat, dan (3) Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Artinya, siklus mematikan ini 100% bisa dihentikan. Memahami kerentanan diri, berani mencari lingkungan sosial yang suportif, dan menjauhi pelarian pada alkohol atau zat terlarang adalah target pencegahan spesifik yang paling efektif.

Masa lalu tidak menentukan masa depan anak-anak kita; kitalah yang memegang kendali untuk menciptakan lingkungan keluarga yang aman dan penuh kasih sayang. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#seksual #psikologi #Kekerasan #anak #orang tua