RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pernahkah Anda dikritik karena terlalu memikirkan suatu hal secara mendalam, terlalu sensitif, atau terlalu peduli pada masalah yang bahkan tidak dihiraukan oleh orang lain di sekitar Anda?
Dilansir dari media Psychology Today, jika Anda adalah orang dewasa dengan intensitas emosional dan kecerdasan intelektual (IQ) yang tinggi, Anda mungkin telah menghabiskan sebagian besar hidup Anda dihantui oleh rasa bersalah yang tak masuk akal.
Anda mungkin sering mendapati diri Anda mengulang-ulang memori tentang keputusan, percakapan, atau tindakan di masa lalu hanya untuk mencari letak kesalahan Anda.
Ironisnya, rasa bersalah ini justru akan memuncak ketika Anda mencoba menikmati hak istimewa, bersantai, atau ketika dihadapkan pada penderitaan duniawi yang berada di luar kendali Anda. Mengapa hal ini bisa terjadi pada orang-orang berbakat?
Tiga Beban Mental Orang Cerdas: Moral, Eksistensial, dan Perfeksionisme
Psikologi modern mengidentifikasi tiga faktor kekuatan kognitif yang tanpa disadari dapat menjadi bumerang bagi orang-orang dengan IQ tinggi:
-
Kepekaan Moral yang Akut: Orang yang cerdas sering kali menangkap bobot etis dari suatu situasi secara otomatis. Misalnya, saat Anda melihat ketidaksetaraan sosial, tindakan sederhana seperti membeli barang mewah untuk diri sendiri bisa memicu rasa jijik pada diri sendiri (self-loathing). Sering kali, orang-orang di sekitar akan salah sangka dan melabeli Anda sebagai sosok yang sok menggurui atau merasa paling benar, padahal kenyataannya Anda sedang tenggelam karena terlalu sibuk menghakimi diri sendiri.
-
Kegelisahan Eksistensial (Existential Sensitivity): Ini adalah sifat umum pada orang dewasa yang intens. Anda bisa melihat realitas dunia secara jelas, sekaligus mampu memproyeksikan bagaimana seharusnya dunia ini bisa menjadi lebih baik. Rasa bersalah akan muncul ketika Anda melihat kesenjangan antara realitas dan idealisme tersebut, lalu merasa bertanggung jawab, namun gagal, untuk memperbaikinya.
-
Perfeksionisme Bawah Sadar Bagi orang berbakat, perfeksionisme sering menjelma menjadi kebutuhan kompulsif untuk menghapus segala bentuk kesalahan manusiawi. Anda tanpa sadar memikul tanggung jawab atas hasil akhir yang sebenarnya sama sekali tidak berada dalam kendali Anda.
Baca Juga: Ternyata Kita Boleh Berteman dengan Orang Toxic, Berikut Studi Psikologi dan Syaratnya!
Luka Pengasuhan: Ketika Kecerdasan Dianggap Sebagai 'Beban'
Selain faktor kognitif di atas, akar dari rasa bersalah yang menghantui ini sering kali tertanam jauh di masa lalu akibat proses pengasuhan yang keliru, di antaranya:
-
Parentifikasi Emosional Banyak anak berbakat yang karena kedewasaan dan kepekaannya, justru dimanfaatkan oleh orang dewasa di sekitarnya. Mereka sering kali diberi peran ganda sebagai penstabil emosi orang tua yang depresi atau bahkan pusat moral keluarga (Winnicott, 1965). Karena gagal memikul tugas yang mustahil bagi seorang anak ini, mereka tumbuh dengan perasaan bersalah yang mengendap di bawah memori sadar.
-
Kebutuhan yang Dianggap 'Terlalu Berlebihan' Anak cerdas umumnya memiliki kepekaan sensorik dan rasa haus intelektual yang jauh melampaui anak seusianya. Sayangnya, jika keingintahuan dan intensitas emosional ini direspons dengan desahan atau ketidaksabaran oleh pengasuh, sang anak akan menginternalisasi pesan bahwa kecerdasannya adalah sebuah kecacatan. Rasa bersalah akan berbisik bahwa mereka telah melakukan kesalahan, sementara rasa malu akan berbisik bahwa keberadaan mereka adalah sebuah kesalahan.
-
Topeng untuk Amarah yang Terpendam Literatur psikoanalisis klasik (Klein, 1935; Freud, 1917) juga mencatat bahwa rasa bersalah sering berfungsi sebagai wadah penampung bagi amarah yang tidak memiliki tempat pelampiasan. Karena secara norma sosial amarah dianggap tidak dapat diterima, pikiran Anda mengubah rasa tidak berdaya tersebut menjadi rasa bersalah yang diarahkan ke dalam diri sendiri.
Berdamai dengan Kesedihan Tersembunyi
Rasa bersalah yang selama ini membebani Anda mungkin tak lebih dari sekadar sinyal sisa dari memori masa kecil, seorang anak berbakat yang menyerap standar dari lingkungan yang gagal memahami cara berpikirnya.
Sebagai seorang individu yang cerdas, cobalah untuk melihat lebih dalam ke dalam batin Anda. Anda mungkin akan menyadari bahwa sebagian dari apa yang selama ini Anda sebut sebagai "rasa bersalah" sebenarnya hanyalah bentuk kesedihan; kesedihan atas jarak antara realitas dunia dengan idealisme pikiran Anda, atau kesedihan atas hubungan keluarga yang tidak mampu menampung potensi utuh Anda.
Meskipun rasa bersalah kronis ini tidak memiliki solusi instan, menyadari mekanisme ilmiah di baliknya adalah langkah awal yang krusial. Ini saatnya bagi Anda untuk perlahan melonggarkan cengkeraman suara menghakimi yang selama ini berpura-pura menjadi kebenaran mutlak dalam hidup Anda. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko