RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Ketika mengetahui bahwa teman dekat kita ternyata seorang peselingkuh, manipulator, atau bahkan dalang penipuan, insting pertama kita umumnya adalah langsung memutus hubungan persahabatan tersebut.
Namun, bertentangan dengan kepercayaan populer, secara moral dan psikologis Anda sebenarnya tetap diperbolehkan dan bisa berteman baik dengan orang "jahat".
Dilansir dari laman Psyche.co, syarat mutlaknya adalah Anda harus memiliki jangkar moral yang sangat kuat agar tidak terasimilasi, serta bersedia memosisikan diri sebagai pendorong perubahan positif bagi mereka, alih-alih bersikap diam (komplasen) terhadap tindakan buruknya.
Selama bertahun-tahun, masyarakat di seluruh dunia dihantui oleh ketakutan akan "kesalahan karena pergaulan" (guilt by association). Banyak yang berasumsi bahwa berteman dengan orang yang bangkrut secara moral adalah bentuk pengkhianatan terhadap keadilan. Namun, mari kita bedah mengapa mempertahankan persahabatan yang rumit ini terkadang justru menjadi pilihan terbaik.
Dua Mitos Besar Seputar 'Penularan' Karakter
Keinginan kuat untuk menyingkirkan teman yang tidak bermoral umumnya didorong oleh dua asumsi yang terdengar logis, namun tidak selamanya akurat:
1. Asimilasi Sifat: Mitos "Ketularan" Buruk
Sejak bangku sekolah, kita sering diajarkan pepatah Tiongkok kuno: “Kedekatan dengan cinnabar membuat seseorang menjadi merah, dan kedekatan dengan tinta membuat seseorang menjadi hitam.” Analogi ini mengakar hingga ke pemikiran Aristoteles, yang meyakini bahwa teman akan saling menyerap sifat satu sama lain.
Baca Juga: Studi Psikologi: Perempuan Lajang Jauh Lebih Bahagia ketimbang Pria Jomblo, Ini Rahasianya!
Jika teman Anda selalu mendapat nilai buruk atau sering melanggar aturan, sistem pendidikan dan norma sosial memaksa kita percaya bahwa kita akan "tertular". Asumsi ini memunculkan kepanikan moral: bergaul dengan pendosa berarti bersiap menanggung risiko menjadi pendosa.
2. Menghakimi Karakter Lewat Lingkaran Pertemanan
Asumsi kedua adalah bahwa sekadar bergaul dengan orang jahat sudah cukup untuk membuktikan bahwa Anda sendiri bermasalah. Bayangkan Ivan the Terrible.
Jika kita tahu ada seseorang yang dengan senang hati menjadi sahabat diktator brutal Rusia abad ke-14 tersebut, insting kita otomatis akan menilai bahwa sang sahabat sama-sama cacat moral karena tidak menganggap serius kekejaman Ivan.
Mematahkan Mitos: Epiknya Kisah Daryl Davis dan KKK
Meski kedua asumsi di atas kerap terbukti benar di masyarakat, mereka tidak berlaku mutlak. Bukti paling nyata dari anomali ini ada pada kisah Daryl Davis, seorang musisi jazz kulit hitam asal Amerika Serikat.
Selama 30 tahun terakhir, Davis secara aktif berteman dengan banyak anggota kelompok supremasi kulit putih yang terkenal kejam, Ku Klux Klan (KKK). Tujuan awalnya bukanlah untuk berteman, melainkan murni dari rasa penasaran: Mengapa orang-orang ini begitu membenci saya padahal mereka tidak mengenal saya? Tanpa diduga, persahabatan tumbuh.
Dari persahabatan tersebut, Davis berhasil membujuk ratusan anggota KKK untuk menyerahkan jubah mereka dan keluar dari organisasi rasis tersebut. (Untuk wawasan lebih dalam mengenai pendekatan psikologis Davis yang luar biasa ini, Anda dapat merujuk pada film dokumenter dan buku fenomenalnya yang banyak dibahas di NPR - How One Man Convinced 200 Ku Klux Klan Members To Give Up Their Robes).
Kisah Davis memberi kita dua wawasan fundamental:
-
Asimilasi Bisa Ditolak: Seseorang yang sangat yakin dengan kebenaran moralnya tidak akan mudah terpengaruh. Sama seperti ketika Anda mengabaikan petunjuk arah dari teman yang buta peta saat road trip, Anda juga bisa mengabaikan prinsip moral teman Anda yang cacat. Mengapa persahabatan harus memaksa Anda mempercayai sesuatu yang jelas-jelas Anda ketahui salah?
-
Teman Bukan Pembenar Tindakan: Memiliki teman yang buruk tidak berarti Anda menyetujui prioritas moralnya. Persahabatan dapat digunakan secara proaktif untuk menarik mereka keluar dari jurang kehancuran moral. Bagi sebagian orang "jahat", Anda mungkin adalah satu-satunya koneksi ke dunia yang bermoral baik. Jika Anda memutus mereka, mereka akan semakin terjerumus ke dalam lingkaran orang-orang fasik (echo chamber).
Batasan Autentisitas: Kita Berteman, Bukan Sekadar 'Pahlawan Kesiangan'
Tentu saja, semua argumen ini tidak berarti Anda memiliki kewajiban mutlak untuk terus berteman dengan orang toksik demi menyelamatkan mereka.
Keindahan sejati dari persahabatan adalah asas kesukarelaan. Memperdebatkan prinsip dasar kehidupan setiap saat bisa sangat menguras energi, dan jika Anda merasa lelah, Anda memiliki hak penuh untuk pergi. Terlebih lagi, persahabatan yang dipertahankan murni karena rasa "kasihan" atau kewajiban moral sering kali terasa palsu.
Sebagaimana kutipan kuat dari artikel aslinya:
"Jika Anda benar-benar memilih saya sebagai teman, saya ingin dipilih karena siapa saya sebenarnya, bukan karena Anda harus melakukan perbuatan baik setiap hari."
Pada akhirnya, berteman dengan orang yang memiliki kecacatan moral menuntut kedewasaan tingkat tinggi. Anda tidak perlu mengagumi atau membenarkan kesalahan mereka, namun Anda harus memastikan bahwa jangkar integritas Anda tetap utuh.
Baca Juga: 7 Tipe Orang yang Sebaiknya Tidak Terlalu Banyak Diberi Akses ke Kehidupan Kita Menurut Psikologi
Jangan kaget jika pertemanan semacam ini memunculkan banyak friksi dan antagonisme. Faktanya, jika sebuah ikatan persahabatan mampu bertahan melintasi jurang perbedaan ideologis yang ekstrem, itu bukanlah tanda kelemahan karakter, melainkan manifestasi dari kekuatan cinta dan solidaritas manusia yang sesungguhnya. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko