RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Stereotip kuno tentang perempuan lajang yang merana dan kesepian resmi runtuh oleh data ilmiah terbaru.
Dilansir dari media Psyche.co, sebuah penelitian berskala besar yang mensurvei hampir 6.000 orang jomblo/lajang berusia 18 hingga 75 tahun dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Meksiko, Inggris Raya, dan Polandia, menemukan fakta bahwa rata-rata perempuan lajang hidup jauh lebih bahagia daripada pria jomblo.
Riset ini mencatat bahwa 32 persen perempuan lajang meraih skor tertinggi dalam hal kepuasan dengan status lajang mereka, sementara kelompok pria lajang yang puas hanya menyentuh angka 20 persen.
Tidak hanya lebih bahagia dengan hidup secara keseluruhan, para perempuan lajang ini juga melaporkan kepuasan yang lebih tinggi terhadap kehidupan seks mereka dan secara eksplisit mengaku kurang tertarik untuk mencari pasangan romantis.
Melawan Stigma 'Perempuan Sisa' dan Gerakan Radikal Global
Komentar bernada mengkhawatirkan seperti 'Kamu akan melajang seumur hidupmu' sudah terlalu lama dijadikan senjata untuk menakut-nakuti orang yang memilih hidup sendiri.
Baca Juga: Jomblo Wajib Tahu, 8 Tanda Halus Seorang Wanita Tidak Menyukaimu
Secara historis, nilai seorang perempuan kerap kali direduksi sebatas kemampuannya untuk menjadi istri dan ibu yang patuh, sementara pria dinilai dari kesuksesan finansialnya.
Bahkan, serangan terhadap perempuan lajang sempat bersifat institusional. Sebagai contoh, sebuah badan pemerintah di Tiongkok sampai menciptakan istilah 'perempuan sisa' untuk menyalahkan perempuan lajang atas rendahnya angka kelahiran di sana.
Namun, gelombang perlawanan kini mulai berbalik. Meningkatnya jumlah populasi mandiri mendorong lahirnya gerakan radikal seperti Gerakan 4B di Korea Selatan, yang menandai sikap tegas perempuan lajang yang menentang hubungan romantis, pernikahan, dan seks dengan laki-laki.
Gerakan 4B ialah bihon (tidak menikah), bichulsan (tidak memiliki anak), biyeonae (tidak berpacaran), dan bisekseu (tidak berhubungan seksual dengan pria).
Mengapa Perempuan Lebih 'Sakti' Menikmati Kesendirian?
Berdasarkan hasil penggalian empiris tim peneliti, terdapat dua faktor utama yang membuat perempuan lajang jauh lebih tangguh dan bahagia dalam kesendiriannya dibandingkan pria:
-
Sistem Dukungan Sosial yang Intim - Ikatan sosial yang kuat adalah faktor pelindung utama dari stres dan kematian dini. Penelitian menunjukkan bahwa perempuan cenderung memiliki jaringan sosial yang lebih besar. Ketika menghabiskan waktu bersama sahabat, perempuan lebih sering terlibat dalam percakapan intim dan secara aktif menjaga hubungan melalui media sosial. Hal ini membuat perempuan lajang memiliki banyak sumber pilihan untuk dijadikan
'orang andalan'. Sebaliknya, pria heteroseksual cenderung bergantung secara eksklusif hanya pada istri atau pacar mereka untuk mendapatkan dukungan emosional. Ketika melajang, pria sering kali merasa terisolasi karena kesulitan mengekspresikan emosi dengan sesama teman pria. -
Kemandirian Finansial dan Beban Domestik - Bagi banyak perempuan, menjadi lajang dinilai jauh lebih baik daripada alternatif hubungan heteroseksual yang tidak seimbang. Dalam banyak kasus, perempuan dalam hubungan sering kali dibebani sebagian besar pekerjaan rumah tangga hingga membuat mereka merasa lebih seperti
'ibu'daripada kekasih bagi pasangan mereka. Ditambah lagi dengan fakta bahwa kenikmatan seksual perempuan kerap kali ditempatkan sebagai prioritas kedua. Seiring dengan kemajuan perempuan di tempat kerja dan kesetaraan upah yang makin baik, banyak perempuan yang akhirnya memilih opsi'tanpa kesepakatan'dalam hal memiliki pasangan. Status lajang dipandang sebagai ruang bebas hambatan dengan lebih sedikit kerepotan.
Pelajaran Berharga untuk Pria Jomblo: Menolak Kesepian Akut
Meskipun secara rata-rata orang yang memiliki pasangan melaporkan tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi daripada yang melajang, fenomena kebahagiaan perempuan lajang ini mengirimkan pesan penting bagi dunia psikologi modern.
Bagi para pria lajang yang saat ini terjebak dalam peningkatan tren kesepian global, pendekatan sosial kaum perempuan bisa menjadi cetak biru yang baik.
Alih-alih menghabiskan seluruh energi hanya untuk mengejar kesuksesan karier demi kepuasan finansial, pria lajang perlu mengarahkan perhatian mereka untuk merawat diri sendiri dan membangun koneksi emosional yang tulus.
Mulai dari hal sederhana seperti mengajak teman minum kopi hingga berani berbicara dengan terapis untuk menjaga kesehatan mental.
Sosiolog Elyakim Kislev dalam bukunya Happy Singlehood (2019) menegaskan bahwa kunci utama untuk menikmati kehidupan sendiri yang berkualitas adalah dengan memanfaatkan waktu dan kebebasan untuk terhubung dengan berbagai macam orang secara non-romantis. Karena pada akhirnya, meminjam kutipan dari Ross White:
"Tujuan hidupmu bukanlah sesuatu yang harus ditemukan, melainkan sesuatu yang kamu bentuk." (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko