Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Orang yang Sering Mengucapkan “Terima Kasih” kepada ChatGPT atau Siri Biasanya Memiliki Ciri Kepribadian Ini Menurut Psikologi

Hakam Alghivari • Selasa, 19 Mei 2026 | 19:11 WIB
Ilustrasi tiga perempuan tanpa interaksi, kecanduan sosial media.
Ilustrasi tiga perempuan tanpa interaksi, kecanduan sosial media.

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Di tengah perkembangan teknologi AI dan asisten virtual seperti ChatGPT atau Siri, muncul satu kebiasaan kecil yang cukup menarik. Sebagian orang tetap mengatakan “tolong”, “maaf”, atau “terima kasih” ketika berbicara dengan mesin.

Bagi sebagian orang, kebiasaan ini terasa lucu atau tidak perlu. Lagi pula, AI tidak benar-benar memiliki perasaan. Namun dalam psikologi sosial, cara seseorang memperlakukan sesuatu, bahkan yang bukan manusia, sering kali mencerminkan pola perilaku, kebiasaan emosional, dan karakter interpersonalnya.

Menariknya, sejumlah penelitian tentang human-computer interaction menunjukkan bahwa manusia cenderung tetap membawa norma sosial ke dalam interaksi digital. Otak manusia secara alami memperlakukan percakapan sebagai aktivitas sosial, bahkan ketika lawan bicaranya hanyalah suara virtual atau sistem AI.

Baca Juga: 8 Kebiasaan Orang Sukses Sebelum Jam 7 Pagi dan Rutinitas Mereka Setelah Jam 9 Malam Menurut Psikologi

Karena itu, orang yang terbiasa mengucapkan “terima kasih” kepada AI biasanya bukan sekadar bercanda. Ada kecenderungan psikologis tertentu yang cukup sering muncul di balik kebiasaan kecil tersebut.

Memiliki Kebiasaan Empati dalam Interaksi Sehari-hari

Orang yang secara spontan berkata “terima kasih” kepada AI biasanya terbiasa menjaga sopan santun dalam komunikasi sehari-hari.

Baca Juga: 7 Rahasia Kepribadian Orang yang Rajin Bilang Terima Kasih ke Pelayan

Dalam psikologi sosial, perilaku seperti ini sering berkaitan dengan habitual empathy, yaitu kebiasaan memperlakukan interaksi dengan rasa hormat secara otomatis, tanpa terlalu memilih kepada siapa perilaku itu diberikan.

Karena kebiasaan sosial sudah tertanam kuat, respons sopan tetap muncul bahkan ketika berbicara dengan mesin.

Bagi mereka, sopan santun bukan sekadar formalitas, tetapi bagian dari identitas diri.

Cenderung Memiliki Kesadaran Sosial yang Tinggi

Sebagian orang terbiasa menjaga nada bicara dan pilihan kata karena sadar bahwa cara berbicara memengaruhi kondisi emosional dirinya sendiri.

Psikologi menunjukkan bahwa perilaku komunikasi yang sopan dapat membantu menjaga regulasi emosi dan membentuk pola interaksi yang lebih tenang.

Akibatnya, orang yang tetap bersikap ramah kepada AI sering kali juga terbiasa menjaga sikap dalam hubungan sosial nyata.

Mereka tidak hanya memikirkan isi komunikasi, tetapi juga bagaimana komunikasi itu dilakukan.

Baca Juga: Orang Cerdas Sering Terlihat dari Kebiasaan Kecil Ini, Psikologi Menjelaskan Polanya

Tidak Nyaman Bersikap Kasar, Bahkan kepada Mesin

Menariknya, banyak orang mengaku merasa aneh jika harus berbicara terlalu kasar kepada AI meski tahu bahwa sistem tersebut tidak memiliki emosi.

Hal ini berkaitan dengan cognitive consistency, yaitu kebutuhan psikologis untuk menjaga perilaku tetap sesuai dengan nilai pribadi.

Jika seseorang terbiasa menghargai orang lain dalam kehidupan sehari-hari, otaknya cenderung merasa tidak nyaman ketika tiba-tiba berbicara kasar—even kepada teknologi.

Karena itu, mengucapkan “tolong” atau “terima kasih” terasa lebih natural bagi mereka.

Baca Juga: Psikologi Mengungkap Alasan di Balik Kebiasaan Perantau Jarang Menelepon Orang Rumah

Cenderung Memiliki Kepribadian Agreeableness yang Tinggi

Dalam teori Big Five Personality, ada satu dimensi kepribadian bernama agreeableness yang berkaitan dengan keramahan, empati, dan kecenderungan kooperatif.

Orang dengan tingkat agreeableness tinggi biasanya:

Psikologi menunjukkan bahwa kebiasaan kecil seperti penggunaan kata sopan sering menjadi refleksi dari trait kepribadian ini.

Karena itu, orang yang mengucapkan terima kasih kepada AI sering dipersepsikan lebih hangat secara sosial.

Menganggap Kebiasaan Kecil Membentuk Karakter

Sebagian orang percaya bahwa cara seseorang melakukan hal kecil akan memengaruhi kebiasaan besarnya.

Karena itu, mereka tetap menjaga cara berbicara bahkan dalam situasi yang tampak sepele.

Dalam behavioral psychology, kebiasaan yang diulang terus-menerus memang dapat memperkuat pola perilaku tertentu dalam kehidupan sehari-hari.

Akibatnya, menjaga tutur kata kepada AI kadang dipandang sebagai bagian dari menjaga karakter diri sendiri.

Baca Juga: Orang yang Benar-Benar Kaya Biasanya Memiliki Pola Kebiasaan Tertentu, Menurut Psikologi

Memiliki Imajinasi Sosial yang Lebih Aktif

Psikologi human-computer interaction menunjukkan bahwa manusia cenderung memberi sifat sosial pada teknologi yang responsif.

Ketika AI menjawab dengan gaya percakapan alami, otak manusia sering secara otomatis memperlakukan interaksi tersebut seperti komunikasi sosial biasa.

Karena itu, sebagian orang tanpa sadar merasa lebih nyaman berbicara secara sopan karena sistem AI terasa “seperti sedang berbicara dengan seseorang”.

Fenomena ini dikenal sebagai anthropomorphism, yaitu kecenderungan manusia memberi karakter manusiawi pada benda atau teknologi.

Tidak Selalu Serius, tetapi Tetap Reflektif

Sebagian orang memang mengucapkan terima kasih kepada AI hanya sebagai candaan ringan. Namun menariknya, banyak juga yang melakukannya karena merasa kebiasaan tersebut membuat interaksi terasa lebih nyaman dan manusiawi.

Dalam dunia yang semakin cepat dan digital, perilaku kecil seperti menjaga tutur kata kadang menjadi bentuk refleksi sederhana tentang bagaimana seseorang ingin memperlakukan dunia di sekitarnya.

Meski lawan bicaranya hanyalah mesin, kebiasaan itu tetap mencerminkan sesuatu tentang diri mereka sendiri.

Baca Juga: 7 Sisi Misterius Perempuan Berhati Mulia yang Membuat Siapa Pun Segan, Begini Analisis Psikologinya

Mengucapkan “terima kasih” kepada AI seperti ChatGPT atau Siri mungkin terlihat sepele, tetapi psikologi menunjukkan bahwa kebiasaan kecil sering mencerminkan pola kepribadian yang lebih dalam.

Mulai dari empati, kebiasaan menjaga sopan santun, kebutuhan menjaga konsistensi perilaku, hingga kecenderungan menghargai interaksi sosial, semuanya bisa terlihat dari cara seseorang berbicara, bahkan kepada teknologi.

Pada akhirnya, mungkin bukan soal apakah AI benar-benar membutuhkan ucapan terima kasih. Tetapi tentang seperti apa kebiasaan kecil itu membentuk cara seseorang berinteraksi dengan dunia. (kam/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#bilang terima kasih #kebiasaan #kepribadian #ChatGPT #ai