Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mengapa Pertemanan Semakin Sulit Dipertahankan Setelah Usia 25 Tahun? Psikologi Sosial Punya Jawabannya

Hakam Alghivari • Kamis, 14 Mei 2026 | 18:22 WIB
Ilustrasi pertemanan dewasa. (MAGNIFIC)
Ilustrasi pertemanan dewasa. (MAGNIFIC)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Ketika masih sekolah atau kuliah, pertemanan terasa terjadi secara alami. Kita bisa berbicara setiap hari, bertemu hampir tanpa direncanakan, bahkan merasa beberapa orang akan tetap dekat selamanya. Namun, memasuki usia dewasa pertengahan 20-an, banyak orang mulai menyadari sesuatu yang cukup mengejutkan: lingkar pertemanan perlahan mengecil.

Bukan karena ada konflik besar. Kadang justru tidak terjadi apa-apa. Obrolan hanya mulai jarang, balasan pesan semakin lama, lalu hubungan perlahan berubah menjadi sekadar masih saling mengikuti di media sosial.

Baca Juga: Pasangan Berubah Drastis Setelah Menikah? Jangan Panik, Ini Penjelasan Psikologisnya!

Fenomena ini ternyata cukup umum dalam psikologi sosial. Banyak penelitian menunjukkan bahwa mempertahankan pertemanan di usia dewasa memang jauh lebih sulit dibandingkan pada masa remaja atau awal kuliah. Perubahan prioritas hidup, energi mental, hingga dinamika emosional menjadi faktor yang ikut memengaruhi.

Dilansir dari berbagai studi psikologi sosial dan perilaku manusia, ada beberapa alasan mengapa pertemanan terasa semakin sulit dipertahankan setelah usia 25 tahun.

1. Hidup Tidak Lagi Memiliki “Ruang Sosial Otomatis”

Saat sekolah atau kuliah, manusia berada dalam lingkungan sosial yang stabil. Kita bertemu orang yang sama hampir setiap hari tanpa harus merencanakannya.

Psikologi sosial menyebut ini sebagai propinquity effect, yaitu kecenderungan manusia membangun kedekatan karena sering berada dalam ruang yang sama.

Masalahnya, setelah memasuki dunia kerja, pola itu mulai hilang. Jadwal hidup menjadi berbeda-beda. Ada yang sibuk bekerja, menikah, pindah kota, atau fokus membangun karier.

Pertemanan yang dulu terjadi secara otomatis kini membutuhkan usaha sadar untuk dipertahankan.

Baca Juga: 7 Alasan Psikologis Mengapa Orang 'Silent' di Media Sosial Bukan Anti-Sosial, Justru Lebih Bahagia!

2. Energi Sosial Semakin Terbatas

Semakin dewasa, banyak orang mulai menyadari bahwa energi mental mereka tidak sebanyak dulu.

Setelah bekerja seharian, menghadapi tekanan hidup, atau memikirkan stabilitas finansial, sebagian orang lebih memilih beristirahat daripada aktif bersosialisasi.

Dalam psikologi, kondisi ini berkaitan dengan social fatigue, yaitu kelelahan emosional akibat terlalu banyak interaksi sosial atau tekanan mental.

Akibatnya, bahkan membalas pesan pun terkadang terasa seperti tugas tambahan.

3. Prioritas Hidup Mulai Berubah

Di usia 20-an akhir, kehidupan mulai bergerak ke arah yang berbeda.

Ada yang fokus mengejar karier. Ada yang mulai membangun keluarga. Ada pula yang sedang berusaha memahami dirinya sendiri setelah melewati berbagai fase hidup.

Perbedaan prioritas ini perlahan memengaruhi intensitas hubungan.

Bukan berarti tidak saling peduli, tetapi ritme hidup yang tidak lagi sejalan membuat hubungan menjadi lebih sulit dijaga seperti dulu.

Baca Juga: 5 Rahasia Menjadi Jenius Tanpa Harus Begadang: Belajar Kilat, Hasil Hebat

4. Pertemanan Dewasa Membutuhkan Intentional Effort

Salah satu realitas yang sering mengejutkan adalah: pertemanan dewasa tidak bisa hanya mengandalkan “kedekatan alami”.

Hubungan harus dipelihara secara sengaja.

Mulai dari mengatur waktu bertemu, menghubungi lebih dulu, hingga menjaga komunikasi di tengah kesibukan.

Psikolog menyebut hubungan seperti ini membutuhkan intentional relationship maintenance, yaitu upaya sadar untuk menjaga koneksi sosial tetap hidup.

Tanpa usaha tersebut, hubungan biasanya perlahan merenggang meski tidak ada masalah apa pun.

5. Media Sosial Memberi Ilusi Kedekatan

Banyak orang merasa masih dekat dengan teman lama hanya karena masih melihat unggahan mereka setiap hari.

Padahal, melihat Instagram story atau memberi likes tidak selalu berarti hubungan emosional tetap terjaga.

Fenomena ini dikenal sebagai ambient intimacy, yaitu rasa dekat semu yang muncul karena kita terus menerima update kehidupan seseorang secara digital.

Akibatnya, banyak hubungan terlihat “masih ada”, tetapi sebenarnya sudah kehilangan kedalaman interaksi.

Baca Juga: Psikologi Mengungkap Empat Sikap yang Diam-Diam Dimiliki Orang Kaya

6. Semakin Dewasa, Orang Menjadi Lebih Selektif

Usia dewasa juga membuat banyak orang mulai memahami batas emosional mereka.

Mereka tidak lagi mempertahankan semua hubungan hanya demi takut sendirian atau tidak enak hati.

Dalam psikologi perkembangan, kondisi ini sering dikaitkan dengan emotional selectivity, yaitu kecenderungan memilih hubungan yang benar-benar memberi kenyamanan emosional.

Karena itu, lingkar sosial mungkin menjadi lebih kecil, tetapi sering kali terasa lebih tulus dan stabil.

7. Kesepian Dewasa Sering Tidak Terlihat

Menariknya, banyak orang dewasa terlihat tetap aktif secara sosial, tetapi diam-diam merasa kesepian.

Mereka bekerja, bertemu rekan setiap hari, bahkan aktif di media sosial, tetapi jarang memiliki ruang untuk benar-benar bercerita secara personal.

Fenomena ini semakin sering dibahas dalam studi tentang adult loneliness, terutama pada generasi muda di era digital.

Kesepian modern bukan selalu tentang tidak punya teman, melainkan tidak memiliki koneksi emosional yang terasa mendalam.

Baca Juga: Orang Cerdas Sering Terlihat dari Kebiasaan Kecil Ini, Psikologi Menjelaskan Polanya

Pertemanan yang berubah setelah usia 25 tahun bukan selalu tanda hubungan gagal atau orang-orang mulai tidak peduli. Dalam banyak kasus, itu adalah konsekuensi alami dari perubahan fase hidup, energi mental, dan prioritas manusia yang terus berkembang.

Psikologi sosial menunjukkan bahwa menjaga pertemanan di usia dewasa memang membutuhkan usaha yang lebih sadar dibandingkan sebelumnya. Karena itu, hubungan yang tetap bertahan sering kali bukan yang paling ramai, tetapi yang sama-sama mau meluangkan ruang di tengah kehidupan yang semakin sibuk. (kam/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#Sosial #psikologi #dewasa #pertemanan