Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Orang yang Suka Memendam Masalah Sendiri Memiliki Pola Kemandirian Emosional Unik Menurut Psikologi

Bhagas Dani Purwoko • Selasa, 3 Februari 2026 | 23:00 WIB

NGOBROL: Kebiasaan memendam masalah.
NGOBROL: Kebiasaan memendam masalah.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa ada anak yang begitu irit bicara saat ditanya, "Gimana harimu tadi?" atau "Ada masalah apa?". Alih-alih menumpahkan keluh kesah, mereka hanya menjawab singkat, "Aman," atau "Biasa aja," lalu masuk kamar dan menyelesaikan masalahnya sendiri.

Bagi orang tua, sikap ini sering disalahartikan sebagai ketidakpedulian, pemberontakan, atau tanda bahwa hubungan sedang retak. Namun, dunia psikologi melihat fenomena ini dari kacamata yang berbeda. Anak yang jarang curhat bukan berarti tidak sayang. Justru, mereka sering kali memiliki pola psikologis tertentu yang disebut sebagai Kemandirian Emosional atau dalam beberapa kasus mengarah pada Hyper-Independence.

Apa yang sebenarnya terjadi di balik diamnya mereka? Berikut adalah penjelasan psikologis mengapa seseorang lebih memilih memendam masalah daripada berbagi dengan orang tua.

1. Terbentuknya Pola Hyper-Independence

Dalam psikologi, hyper-independence adalah respons trauma atau mekanisme pertahanan diri di mana seseorang merasa harus melakukan segala sesuatunya sendirian. Orang dengan pola ini beranggapan bahwa meminta bantuan atau curhat adalah tanda kelemahan.

Baca Juga: Orang yang Sering Merasa Lelah setelah Bersosialisasi, Psikologi Menyebutnya Begini

Pola ini tidak muncul tiba-tiba. Biasanya, ini terbentuk karena di masa lalu, ketika mereka mencoba terbuka, respons yang diterima tidak memuaskan. Mungkin mereka pernah dibilang "cengeng", "begitu saja kok nangis", atau perasaan mereka divalidasi dengan kalimat "ah, itu masalah sepele".

Akibatnya, otak mereka memprogram ulang sebuah keyakinan: "Satu-satunya orang yang bisa mengerti dan menyelamatkan aku adalah diriku sendiri."

2. Gaya Kelekatan Menghindar (Avoidant Attachment Style)

Teori kelekatan (attachment theory) yang dikembangkan oleh psikolog John Bowlby dan Mary Ainsworth menjelaskan banyak hal tentang ini. Anak yang jarang curhat sering kali memiliki gaya kelekatan Avoidant (Menghindar).

Baca Juga: Orang yang Hobi Kirim Voice Note Ternyata Punya Kebutuhan Emosional Khusus Menurut Psikologi

Mereka yang memiliki gaya ini cenderung menjaga jarak emosional untuk melindungi diri sendiri. Mereka bukannya tidak punya perasaan, justru mereka merasakan emosi dengan sangat dalam. Namun, mereka belajar menekan kebutuhan akan kedekatan emosional karena takut akan penolakan atau takut terlihat rentan (vulnerable) di depan figur otoritas (orang tua). Bagi mereka, memendam masalah terasa lebih aman daripada mengambil risiko dihakimi.

3. Niat Melindungi Orang Tua (Parentification)

Ini adalah alasan yang paling sering luput dari perhatian. Banyak anak dewasa muda memilih diam bukan karena benci, tapi karena terlalu peduli.

Dalam psikologi, ada dinamika di mana anak merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang tuanya. Mereka melihat orang tua mereka sudah lelah bekerja, punya banyak beban pikiran, atau mungkin sedang sakit. Si anak berpikir, "Kalau aku cerita masalahku, beban Mama/Papa bakal nambah. Biar aku telan sendiri saja."

Baca Juga: Orang yang Lebih Mudah Fokus Bekerja di Coffee Shop daripada di Rumah Biasanya Memiliki Pola Psikologis Tertentu

Mereka menjadi "mandiri secara paksa" demi menjaga ketenangan rumah. Ini adalah bentuk cinta yang sunyi, meskipun secara mental cukup membebani si anak.

4. Pemrosesan Internal (Internal Processing)

Tidak semua diam itu trauma. Ada faktor kepribadian yang berperan. Menurut teori kepribadian (seperti dalam MBTI atau Big Five Personality), tipe kepribadian introvert cenderung melakukan pemrosesan masalah secara internal (internal processing).

Berbeda dengan orang yang harus bicara agar lega (external processor), tipe ini butuh waktu hening untuk mengurai benang kusut di kepalanya. Memaksa mereka curhat saat masalah baru terjadi justru akan membuat mereka menarik diri (shutdown). Mereka baru akan bicara ketika solusi sudah ditemukan, bukan saat masalah sedang memanas.

Bagaimana Menyikapinya?

Jika Anda adalah orang tua yang menghadapi anak seperti ini, atau Anda adalah anak yang mengalami ini, pahamilah bahwa pola ini bisa diubah menjadi hubungan yang lebih sehat tanpa menghapus kemandirian tersebut.

Baca Juga: Orang yang Terlihat Tenang Saat Sendirian, Sering Kali Memiliki Pola Psikologis Tertentu Menurut Psikologi

Psikolog menyarankan pendekatan low-stakes connection. Jangan langsung bertanya masalah berat. Mulailah obrolan dari hal-hal remeh yang tidak menuntut keterbukaan emosional.

Penting diingat: Diamnya seseorang yang mandiri secara emosional adalah benteng pertahanan mereka, bukan serangan kepada orang lain. Menghargai ruang (space) mereka sering kali menjadi kunci pembuka pintu hati yang paling efektif.

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#memendam masalah #kemandirian #psikologi #karakter #kepribadian #orang tua #Emosional