RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pernahkah Anda melihat sudut rumah yang penuh dengan tumpukan koran lama, kardus bekas belanja online, hingga baju yang sudah tidak muat namun tetap disimpan dengan alasan "siapa tahu nanti dipakai"?
Kebiasaan menumpuk barang sering kali dianggap remeh sebagai bentuk penghematan atau sekadar sifat berantakan.
Namun, dalam kacamata psikologi, setiap barang yang kita pertahankan meski sudah tidak berfungsi ternyata menyimpan cerita tentang kondisi kesehatan mental dan keterikatan emosional kita.
Mari kita bedah mengapa melepaskan sebuah barang lama bisa terasa seberat melepaskan kenangan, dan kapan kebiasaan ini mulai mengkhawatirkan.
1. Barang sebagai "Jangkar" Kenangan
Bagi banyak orang, barang bukan sekadar benda mati. Psikologi menyebut adanya keterikatan emosional yang kuat atau emotional attachment.
Barang lama sering kali dianggap sebagai saksi bisu perjalanan hidup. Membuang sepatu usang dari zaman kuliah, misalnya, terasa seperti membuang sebagian memori masa muda kita.
Dalam hal ini, menumpuk barang adalah cara bawah sadar seseorang untuk mempertahankan identitas diri dan rasa aman dari masa lalu. Ada kecenderungan meromantisasi masa lalu sebagai upaya defense mechanism.
2. Ketakutan akan Masa Depan (Rasa Tidak Aman)
Pola pikir "Siapa tahu nanti butuh" adalah pemicu utama seseorang gemar menumpuk barang. Secara psikologis, ini berakar dari rasa tidak aman (insecurity) atau trauma masa lalu terkait kekurangan materi.
Mereka merasa bahwa membuang sesuatu yang "mungkin" berguna di masa depan adalah tindakan yang berisiko.
Menumpuk barang menjadi mekanisme pertahanan diri untuk memastikan bahwa mereka selalu "siap" menghadapi segala situasi, meskipun kenyataannya barang tersebut hanya akan berdebu di gudang.
3. Kesulitan Mengambil Keputusan
Tahukah Anda bahwa aktivitas membuang barang sebenarnya adalah proses pengambilan keputusan yang intens?
Menurut studi yang dirilis dalam Biological Psychiatry, orang yang memiliki kecenderungan menumpuk barang secara berlebihan sering kali mengalami kesulitan dalam memproses informasi dan membuat keputusan cepat.
Memilah barang mana yang harus dibuang dan mana yang disimpan memicu kecemasan. Akhirnya, otak memilih jalan pintas yang paling aman: simpan semuanya.
4. Masa Lalu yang Serba Kekurangan
Terkadang orang yang sering menumpuk barang itu di masa lalunya serba kekurangan. Karena itu, aktivitas membuang-buang barang itu seolah seperti perbuatan berdosa. Takut dianggap sebagai orang yang menyia-nyiakan barang.
Sehingga, tak jarang orang yang punya kebiasaan menumpuk barang ini menyediakan beberapa ruangan sebagai gudang di dalam rumah. Akhirnya, isi gudang semakin penuh dan tak terawat.
Kapan Kebiasaan Menumpuk Barang Menjadi Hoarding Disorder?
Kita perlu membedakan antara "kolektor" dengan "hoarder". Seorang kolektor mengumpulkan barang secara rapi dan sistematis. Sebaliknya, kebiasaan menumpuk barang mulai mengarah ke gangguan jika:
Baca Juga: Orang yang Terlihat Bahagia Justru Paling Berisiko Alami 'Smiling Depression' Menurut Psikologi
-
Tumpukan barang mulai mengganggu fungsi ruangan (misal: kasur tidak bisa ditiduri karena penuh barang).
-
Muncul rasa cemas atau kemarahan yang hebat saat orang lain mencoba merapikan barang tersebut.
-
Menimbulkan masalah kebersihan dan hubungan sosial dengan keluarga.
Tips Memutus Rantai Menumpuk Barang
Jika Anda merasa sudah mulai kewalahan dengan tumpukan barang di rumah, berikut adalah langkah kecil yang disarankan para ahli:
-
Gunakan Aturan 6 Bulan: Jika barang tersebut tidak Anda sentuh atau lihat selama 6 bulan terakhir, besar kemungkinan Anda tidak membutuhkannya di masa depan.
-
Foto sebagai Kenangan: Jika merasa sayang membuang barang karena kenangannya, ambillah foto barang tersebut sebagai arsip digital, lalu relakan fisiknya untuk didaur ulang atau didonasikan.
-
Metode KonMari: Tanyakan pada diri sendiri, "Apakah barang ini memberikan kebahagiaan (spark joy)?" Jika tidak, ucapkan terima kasih dan lepaskan.
Kesimpulan
Rumah yang lega adalah cerminan pikiran yang lapang. Dengan mengurangi kebiasaan menumpuk barang, kita memberikan ruang bagi energi baru untuk masuk ke dalam hidup kita.
Ingat, kebahagiaan kita tidak ditentukan oleh seberapa banyak benda yang kita miliki, melainkan oleh ketenangan batin yang kita rasakan. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko