Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Anak yang Selalu Dibandingkan dengan “Anak Lain” Tumbuh Tanpa Pernah Memiliki Ukuran Dirinya Sendiri, Menurut Psikologi

Hakam Alghivari • Rabu, 28 Januari 2026 | 22:00 WIB

 

Ilustrasi orang tua yang terlalu fokus pada gadget masing-masing, dan tidak memedulikan anak
Ilustrasi orang tua yang terlalu fokus pada gadget masing-masing, dan tidak memedulikan anak

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Ada anak-anak tumbuh dengan kalimat yang sama, diucapkan berulang kali, dalam versi yang berbeda-beda.

Kadang terdengar ringan, kadang bernada bercanda, kadang diselipkan saat makan malam, kadang muncul di tengah obrolan keluarga besar.

“Coba lihat anak itu.”
“Harusnya kamu bisa seperti dia.”
“Temanmu saja bisa, masa kamu tidak?”

Kalimat-kalimat ini jarang diucapkan dengan niat melukai. Ia sering dibungkus sebagai motivasi, dorongan, bahkan bentuk kepedulian. Namun justru karena ia datang dari orang-orang terdekat, perbandingan itu tidak pernah benar-benar berlalu. Ia menetap. Diam-diam membentuk cara anak tersebut memandang dirinya sendiri.

Anak itu belajar sejak dini bahwa dirinya bukan sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan sesuatu yang selalu harus disejajarkan. Nilainya tidak muncul dari apa yang ia rasakan, pikirkan, atau usahakan, tetapi dari posisinya relatif terhadap orang lain.

Psikologi menyebut ini bukan sebagai trauma tunggal, melainkan pola pembentukan nilai diri dari luar, sebuah proses sunyi yang efeknya baru terasa bertahun-tahun kemudian.

1. Anak Belajar Mengenal Diri Lewat Cermin Orang Lain

Dalam keluarga yang penuh perbandingan, anak jarang ditanya, “Kamu merasa cukup atau tidak?”
Yang lebih sering terdengar adalah, “Kenapa kamu belum sampai seperti mereka?”

Akibatnya, anak tidak belajar mengenali sinyal internalnya sendiri. Ia tidak terbiasa menilai usaha, batas lelah, atau kebutuhannya. Yang ia kenali hanyalah hasil akhir, dan hasil itu pun selalu dibandingkan.

Menurut psikologi perkembangan, anak yang tumbuh dalam pola ini akan kesulitan membentuk self-referenced evaluation, yaitu kemampuan menilai diri berdasarkan standar internal. Yang terbentuk justru other-referenced self-worth: harga diri yang hanya hidup jika ada pembanding.

2. Prestasi Tidak Lagi Memberi Kepuasan, Hanya Kelegaan Sementara

Ketika anak seperti ini berhasil, reaksinya jarang berupa bangga.
Yang muncul justru lega.

Lega karena:

Namun kelegaan bukan kepuasan. Ia cepat menguap. Karena standar akan selalu bergeser, pembanding akan selalu berubah, dan selalu ada “anak lain” yang lebih.

Di masa dewasa, pola ini sering muncul dalam bentuk ambisi tanpa rasa cukup. Bukan karena orang tersebut serakah, tetapi karena tidak pernah belajar kapan berhenti menilai dirinya sebagai kurang.

3. Kesalahan Kecil Terasa Seperti Bukti Kegagalan Diri

Anak yang terbiasa dibandingkan tidak memandang kesalahan sebagai proses belajar.
Kesalahan terasa seperti konfirmasi: “Memang aku bukan yang terbaik.”

Dalam psikologi kognitif, ini berkaitan dengan conditional self-worth—nilai diri yang hanya berlaku jika syarat tertentu terpenuhi. Ketika syarat itu gagal, bukan hanya perilaku yang dikritik, tetapi eksistensi diri ikut runtuh.

Inilah mengapa orang dewasa dengan latar belakang ini sering:

4. Mereka Terlihat Kompetitif, Padahal Sebenarnya Cemas

Dari luar, anak yang sering dibandingkan bisa tumbuh menjadi pribadi yang kompetitif, ambisius, bahkan perfeksionis. Namun di balik itu, ada kecemasan laten: takut tertinggal, takut tidak cukup, takut kehilangan posisi.

Kompetisi bagi mereka bukan permainan sehat, melainkan mekanisme bertahan hidup emosional. Menang berarti aman. Kalah berarti ancaman terhadap nilai diri.

Psikologi memandang ini sebagai dampak jangka panjang dari lingkungan yang menjadikan perbandingan sebagai bahasa utama kasih sayang dan penerimaan.

5. Dewasa dengan Identitas yang Selalu Bertanya ke Luar

Saat dewasa, pertanyaan batin mereka jarang berbunyi, “Apa yang aku inginkan?”
Yang lebih sering muncul adalah:

Sayangnya, semua pertanyaan itu membutuhkan validasi eksternal. Tanpa penonton, tanpa pembanding, tanpa penilaian orang lain, mereka merasa kosong.

Bukan karena tidak punya kemampuan, tetapi karena sejak kecil tidak pernah diajari cara merasa cukup tanpa membandingkan diri.

 

Psikologi tidak menyebut anak yang sering dibandingkan sebagai anak yang lemah.
Ia justru sering tumbuh menjadi pribadi yang kuat, tahan banting, dan berprestasi.

Namun kekuatan itu dibangun di atas satu kehilangan sunyi, kehilangan hak untuk menilai diri sendiri dengan tenang.

Dan itulah sebabnya, banyak orang dewasa tampak berhasil di mata orang lain, tetapi tetap merasa kurang di hadapan dirinya sendiri, karena sejak kecil, nilai dirinya selalu ditentukan dari luar, bukan tumbuh dari dalam. (kam/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#psikologi #anak #ukuran #Dibandingkan #kepribadian #orang tua #diri