RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Seringkali kita mendengar nasihat orang tua, "Jadilah orang baik, nanti hidupmu tenang." Nasihat ini terdengar klise dan normatif. Namun, tahukah Anda bahwa di balik tindakan sederhana seperti menahan pintu lift untuk orang asing atau memberi makan kucing jalanan, tubuh Anda sedang melakukan "pesta kimiawi" yang luar biasa?
Sama halnya dengan orang yang suka menumpuk barang yang memiliki pola psikologis tertentu, orang yang secara tulus suka berbuat baik juga memiliki profil biologis dan psikologis yang unik.
Kebaikan (kindness) bukan hanya soal moralitas atau pahala. Riset ilmiah modern membuktikan bahwa menjadi orang baik adalah strategi bertahan hidup yang paling canggih bagi manusia. Berikut adalah penjelasan ilmiah mengapa orang berhati baik sering kali terlihat lebih bahagia dan awet muda.
1. Sering Mengalami Fenomena "Helper’s High"
Pernahkah Anda merasa ada sensasi hangat di dada dan perasaan lega yang membahagiakan setelah menolong seseorang, meskipun itu hanya hal kecil? Dalam dunia psikologi, sensasi itu nyata dan punya nama: Helper's High.
Istilah yang dipopulerkan oleh Allan Luks (penulis buku The Healing Power of Doing Good) ini menjelaskan bahwa saat Anda berbuat baik:
-
Otak Melepaskan Dopamin: Ini adalah hormon yang sama yang muncul saat Anda makan cokelat lezat atau memenangkan hadiah. Otak memberikan "hadiah" berupa rasa nikmat agar Anda mau mengulangi perbuatan baik itu.
-
Banjir Endorfin: Kebaikan memicu obat penghilang rasa sakit alami tubuh, memberikan efek tenang yang instan.
Jadi, orang yang berhati baik sebenarnya adalah orang yang "kecanduan" pada kebahagiaan alami ini. Mereka tidak menolong untuk dipuji, tapi karena otak mereka memang rewired (terhubung ulang) untuk merasa nyaman saat berguna bagi orang lain.
2. Memiliki Jantung yang Lebih Kuat (Secara Harfiah)
Ungkapan "berhati emas" atau "berhati besar" ternyata punya korelasi medis. Orang yang ramah dan penuh kasih sayang cenderung memiliki kesehatan kardiovaskular yang lebih baik.
Dr. David Hamilton, seorang penulis sains dan ahli kimia organik, menjelaskan mekanisme unik ini:
-
Produksi Oksitosin: Saat kita bersikap hangat atau memeluk seseorang, tubuh memproduksi oksitosin (hormon cinta).
-
Efek ke Jantung: Oksitosin memicu pelepasan Nitric Oxide di pembuluh darah. Zat ini berfungsi melebarkan pembuluh darah, sehingga tekanan darah turun.
Secara harfiah, bersikap baik adalah obat anti-hipertensi gratis. Orang yang berhati baik melindungi jantung mereka sendiri setiap kali mereka melindungi perasaan orang lain.
3. Memiliki "Saraf Vagus" yang Sangat Aktif
Ini adalah bagian yang paling menarik dari riset Dacher Keltner, seorang profesor psikologi dari University of California, Berkeley.
Baca Juga: Orang yang Tidak Menikmati Gosip Ternyata Menunjukkan Kekuatan Karakter Tertentu, Menurut Psikologi
Ia menemukan bahwa orang yang welas asih memiliki Vagus Nerve (saraf pengelana yang mengatur organ dalam) yang sangat aktif.
-
Anti-Peradangan: Aktivitas saraf vagus yang tinggi berkaitan dengan rendahnya tingkat peradangan (inflamasi) dalam tubuh.
-
Koneksi Wajah-Hati: Saraf ini juga terhubung ke otot-otot wajah. Itulah sebabnya orang yang tulus biasanya memiliki sorot mata yang teduh dan senyum yang terasa "nyata" (bukan senyum palsu), membuat orang lain merasa aman di dekat mereka.
Orang dengan saraf vagus aktif juga terbukti lebih tangguh (resilient) saat menghadapi stres berat. Mereka tidak mudah ambruk karena memiliki bantalan emosional yang kuat.
Catatan Penting: Beda "Baik" dan "People Pleaser"
Psikologi membedakan dengan tegas antara Orang Baik (Kind) dan People Pleaser (Penyenang Orang Lain).
Baca Juga: Orang yang Jarang Membahas Penghasilannya Biasanya Memiliki Hubungan Finansial yang Lebih Sehat
-
Orang Baik: Menolong karena ingin dan mampu. Mereka punya batasan yang sehat.
-
People Pleaser: Menolong karena takut ditolak atau takut konflik. Ini justru memicu stres.
Artikel ini membahas kategori pertama, kebaikan yang tulus dan berdaya.
Kesimpulan
Menjadi orang yang berhati baik bukan berarti Anda lemah atau naif. Justru, itu menunjukkan bahwa Anda memiliki sistem biologi yang optimal. Kebaikan adalah "vitamin" bagi jiwa dan raga yang membuat Anda hidup lebih sehat, lebih tenang, dan tentu saja, lebih bahagia.
Sudahkah Anda berbuat satu kebaikan kecil hari ini? (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko