RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Tidak semua orang tertarik pada yang serba baru. Di tengah budaya konsumsi yang cepat dan tren yang terus berganti, ada sebagian orang yang justru merasa lebih nyaman dikelilingi barang lawas atau antik, gaya vintage, atau benda-benda bernuansa masa lalu.
Bagi mereka, jam tangan tua, kamera analog, perabot kayu lama, piring enamel, atau musik dari era tertentu bukan sekadar estetika. Ada rasa tenang, akrab, dan “pulang” yang sulit dijelaskan ketika bersentuhan dengan hal-hal tersebut.
Dalam psikologi kepribadian, ketertarikan pada barang lawas tidak dipandang sebagai sikap ketinggalan zaman. Sebaliknya, ia sering berkaitan dengan cara seseorang memaknai waktu, identitas diri, dan pengalaman hidup.
Psikologi melihat preferensi ini sebagai ekspresi internal, bukan sekadar selera visual.
1. Memiliki Keterhubungan Emosional dengan Masa Lalu
Orang yang menyukai barang lawas umumnya memiliki hubungan emosional yang kuat dengan memori. Psikologi menyebutnya sebagai nostalgia proneness, yakni kecenderungan untuk merasakan kenyamanan dari ingatan masa lalu.
Barang-barang vintage sering berfungsi sebagai jembatan emosional, menghubungkan seseorang dengan fase hidup, cerita keluarga, atau masa ketika hidup terasa lebih sederhana.
Kepribadian dengan ciri ini biasanya:
-
reflektif dan penuh ingatan,
-
menghargai proses, bukan hanya hasil,
-
sensitif terhadap makna simbolik.
Nostalgia di sini bukan berarti terjebak masa lalu, melainkan menggunakan ingatan sebagai sumber stabilitas emosional.
2. Tidak Terlalu Terikat pada Tren dan Validasi Sosial
Psikologi kepribadian mencatat bahwa orang yang nyaman dengan gaya lawas cenderung memiliki internal value orientation yang kuat. Artinya, mereka tidak terlalu bergantung pada pengakuan eksternal untuk menentukan selera atau identitas.
Saat banyak orang mengejar yang sedang viral, mereka justru tenang dengan pilihan yang sudah “tidak zaman”. Ini bukan bentuk perlawanan, melainkan ketidakterikatan.
Ciri yang sering muncul:
-
mandiri secara psikologis,
-
tidak mudah terpengaruh tren,
-
percaya pada preferensi pribadi.
Mereka merasa tidak perlu membuktikan apa pun melalui penampilan atau barang baru.
3. Menghargai Ketahanan dan Cerita di Balik Benda
Barang lawas sering kali tidak sempurna. Ada goresan, warna pudar, atau bekas usia. Menariknya, justru di situlah daya tariknya.
Dalam psikologi, ketertarikan ini berkaitan dengan appreciation of imperfection—kemampuan melihat nilai dalam sesuatu yang tidak mulus.
Orang dengan kecenderungan ini biasanya:
-
sabar dan tidak tergesa,
-
menerima perubahan sebagai bagian hidup,
-
tidak obsesif terhadap kesempurnaan.
Mereka lebih tertarik pada cerita di balik benda, bukan kilap luarnya.
4. Cenderung Berpikir Mendalam dan Kontemplatif
Preferensi terhadap gaya lama sering sejalan dengan pola pikir yang lambat dan mendalam. Psikologi kognitif menyebutnya sebagai deep processing style.
Alih-alih menyerap informasi secara cepat dan dangkal, mereka menikmati proses memahami, meresapi, dan menghubungkan makna.
Kepribadian ini biasanya:
-
suka merenung,
-
nyaman dengan kesunyian,
-
menikmati aktivitas analog seperti membaca buku fisik atau menulis tangan.
Barang lawas menjadi ekstensi dari ritme berpikir mereka yang tidak tergesa.
5. Mencari Rasa Aman dalam Stabilitas
Di dunia yang berubah cepat, barang vintage menghadirkan sensasi stabil. Psikologi melihat ini sebagai kebutuhan akan emotional grounding—rasa berpijak yang memberi ketenangan.
Orang dengan pengalaman hidup yang penuh perubahan atau ketidakpastian sering kali menemukan rasa aman dalam hal-hal yang terasa “tetap”.
Ciri ini sering muncul pada individu yang:
-
adaptif, tetapi butuh jangkar emosional,
-
menghargai kontinuitas,
-
tidak nyaman dengan perubahan mendadak.
Barang lawas berfungsi sebagai penyeimbang psikologis.
6. Bukan Tanda Menolak Kemajuan
Perlu ditegaskan, menyukai gaya lama bukan berarti anti-modern atau menolak teknologi. Banyak orang dengan preferensi vintage justru sangat adaptif secara intelektual.
Psikologi memandangnya sebagai preferensi estetika dan emosional, bukan penolakan terhadap masa kini.
Selama seseorang tetap fungsional, terbuka pada realitas, dan mampu beradaptasi, ketertarikan pada barang lawas berada dalam spektrum kepribadian yang sehat.
7. Apa yang Bisa Dipahami dari Preferensi Ini
Alih-alih menilai sebagai aneh atau tidak relevan, psikologi mengajak melihat preferensi terhadap barang lawas sebagai sinyal.
Sinyal bahwa seseorang mungkin:
-
menghargai makna lebih dari kecepatan,
-
membutuhkan koneksi emosional yang stabil,
-
memiliki identitas diri yang tidak mudah goyah.
Orang yang menyukai barang vintage sering kali bukan orang yang tertinggal, melainkan orang yang memilih berjalan dengan ritme sendiri.
Psikologi tidak menuntut semua orang mencintai yang baru. Yang penting adalah kesadaran: memahami mengapa sesuatu memberi rasa nyaman, dan bagaimana itu membantu seseorang menjalani hidup dengan lebih utuh.
Karena pada akhirnya, yang membuat seseorang terlihat matang bukan seberapa cepat ia mengikuti zaman, melainkan seberapa dalam ia memahami dirinya sendiri. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari