RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Koordinator Aliansi Peduli Perempuan dan Anak (APPA) Bojonegoro Nafidatul Hima menilai, fenomena perempuan yang mendominasi ASN di Bojonegoro ini bagus. Menandakan bahwa angka kesadaran perempuan untuk berperan dalam publik sudah mulai diakui.
‘’Perempuan berani dan sadar, bahwa bisa berkarya atau beraktivitas di ranah publik. Sama dengan laki-laki,’’ ujarnya. Namun, menurutnya, harus dilihat dulu, jumlah laki-laki dan perempuan yang bekerja lebih banyak mana. Jika memang banyak perempuan, maka hal tersebut wajar terjadi.
Sehingga, perlu melihat besar angka produktif antara laki-laki dan perempuan di Bojonegoro. Di balik catatan positif tersebut, Hima menyampaikan, adanya potensi persoalan di ranah domestik. Utamanya pada ASN perempuan yang telah berkeluarga.
Beban ganda kerap menghantui. Tapi, hal tersebut kembali kepada individu masing-masing. Mengingat, dalam rumah tangga, laki-laki dan perempuan memiliki peran sama dalam mendidik anak maupun mengerjakan pekerjaan rumah.
‘’Kadang orang melihat, kalau perempuan bekerja, sudah pasti terjadi perceraian. Padahal perceraian terjadi karena banyak sebab. Misal, suami bekerja dan tidak membantu pekerjaan rumah, hal itu kan timpang, karena beban ganda masih terjadi. Akhirnya, karena sibuk, komunikasi kurang. Namun, kembali lagi pada masing-masing individu,’’ bebernya.
Terkait anggapan, bahwa jika perempuan bekerja, maka anak telantar. Hima menilai, hal tersebut tidak menjamin akan terjadi. Tergantung komunikasi antara suami istri, juga sistem asuh yang diterapkan.
‘’Bukan karena perempuan bekerja, anak telantar. Tidak, karena kembali lagi, bagaimana kesadaran suami. Karena memiliki tanggung jawab yang sama untuk mendidik anak,’’ tambahnya.
Dia melanjutkan, budaya mengurus anak dan rumah merupakan tugas perempuan, harus ditekan bersama. Agar anggapan perempuan bekerja, tidak menjadi hal negatif. Berbeda dengan fenomena, perempuan bekerja, suami menganggur di rumah.
Hal seperti ini yang menjadi masalah. Karena perempuan yang harusnya menjadi tulang rusuk, malah menjadi tulang punggung. Hal ini juga dapat menyumbang angka perceraian serta kekerasan
‘’Jadi, kalau banyak ASN perempuan, tidak banyak negatifnya juga,’’ ujarnya. Perempuan yang juga menjabat sebagai Presidium Wilayah Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Jawa Timur tersebut berharap, jika perempuan bekerja di ranah publik, bisa benar-benar sesuai pada role pekerjaannya.
Bisa diakui, tidak lupa, dan tidak jemawa. Juga, bisa menyadarkan, bahwa perempuan dapat bekerja di ranah publik dan ranah keluarga menjadi urusan bersama. Karena mereka bekerja bukan dilihat dari jenis kelamin. Melainkan, sesama manusia, jadi punya ranah yang sama.
‘’Harapannya laki-laki bisa mengerti, kalau istri bekerja. Jadi, tidak menuntut perempuan bisa melakukan pekerjaan rumah sama seperti full ibu rumah tangga (IRT) misalnya. Bahkan, perempuan sebagai IRT juga harus imbang, urusan rumah dan anak itu juga pekerjaan suami. Bukan istri saja. Kalau menafkahi itu wajib untuk suami,’’ pungkasnya. (ewi/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana