Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Musuh Kreativitas: Kenapa Generasi Sekarang Cepat Bosan dan Terjebak dalam Siklus Scrolling Dopamin di Smartphone

Hakam Alghivari • Selasa, 28 Oktober 2025 | 03:46 WIB
Ilustrasi tiga perempuan tanpa interaksi, kecanduan sosial media.
Ilustrasi tiga perempuan tanpa interaksi, kecanduan sosial media.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Perilaku generasi muda masa kini ditandai dengan ketidakmampuan mentoleransi rasa bosan akibat lingkungan digital yang terlalu stimulatif. Fenomena ini disebut Boredom Intolerance, yakni kondisi ketika seseorang merasa tidak nyaman hanya dalam beberapa detik tanpa rangsangan eksternal.

Rasa bosan yang seharusnya menjadi ruang bagi refleksi diri kini digantikan oleh dorongan untuk segera membuka smartphone, menonton video singkat, atau memeriksa notifikasi media sosial.

Siklus ini membentuk loop perilaku yang dikendalikan oleh reward dopamin, menciptakan kebiasaan yang menyenangkan tetapi menguras kemampuan fokus dan kreativitas.

1. Intoleransi Rasa Bosan dan Krisis Regulasi Emosional

Dalam konteks psikologi klinis, Boredom Intolerance dijelaskan sebagai ketidakmampuan menahan pengalaman emosional negatif yang muncul saat tidak ada stimulus menarik.

Menurut studi yang dipublikasikan oleh Journal of Behavior Therapy and Experimental Psychiatry (2016), individu dengan tingkat intoleransi bosan yang tinggi menunjukkan self-regulation rendah dan kecenderungan mencari kepuasan instan.

Generasi digital yang sejak kecil terbiasa dengan hiburan instan tidak lagi melatih “otot psikologis” untuk menghadapi kesunyian. Begitu muncul rasa hampa, tangan otomatis menggenggam ponsel, menggulir layar tanpa tujuan jelas. Tindakan ini menjadi mekanisme pelarian yang menenangkan sesaat tetapi menghambat kemampuan reflektif.

Padahal, seperti dijelaskan oleh psikolog James Danckert dari University of Waterloo, rasa bosan berfungsi sebagai “alarm mental” yang mendorong seseorang untuk berinovasi dan mengeksplorasi. Ketika alarm ini terus dipadamkan oleh distraksi digital, potensi kreatif terhenti di titik awal.

2. Peran Sistem Reward Dopamin dan Algoritma Media Sosial

Secara neuropsikologis, perilaku scrolling tanpa henti dapat dijelaskan melalui Sistem Reward Dopamin. Dopamin adalah zat kimia otak yang berperan dalam mengatur rasa senang, motivasi, dan pembelajaran kebiasaan.

Riset di Frontiers in Human Neuroscience (2025) menunjukkan bahwa setiap kali seseorang menemukan konten baru atau menerima like, otak melepaskan dopamin dalam jumlah kecil tetapi berulang. Pola ini mirip dengan mekanisme mesin slot, di mana hadiah yang datang secara acak justru meningkatkan rasa candu.

Siklusnya sederhana namun mematikan produktivitas:

  1. Pemicu (Cue): Rasa bosan muncul.

  2. Keinginan (Craving): Otak mencari lonjakan dopamin lewat notifikasi.

  3. Hadiah (Reward): Rasa senang sesaat muncul, menenangkan kecemasan.

Otak kemudian belajar bahwa setiap kali bosan, ponsel adalah jalan keluar tercepat. Akibatnya, kemampuan untuk menikmati proses panjang atau fokus mendalam menurun. Studi ScienceDirect (2023) bahkan mencatat bahwa kebiasaan scrolling berlebihan menurunkan durasi perhatian rata-rata manusia hingga 8 detik, lebih pendek dari seekor ikan mas.

3. Dampak Jangka Panjang terhadap Kepribadian

Ketergantungan terhadap stimulus cepat tidak hanya mengubah pola perhatian, tetapi juga mempengaruhi struktur kepribadian dan cara berpikir jangka panjang.

A. Penurunan Kreativitas Divergen

Ketika seseorang tidak lagi memberi ruang bagi kebosanan, otak kehilangan kesempatan mengaktifkan Default Mode Network (DMN), jaringan saraf yang bekerja ketika pikiran mengembara. Studi Oxford Academic (Brain Journal, 2024) menemukan bahwa aktivasi DMN berkorelasi kuat dengan kemampuan berpikir divergen dan munculnya ide kreatif. Tanpa fase mind-wandering, kreativitas terhenti di permukaan.

B. Rendahnya Kontrol Diri

Boredom Intolerance merupakan indikator rendahnya self-regulation. Menurut penelitian PubMed (2016), individu yang tidak mampu menunda gratifikasi cenderung mengalami kesulitan dalam pengambilan keputusan jangka panjang dan pengendalian impuls. Ini menjelaskan mengapa banyak anak muda sulit menyelesaikan tugas tanpa diselingi distraksi digital.

C. Identitas yang Tergantung pada Validasi Eksternal

Paparan media sosial yang terus-menerus menumbuhkan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain (social comparison). Identitas pribadi dibangun bukan dari refleksi diri, melainkan dari seberapa sering seseorang disukai atau diakui. Ini menciptakan self-concept yang rapuh dan fluktuatif, bergantung pada validasi eksternal yang tidak pernah cukup.

 Baca Juga: 7 Tanda Perempuan Memiliki Kecerdasan Emosional Tinggi Menurut Psikologi

Kebosanan tidak selalu musuh; ia adalah ruang kosong yang memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dan berimajinasi. Generasi muda perlu belajar mengapresiasi momen hampa sebagai bagian penting dari kesehatan mental dan kreativitas.

Dengan menciptakan digital pause, membatasi konsumsi media sosial, dan melakukan aktivitas yang membutuhkan fokus seperti membaca, menulis, atau berjalan tanpa musik, seseorang melatih otak untuk menemukan reward dari dalam diri sendiri.

Kreativitas sejati tidak lahir dari banjir stimulus, tetapi dari keberanian untuk diam sejenak dan mendengarkan diri sendiri. (kam/bgs)


Daftar Referensi:

  1. Danckert, J., & Eastwood, J. D. (2016). Out of My Skull: The Psychology of Boredom. Harvard University Press.

  2. Elpidorou, A. (2020). The good of boredom. Philosophical Psychology, 33(3), 1–22.

  3. Isacescu, J., & Danckert, J. (2018). Boredom Proneness, Mind-Wandering, and Self-Regulation. Consciousness and Cognition, 61, 1–14.

  4. Frontiers in Human Neuroscience (2025). Temporal Variability of DMN Predicts Mind-Wandering Episodes.

  5. Oxford Academic (2024). Default Mode Network Activity Predicts Divergent Thinking Performance.

  6. ScienceDirect (2023). Digital Distraction and the Shrinking Human Attention Span.

  7. PubMed (2016). Boredom Proneness and Low Self-Regulation in College Students.

Editor : Hakam Alghivari
#psikologi #perilaku #rasa bosan #Smartphone #Generasi Muda #dopamin #media sosial