RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Mengapa ada orang yang mampu menentang ketidakadilan meski tahu risikonya besar, sementara sebagian lain memilih diam bahkan ketika nuraninya menolak?
Psikologi modern kini mulai menjawab pertanyaan itu dengan pendekatan yang tak terduga: keberanian ternyata bisa dilatih seperti keterampilan — bukan anugerah langka yang hanya dimiliki segelintir orang.
Dalam laporan terbaru di situs resmi American Psychological Association (APA), penulis sains Tori DeAngelis menyoroti pandangan para peneliti yang mulai mengurai misteri keberanian dari sisi psikologis.
Artikel berjudul “Courage: Why some people act despite fear” itu menggambarkan bagaimana keberanian muncul dalam berbagai bentuk — dari perlawanan politik yang mematikan seperti yang dilakukan Alexei Navalny di Rusia, hingga tindakan sederhana menegur teman yang mulai terjerumus dalam kebiasaan buruk.
Keberanian, kata para peneliti, adalah salah satu virtue paling kompleks untuk dikaji. Ia tidak bisa dilepaskan dari konteks tindakan: siapa pelakunya, dalam situasi apa, dan untuk tujuan apa. “Karena keberanian selalu terkait dengan tindakan dan konteks spesifik, sangat sulit mengukurnya secara ilmiah,” ujar Aakash A. Chowkase, PhD, peneliti di Yale University yang mempelajari kebajikan manusia.
Ia menambahkan, memahami keberanian memerlukan cara berpikir baru, bukan sebagai sifat bawaan, tetapi sebagai hasil pembiasaan mental dan moral.
Dalam pandangan Robert J. Sternberg, profesor psikologi dari Cornell University yang dikenal lewat teori successful intelligence, dunia modern menghadapi kekurangan serius dalam satu hal: keberanian moral.
“Kita punya banyak orang dengan IQ tinggi,” katanya, “tetapi terlalu sedikit yang berani melakukan hal benar ketika semua orang justru melakukan sebaliknya.”
Menurut Sternberg, kecerdasan tanpa keberanian moral hanya akan melahirkan generasi yang pandai mencari alasan untuk tidak bertindak.
Lalu bagaimana psikologi memandang keberanian sebagai sesuatu yang bisa dilatih?
Peneliti positif seperti Chowkase menjelaskan, keberanian memiliki pola yang mirip dengan pembentukan kebiasaan. Setiap tindakan kecil yang melibatkan ketegangan antara rasa takut dan nilai moral bisa menjadi latihan mental.
Mulai dari menolak ajakan yang bertentangan dengan prinsip, berbicara jujur di depan atasan, hingga mengambil keputusan sulit yang mengandung risiko sosial, semuanya adalah bentuk “latihan otot keberanian”.
Para ilmuwan menyebut pendekatan ini sebagai deliberate courage practice, latihan sadar untuk bertindak dengan nilai, meskipun takut. Prosesnya mirip dengan latihan keterampilan: dimulai dari kesadaran, dilakukan dengan tujuan, diikuti refleksi dan umpan balik.
Seiring waktu, otak dan emosi belajar bahwa rasa takut bukan alasan untuk berhenti, melainkan sinyal bahwa tindakan itu penting.
Bukti lain datang dari psikologi kepribadian.
Orang dengan tingkat conscientiousness dan openness yang tinggi dalam model Big Five Personality cenderung lebih berani menghadapi ketidakpastian dan mempertahankan nilai-nilai moralnya. Namun, sifat itu bukan tak bisa berubah. Melalui paparan berulang terhadap situasi yang menantang dan refleksi diri yang jujur, siapa pun dapat menumbuhkan “otot moral” ini secara bertahap.
Konsep keberanian yang bisa dilatih membuka cara pandang baru. Ia membongkar mitos bahwa hanya orang luar biasa yang bisa bertindak heroik. Faktanya, keberanian lahir dari keputusan-keputusan kecil kadang nyaris tak terlihat diambil berulang kali dalam kehidupan sehari-hari. Dari ruang kelas, ruang kerja, hingga ruang keluarga.
Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan kesediaan untuk bertindak di tengah ketakutan.
Dan sebagaimana otot tubuh, ia hanya akan melemah jika tak pernah digunakan.
Mungkin itulah tantangan terbesar zaman ini: bukan menemukan orang yang cerdas, tapi membentuk manusia yang berani, tahu apa yang benar, dan cukup teguh untuk melakukannya. (kam/bgs)