RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pernah nggak sih, kamu merasa kepikiran terus sama seseorang. Padahal kalian, bahkan nggak pernah sama sekali jadian sama orang yang kalian pikirin itu?
Tiap lihat story Instagram-nya, hati langsung deg-degan. Padahal hubungan kalian cuma sebatas “nyaris”, bukan pacar, tapi juga bukan sekadar teman.
Fenomena ini ternyata bukan hal aneh. Dalam psikologi, ada penjelasan ilmiah kenapa kita sulit lepas dari mantan gebetan karena gagal dipacarin.
1. Otak Memperlakukan Gebetan Seperti Reward yang Belum Selesai
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa saat kita naksir seseorang, otak melepaskan dopamin, zat kimia yang bikin kita merasa senang dan termotivasi.
Dalam konteks gebetan yang belum jadi, dopamin bekerja seperti sistem reward yang belum tuntas. Alih-alih menutup bab, otak terus mengulang momen manis atau potensi yang belum terealisasi.
Ini mirip seperti nonton drama yang ending-nya digantung. Sehingga, otak kita terus cari penjelasan dan harapan.
2. Efek Zeigarnik: Otak Benci Cerita yang Gantung
Psikolog Bluma Zeigarnik menemukan bahwa manusia lebih mudah mengingat tugas atau cerita yang belum selesai dibanding yang sudah berakhir. Fenomena ini disebut Efek Zeigarnik.
Dalam konteks percintaan, gebetan yang gagal justru bikin otak bekerja lebih keras untuk menyelesaikan cerita yang belum rampung.
Itulah kenapa kamu bisa terus mikirin “kalau saja waktu itu aku ngomong duluan” atau “mungkin kalau aku lebih berani, kita bisa jadian”.
3. Cinta Platonik dan Imajinasi yang Terlalu Jauh
Dengan gebetan, seringkali kita jatuh cinta pada versi ideal, bukan realitas orang tersebut. Kita membangun narasi dan harapan di kepala: masa depan bareng, momen romantis, hingga ending bahagia.
Karena semua itu hanya ada dalam imajinasi, kehilangan gebetan terasa seperti kehilangan masa depan impian.
Rasa kehilangan ini kadang justru lebih intens daripada putus dengan pacar nyata, karena yang hilang bukan hanya orangnya, tapi juga fantasi sempurna yang kita ciptakan.
4. Media Sosial Memperpanjang Rasa Galau
Berbeda dengan zaman dulu, sekarang kamu bisa mengintip kehidupan gebetan kapan saja lewat Instagram, TikTok, atau Twitter (X).
Kontak visual dan informasi ini membuat otak sulit menutup tab cinta yang terbuka. Setiap like atau story baru seolah memberi sinyal palsu bahwa hubungan masih punya peluang, padahal kenyataannya tidak.
5. Faktor Ego dan Validasi Diri
Sulit move on dari gebetan juga sering terkait dengan ego. Saat gebetan tidak memilih kita, ada bagian diri yang merasa ditolak atau kurang.
Alih-alih menerima kenyataan, kita sibuk mencari validasi dan pembuktian, bahwa kita cukup untuknya. Proses ini membuat pikiran terus kembali ke sosok tersebut.
6. Move On Butuh Penutupan (Closure) yang Jelas
Peneliti menyebut bahwa closure sangat penting dalam proses penyembuhan emosi. Tapi, dalam hubungan tanpa status, closure sering tidak pernah terjadi.
Tidak ada perpisahan resmi, tidak ada penjelasan, tidak ada akhir yang tegas. Akibatnya, emosi kita menggantung dan terus mencari jawaban.
Cara Pelan-pelan Lepas dari Gebetan
Kalau kamu sedang mengalami fase kepikiran terus, berikut beberapa langkah yang terbukti membantu:
- Kurangi ekspos media sosial si dia untuk memberi ruang otak menutup cerita.
- Terima kenyataan bahwa cerita kalian memang belum (atau tidak akan) berlanjut.
- Alihkan energi ke kegiatan lain yang bikin kamu merasa berkembang dan dihargai.
- Berani buat closure pribadi, meski tidak dari dia langsung.
Sulit move on dari gebetan bukan berarti kamu lemah atau terlalu baper. Ini reaksi alami otak dan emosi terhadap cerita yang belum selesai.
Tapi dengan kesadaran, kamu bisa mengambil alih kendali dan menutup bab itu dengan sehat. Ingat, yang bikin kita terus kepikiran bukan hanya orangnya, tapi cerita yang belum sempat jadi. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko