RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Banyak orang menganggap makanan manis sebagai “pelipur lara” saat stres atau lelah.
Tak heran, cokelat, boba, atau kue sering jadi pilihan untuk memperbaiki suasana hati dengan cepat.
Tapi, apakah benar gula bisa memengaruhi mood kita atau justru membuatnya semakin tidak stabil?
Menurut sejumlah penelitian dan pakar nutrisi, gula memang punya dampak langsung pada kondisi emosional dan energi tubuh, tapi efeknya tidak selalu seperti yang kita kira.
Gula Memberi Dorongan Energi Cepat… Tapi Sementara
Gula sederhana (seperti sukrosa atau fruktosa) mudah diserap tubuh sehingga gula darah cepat naik setelah kita mengonsumsinya. Dalam jangka pendek, ini bisa membuat kita merasa:
- Lebih bersemangat
- Fokus meningkat
- Mood terasa lebih baik
Namun, lonjakan ini tidak berlangsung lama. Begitu kadar insulin meningkat untuk menstabilkan gula darah, energi tubuh justru turun drastis. Fenomena ini dikenal sebagai “sugar crash”, yang sering ditandai dengan:
- Rasa lemas atau lesu
- Mudah tersinggung
- Konsentrasi menurun
- Mood tiba-tiba memburuk
Efek Jangka Panjang: Risiko Mood Swing & Gangguan Mental
Konsumsi gula tinggi secara rutin bukan hanya berdampak pada berat badan atau kesehatan gigi. Studi dari Healthline dan University of Warwick menemukan bahwa:
- Diet tinggi gula dikaitkan dengan peningkatan risiko depresi dan gangguan kecemasan.
- Tidak ada bukti kuat bahwa “sugar rush” benar-benar membuat kita lebih waspada; justru banyak peserta penelitian yang merasa lebih lelah dan kurang fokus setelah konsumsi gula.
- Gula dapat menyebabkan peradangan ringan kronis dan mengganggu keseimbangan neurotransmitter seperti serotonin dan dopamin — dua zat kimia penting dalam pengaturan mood.
Dengan kata lain, mengandalkan gula untuk memperbaiki suasana hati bisa menciptakan lingkaran berulang: stres → makan gula → mood naik sebentar → crash → stres lagi.
Siapa yang Lebih Rentan terhadap Efek Gula?
Tidak semua orang bereaksi sama terhadap gula. Beberapa kelompok lebih sensitif terhadap perubahan gula darah dan efek emosionalnya, misalnya:
- Orang dengan pola makan tinggi makanan olahan
- Individu yang sedang mengalami stres kronis
- Mereka yang punya riwayat gangguan mood atau gangguan tidur
- Anak muda atau Gen Z yang terbiasa konsumsi minuman manis dan camilan tinggi gula secara rutin
Tips Agar Mood Tetap Stabil Meski Konsumsi Gula
Berikut cara sederhana untuk tetap menikmati rasa manis tanpa membuat mood naik-turun seperti roller coaster:
1. Pilih gula alami dari buah segar ketimbang makanan olahan atau minuman kemasan.
2. Makan teratur untuk menjaga kestabilan kadar gula darah.
3. Pilih karbohidrat kompleks seperti biji-bijian, sayur, dan kacang-kacangan yang melepaskan energi secara perlahan.
4. Perhatikan label makanan, karena banyak produk menyembunyikan gula dalam bentuk sirup atau nama kimia.
5. Kombinasikan gula dengan protein & serat agar penyerapan gula lebih lambat.
Gula memang dapat memberikan ledakan energi singkat dan membuat mood terasa lebih baik sesaat.
Namun, efek itu bersifat sementara dan sering diikuti oleh “crash” yang dapat memicu kelelahan, suasana hati buruk, bahkan stres.
Dalam jangka panjang, konsumsi gula berlebihan juga dapat meningkatkan risiko gangguan mental seperti depresi dan kecemasan.
Jadi, bukan berarti kita harus menghindari gula sepenuhnya, tapi belajar mengelolanya dengan bijak.
Pilih sumber gula alami, perhatikan waktu konsumsi, dan kombinasikan dengan pola makan seimbang untuk menjaga mood tetap stabil sepanjang hari. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko