RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Bagi banyak orang tua, pemandangan anak balita yang menangis keras setiap kali mereka pergi, bahkan hanya sebentar sering memunculkan rasa khawatir dan kebingungan.
Sebagian menganggapnya tanda manja, sebagian lagi cemas ada gangguan emosional. Namun, penelitian psikologi modern menunjukkan bahwa tangisan semacam ini sebenarnya adalah bagian alami dari proses perkembangan yang disebut separation anxiety atau kecemasan berpisah.
Fase Normal dalam Perkembangan Emosi Anak
Menurut Anna Freud National Centre for Children and Families, kecemasan berpisah biasanya mulai muncul ketika bayi berusia sekitar enam bulan dan mencapai puncaknya pada usia delapan hingga delapan belas bulan.
Pada tahap tersebut, anak mulai memahami bahwa ketika orang tuanya pergi, mereka tidak selalu langsung kembali. Pemahaman baru ini menimbulkan rasa takut akan kehilangan, sehingga reaksi menangis menjadi bentuk ekspresi alami yang menandakan keterikatan dan kebutuhan akan rasa aman.
Dalam konteks psikologi perkembangan, tangisan itu bukan bentuk kelemahan, melainkan sinyal penting dalam sistem keterikatan emosional anak terhadap pengasuh utama.
John Bowlby, pencetus teori attachment, menjelaskan bahwa reaksi emosional ini merupakan mekanisme biologis yang berfungsi menjaga kedekatan anak dengan figur lekatnya agar merasa aman dari ancaman lingkungan.
Riset-Riset yang Menjelaskan Kecemasan Berpisah
Sejumlah penelitian telah menelusuri penyebab mengapa sebagian anak sulit melepaskan diri dari orang tuanya. Sebuah studi berjudul Separation Anxiety Disorder in Young Children: A Longitudinal and Family Analysis menemukan bahwa hubungan emosional dalam keluarga memiliki pengaruh besar terhadap muncul dan bertahannya gejala kecemasan berpisah.
Anak yang tumbuh di lingkungan keluarga penuh tekanan cenderung menunjukkan reaksi lebih intens dan bertahan lebih lama dibanding anak dengan suasana keluarga yang stabil.
Penelitian lain, Effects of Maternal Behavior on Toddler Behavior During Separation, mengungkapkan bahwa perilaku ibu sebelum perpisahan sangat menentukan seberapa lama anak menangis ketika ditinggal. Anak yang mendapat perhatian hangat, pelukan, atau interaksi positif sebelum ibu pergi cenderung lebih cepat tenang dibanding mereka yang ditinggal tanpa persiapan emosional.
Sementara itu, studi di SpringerLink berjudul Relations Between Parental and Child Separation Anxiety menjelaskan bahwa kecemasan anak sering kali mencerminkan kecemasan orang tua itu sendiri. Ketika orang tua terlalu protektif atau menggunakan kontrol psikologis berlebihan, anak cenderung tumbuh dengan rasa ketergantungan tinggi dan lebih sulit menghadapi perpisahan.
Bahkan, dalam situasi tertentu seperti anak yang lama dirawat di rumah sakit, penelitian Separation Anxiety Among Toddlers Due to Long Hospitalization menemukan bahwa pengalaman perpisahan panjang dapat memunculkan kecemasan ekstrem, gangguan tidur, hingga regresi perilaku seperti kembali mengisap jari atau takut sendirian.
Mengapa Anak Takut Ditinggal
Dari perspektif perkembangan kognitif, psikolog Jean Piaget menambahkan bahwa anak-anak pada usia ini baru mulai memahami konsep object permanence — kesadaran bahwa sesuatu tetap ada meskipun tidak terlihat. Ketika orang tua keluar dari pandangan, anak belum memiliki keyakinan kuat bahwa mereka akan kembali. Itulah sebabnya kepergian singkat bisa terasa seperti kehilangan yang nyata.
Sementara itu, penelitian yang dipublikasikan oleh Science Publications menunjukkan bahwa pola keterikatan aman atau secure attachment mampu menurunkan tingkat kecemasan berpisah. Anak yang mendapat respon konsisten dan empatik dari orang tua lebih mudah menenangkan diri ketika ditinggal, karena mereka belajar mempercayai bahwa kepergian orang tua hanya bersifat sementara.
Peran Orang Tua dalam Mengurangi Kecemasan Anak
Psikolog anak sepakat bahwa cara orang tua merespons perpisahan sangat menentukan seberapa cepat anak bisa beradaptasi. Membuat rutinitas berpamitan yang konsisten, seperti pelukan singkat dan ucapan “Mama akan kembali setelah kamu main”, dapat menanamkan rasa aman. Begitu pula memberi waktu transisi sebelum berpisah, misalnya dengan mengajak bermain sejenak sebelum meninggalkan anak, membantu mereka menyiapkan diri secara emosional.
Situs Parents.com juga menyarankan latihan perpisahan bertahap, dimulai dari waktu yang singkat lalu perlahan diperpanjang. Di saat yang sama, penting untuk tidak menyepelekan perasaan anak. Kalimat sederhana seperti “Mama tahu kamu sedih, tapi Mama pasti kembali” bisa membantu anak merasa dipahami dan lebih percaya diri menghadapi perpisahan.
Bukan Tanda Anak Manja, Tapi Tahap Menuju Mandiri
Pada dasarnya, tangisan anak saat ditinggal bukan tanda bahwa ia manja, melainkan ekspresi alami dari sistem emosional yang sedang berkembang. Dengan pola asuh yang penuh empati, rutinitas yang stabil, dan dukungan emosional yang konsisten, anak akan belajar bahwa kepergian orang tua bukan ancaman, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari yang bisa dihadapi dengan tenang.
Fase ini biasanya berangsur berkurang seiring bertambahnya usia, ketika anak mulai merasa aman dengan lingkungan dan mampu mempercayai bahwa setiap kepergian orang tuanya selalu diikuti dengan kepulangan. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari