Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Tetap Waras di Tengah Rutinitas Kantor: Ini Tips Berdasarkan Penelitian Psikologi

Hakam Alghivari • Sabtu, 20 September 2025 | 01:33 WIB
ilustrasi seseorang sedang stres karena menghadapi tekanan yang beruntun
ilustrasi seseorang sedang stres karena menghadapi tekanan yang beruntun

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Bagi banyak pekerja kantoran, rutinitas terasa seperti lingkaran tanpa ujung: bangun pagi, bergegas menghadapi macet, duduk di depan layar seharian, lalu pulang dengan sisa energi yang sudah terkuras. Belum lagi chat kerja yang masuk sampai larut malam, seolah menegaskan bahwa batas antara kantor dan rumah makin kabur.

Tidak sedikit yang akhirnya merasa kelelahan mental. “Capek badan masih bisa dipulihkan dengan tidur. Tapi capek pikiran? Itu lebih rumit,” begitu keluhan yang kerap terdengar di kalangan pekerja urban. Pertanyaan yang muncul kemudian: bagaimana cara tetap waras di tengah gempuran kehidupan kerja yang makin menuntut?

Beruntung, jawaban atas keresahan ini tidak hanya datang dari tips motivasi belaka. Sejumlah penelitian psikologi justru memberi jalan terang: ada cara-cara praktis, berbasis data ilmiah, yang bisa membantu pekerja kantoran bertahan dari stres dan tetap menjaga kesehatan mentalnya.

1. Latih Mindfulness, Bukan Sekadar Ikut Tren

Mindfulness sudah sering terdengar, tapi bukan sekadar jargon. Penelitian di Jerman yang melibatkan karyawan sebuah perusahaan digital menemukan bahwa pelatihan mindfulness selama enam minggu jauh lebih efektif mengurangi stres dibanding hanya ikut pelatihan sehari. Konsistensi ternyata lebih penting daripada durasi singkat.

Dalam praktik sehari-hari, mindfulness tidak harus berupa meditasi panjang dengan musik lembut. Cukup luangkan 10 menit di pagi hari untuk menarik napas dalam, merasakan hadirnya tubuh, atau sekadar berjalan kaki tanpa distraksi gawai. Ritual kecil ini membantu otak “reset” sebelum dibanjiri notifikasi.

2. Ubah Cara Pandang Terhadap Deadline

Deadline sering dianggap sebagai ancaman. Namun, studi dari Simon Fraser University menunjukkan, ketika seseorang melihat tugas berat sebagai tantangan, bukan beban, tingkat stres mereka menurun drastis.

Sederhananya, otak manusia punya dua pilihan saat menghadapi pekerjaan: merasa terancam atau merasa tertantang. Saat kita memilih yang kedua, tubuh merespons lebih positif, adrenalin justru membantu fokus, bukan menimbulkan panik. Jadi, sebelum mengeluh, coba tanyakan pada diri sendiri: “Apakah ini benar-benar ancaman, atau sekadar kesempatan untuk belajar?”

3. Bangun Batasan antara Kantor dan Rumah

Bagi pekerja kantoran, gawai adalah pedang bermata dua. Satu sisi memudahkan, sisi lain membuat pekerjaan tak pernah benar-benar selesai. Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Occupational and Organizational Psychology menegaskan: pekerja yang bisa melepaskan diri secara psikologis dari urusan kantor, memiliki tingkat stres lebih rendah dan kualitas tidur lebih baik.

Caranya bisa sesederhana menutup laptop tepat waktu, tidak membuka email kerja setelah jam kantor, atau membuat ritual kecil penutup kerja—misalnya menuliskan daftar “to-do” untuk esok hari. Batasan ini adalah cara tubuh dan pikiran diberi sinyal: “sudah waktunya istirahat.”

4. Minta Kontrol atas Batasan Kerja

Tidak semua orang bisa leluasa memisahkan urusan kerja dan pribadi. Namun penelitian lain menemukan, konflik kerja-kehidupan paling tinggi dialami oleh mereka yang merasa tidak punya kontrol atas batasan itu.

Artinya, bukan sekadar soal punya batas atau tidak, tapi apakah kita merasa bisa mengendalikan batas itu. Misalnya, punya kebebasan untuk menolak meeting di luar jam kerja, atau bisa meminta jam kerja lebih fleksibel. Jika tempat kerja belum memberi ruang itu, setidaknya mulai dari hal kecil: matikan notifikasi email setelah pukul 8 malam, atau atur “do not disturb” di ponsel.

Baca Juga: Fenomena Job Hugging dan Quiet Quitting: Dua Sisi Keresahan Pekerja Modern

5. Berbaik Hati pada Diri Sendiri

Banyak pekerja terjebak dalam tuntutan perfeksionisme. Padahal penelitian tentang self-compassion menunjukkan, pekerja yang bisa menerima keterbatasan diri justru lebih resilien menghadapi tekanan.

Berbaik hati pada diri sendiri bukan berarti malas atau pasrah. Ini tentang mengakui bahwa kita manusia biasa, wajar lelah, wajar salah. Alih-alih berkata “saya gagal”, lebih baik berkata “saya sedang belajar.” Dengan begitu, kita terhindar dari jebakan menyalahkan diri yang justru memperburuk stres.

6. Rawat Tubuh, Bukan Hanya Pikiran

Jangan lupakan aspek fisik. Meta-analisis dalam jurnal Occupational Health Psychology menunjukkan bahwa program mindfulness di tempat kerja tidak hanya menurunkan stres psikologis, tapi juga berpengaruh nyata pada tubuh: kadar kortisol lebih stabil, jantung lebih tenang, hingga peradangan menurun.

Artinya, tubuh dan pikiran saling terhubung. Tidur cukup, olahraga ringan, atau sekadar melakukan peregangan setiap satu jam bisa jadi investasi besar untuk kewarasan. Bahkan jalan kaki 15 menit di sekitar kantor lebih bermanfaat daripada terus duduk sambil menahan stres.

7. Gunakan Weekend sebagai “Ruang Pulih”

Weekend sering hanya dipakai untuk balas dendam tidur. Padahal penelitian psikologi menyebut, waktu luang yang berkualitas lebih ampuh memulihkan energi.

Alih-alih hanya tidur seharian, gunakan akhir pekan untuk aktivitas menyenangkan: main futsal dengan teman, mencoba resep baru, atau sekadar menonton film tanpa gangguan notifikasi kerja. Ingat, weekend bukan bonus, melainkan bagian penting dari siklus pemulihan.

Stres memang tidak bisa dihapus total dari kehidupan pekerja kantoran. Namun, penelitian psikologi membuktikan ada cara untuk tetap menjaga kewarasan. Mulai dari latihan mindfulness, mengubah cara pandang terhadap tugas, hingga berbaik hati pada diri sendiri—semuanya bisa diterapkan tanpa perlu menunggu perubahan besar dari kantor.

Pada akhirnya, pekerjaan bisa dicari, tapi kesehatan mental dan ketenangan jiwa tidak ternilai. Jadi, sebelum tenggelam dalam rapat dan deadline, ingatlah satu hal: menjaga kewarasan adalah bagian dari pekerjaan itu sendiri. (kam/bgs) 

Editor : Hakam Alghivari
#psikologi #Pekerja #mental #stres