RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Quarter-life crisis adalah fase kehidupan di usia dua puluan hingga awal tiga puluhan di mana seseorang mulai merasakan kebingungan, tekanan, dan ketidakpastian tentang arah hidupnya.
Istilah ini populer dipicu oleh transisi besar: dari kuliah ke pekerjaan, perubahan karier, atau saat harapan hidup sendiri mulai diperhitungkan ulang.
Istilah tersebut pertama kali diperkenalkan dalam buku Quarter-Life Crisis: The Unique Challenges of Life in Your Twenties oleh Alexandra Robbins dan Abbey Wilner pada tahun 2001.
Tanda-Tanda yang Biasanya Terjadi
Beberapa gejala umum jika seseorang mengalami quarter-life crisis antara lain:
• Perasaan terjebak atau stuck dalam kehidupan sehari-hari, merasa tidak bergerak maju secara pribadi atau profesional.
• Mulai mempertanyakan keputusan-keputusan masa lalu: pilihan studi, karier, hubungan, atau arah hidup yang sudah diambil.
• Ekspektasi yang tinggi terhadap diri sendiri, dibandingkan dengan orang lain, kadang berujung stres apabila kenyataan tak sesuai harapan.
• Merasa bingung tentang masa depan; sulit mengambil keputusan karena takut salah atau belum yakin apa yang diinginkan.
Penyebab yang Umum Terjadi
Beberapa faktor yang sering menjadi pemicu quarter-life crisis:
• Perubahan besar dalam hidup: lulus kuliah, pindah ke pekerjaan formal, pindah lokasi, atau perubahan tanggung jawab yang tiba-tiba.
• Harapan hidup sendiri dan tekanan sosial: misalnya tekanan dari keluarga dan teman, perbandingan di media sosial, keinginan hidup “ideal” yang seringkali berat untuk diwujudkan.
• Ketidakpastian finansial: biaya hidup, utang studi, stabilitas pekerjaan yang masih belum pasti.
Cara Menghadapinya
Berikut beberapa strategi yang bisa membantu ketika kamu merasa berada di fase quarter-life crisis:
1. Refleksi diri
Ambil waktu untuk mengenal diri sendiri: apa nilai-nilai yang penting, apa yang membuatmu merasa berarti, apa yang benar-benar kamu inginkan. Bisa lewat menulis jurnal, ngobrol dengan teman dekat, atau bahkan konsultasi profesional.
2. Kurangi Ekspektasi yang Berlebihan
Ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap karier, hubungan, atau kehidupan secara umum bisa jadi beban. Fokuskan pada langkah-kecil yang realistis daripada mencoba mencapai “sempurna”.
3. Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Media sosial dan lingkungan teman bisa memperparah perasaan “belum cukup”. Mengurangi eksposur pada hal-hal yang memicu perbandingan dapat membantu meringankan tekanan mental.
4. Memberi Ruang untuk Perubahan
Jangan takut untuk keluar dari zona nyaman atau mencoba hal baru: hobi, karier alternatif, studi tambahan, atau lingkungan sosial yang berbeda. Kadang perubahan kecil bisa membuka pandangan baru.
5. Mencari Dukungan
Bicara dengan orang terdekat seperti teman, keluarga, atau mendapatkan bantuan profesional bila perlu.
Mengungkapkan apa yang kamu rasakan bisa meringankan beban. Quarter-life crisis adalah fase yang normal dalam perjalanan menjadi dewasa.
Meskipun penuh dengan kebingungan dan ketidakpastian, yang penting adalah menyadari bahwa kamu tidak sendiri, banyak orang mengalami hal serupa.
Dengan refleksi, pengelolaan harapan, dukungan yang tepat, serta kesediaan untuk berubah, periode ini justru bisa menjadi kesempatan emas untuk tumbuh dan menemukan arah hidup yang lebih memuaskan. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko