RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Becak, yang dahulu menjadi salah satu moda transportasi andalan masyarakat Bojonegoro, kini kian ditinggalkan.
Minimnya minat masyarakat terhadap becak disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari perubahan gaya hidup, kemajuan teknologi transportasi, hingga kecepatan mobilitas yang semakin dibutuhkan warga.
Pantauan di beberapa titik pusat keramaian seperti Pasar Kota Bojonegoro, Stasiun, dan alun-alun, jumlah becak yang beroperasi semakin sedikit. Bahkan, para penarik becak mengaku kesulitan mendapatkan penumpang setiap harinya.
“Sekarang dalam sehari paling hanya dapat dua sampai tiga penumpang, itu pun kalau beruntung. Kebanyakan orang lebih memilih ojek online atau kendaraan pribadi,” ujar Suyono, salah satu pengayuh becak yang sudah 20 tahun mencari nafkah di sekitar Pasar Bojonegoro, Selasa (10/9).
Transportasi berbasis aplikasi online memang menjadi tantangan terbesar bagi eksistensi becak.
Selain lebih cepat, praktis, dan bisa dipesan dari mana saja, ongkosnya pun dianggap lebih sepadan dengan layanan yang diberikan.
Di sisi lain, masyarakat Bojonegoro yang semakin banyak memiliki kendaraan pribadi juga membuat kebutuhan terhadap becak berkurang drastis.
Meski demikian, sebagian masyarakat masih menilai becak memiliki nilai historis dan kultural. Becak kerap menjadi ikon tradisional yang tak bisa dilepaskan dari wajah kota Bojonegoro.
Minimnya minat masyarakat pada becak menandakan adanya pergeseran pilihan transportasi menuju arah yang lebih modern.
Namun, jika tidak ada upaya pelestarian, bukan tidak mungkin becak akan benar-benar hilang dari jalanan Bojonegoro dalam beberapa tahun mendatang. (lul)
Editor : Bhagas Dani Purwoko