Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Superiority Complex: Ketika Kepercayaan Diri Menjadi Berlebihan

Bhagas Dani Purwoko • Selasa, 15 Juli 2025 | 03:05 WIB

 

Ilustrasi perempuan dan pria bercengkrama.
Ilustrasi perempuan dan pria bercengkrama.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Superiority complex adalah mekanisme pertahanan psikologis di mana seseorang merasa unggul secara berlebihan untuk menyembunyikan perasaan inferior—pendapat ini pertama kali diarahkan oleh Alfred Adler pada awal abad ke-20 . Orang yang mengalami kondisi ini sering bersikap sombong, merendahkan orang lain, dan sulit menerima pendapat dari orang sekitarnya.

Ciri-ciri yang umum ditemukan

Berdasarkan referensi dari Alodokter, Kumparan, dan sumber terpercaya lainnya, berikut 6 ciri utama seseorang dengan superiority complex:

1. Melebih-lebihkan kemampuan diri tanpa bukti konkret.

2. Sikap sombong dan merendahkan orang lain untuk tampil lebih unggul.

3. Enggan menerima kritik dan sulit mengakui kesalahan.

4. Kurangnya empati, tidak peduli dengan perasaan orang lain.

5. Butuh validasi terus-menerus agar rasa superior tetap terasa.

6. Mood swings, kondisi berubah cepat antara merasa sangat hebat dan insecure.

Kenapa hal ini bisa terjadi?

Menurut teori Adler, superiority complex adalah cara seseorang untuk menutupi rasa minder yang dalam. Beberapa faktor penyebabnya antara lain:

Polah asuh masa kecil: Anak yang selalu dimanjakan atau tidak diajarkan untuk menghadapi tantangan mungkin tumbuh menjadi orang yang merasa berhak lebih dari orang lain .

Rasa kegagalan atau tekanan berulang: Individu yang gagal berulang kali dapat membangun citra diri palsu sebagai tameng untuk menunjukkan keunggulan .

Gangguan mental sebagai latar belakang: Masalah seperti kecemasan atau depresi bisa memicu superioritas palsu sebagai defense mechanism .

 

Dampak yang muncul

Superiority complex bukan hanya “gaya-gayaan” semata—ada konsekuensi nyata baik bagi diri sendiri maupun orang lain:

Menurunnya kualitas hubungan interpersonal: Sikap sombong dan tidak peduli membuat orang menghindar .

Ketidakharmonisan di lingkungan kerja: Sering memicu konflik dan suasana yang toxic .

Stres dan kecemasan berkelanjutan: Tekanan untuk terus tampil lebih baik menyebabkan burnout mental .

Harga diri yang rapuh: Di balik kesombongan, seringkali terdapat rasa tidak cukup baik, menimbulkan ketidakpuasan terus-menerus .

 

Bagaimana cara mengatasinya?

Mengatasi superiority complex memerlukan kesadaran diri dan bantuan sistemik. Berikut 5 strategi yang dapat membantu:

1. Latih kejujuran diri: Catat prestasi dan kekurangan, akui keduanya tanpa pembelaan berlebihan.

2. Belajar menerima kekurangan: Sadari bahwa setiap orang punya kelebihan dan kelemahan.

3. Buka diri terhadap kritik: Latih diri untuk mendengar pendapat orang lain tanpa defensif.

4. Bangun empati: Coba pandang sudut pandang orang lain dan hargai perasaan serta pencapaian mereka.

5. Cari dukungan profesional: Terapis atau konselor bisa membantu mengurai pola-pola defense dan membangun self-esteem sehat.

Kesimpulan

Superiority complex bukan sekadar “percaya diri berlebihan”, melainkan tanda adanya luka psikologis mendalam. Dengan mengenal ciri, penyebab, dan dampaknya, kita dapat mengambil langkah nyata untuk menyembuhkan—baik untuk diri sendiri maupun mendampingi orang lain. Melalui refleksi diri dan bantuan profesional, rendah diri ini bisa diubah menjadi kekuatan sehat yang berakar dari penerimaan diri yang tulus. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#superiority complex