Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

CEO OpenAI Kaget Banyak yang Bergantung pada ChatGPT, Turut Ingatkan Agar Teliti Kembali Jawaban dari AI

Yuan Edo Ramadhana • Rabu, 9 Juli 2025 | 23:00 WIB
AI di Smartphone.
AI di Smartphone.

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Salah satu kekurangan yang dimiliki dari chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) saat ini adalah respon atau jawaban yang terkadang kurang tepat, atau bahkan terkesan mengkhayal atau mengarang bebas. Meskipun demikian, masyarakat perlahan mulai meningkatkan kepercayaan pada AI dalam memudahkan hidup.

Hal tersebut ternyata juga disadari oleh OpenAI, selaku pembuat chatbot AI ChatGPT. Dalam podcast milik OpenAI pada Juni lalu, CEO OpenAI Sam Altman mengaku terkejut melihat makin banyak masyarakat dunia menggantungkan diri pada AI dalam kehidupan sehari-hari.

“Masyarakat ternyata punya tingkat kepercayaan tinggi terhadap AI, yang membuat saya kaget karena AI bisa saja berhalusinasi. Padahal menurut saya, teknologi ini sebaiknya tidak sering-sering dipercaya,” ujar Altman dalam podcast tersebut, sebagaimana disadur dari Complex.

Altman dan perusahaannya menemukan bahwa 400 juta jiwa menggunakan ChatGPT setiap minggu. Tentu, kemudahan tersebut tak lepas dengan kemudahan mengakses aplikasi tersebut dari berbagai gawai.

Sebagaimana telah dijelaskan, Altman mendefinisikan halusinasi AI sebagai kejadian saat AI sengaja membuat informasi yang dibuat-buat sedemikian rupa hingga nampak benar. Dengan kata lain, AI bisa mengarang bebas untuk memenuhi kebutuhan pengguna, terlebih jika topik yang ditanyakan tidak dapat ditemukan oleh AI.

“Pengguna bisa saja iseng bertanya pada AI tentang sesuatu yang tidak ada penjelasannya, kemudian AI bakal memberikan jawaban yang disusun rapi, namun isinya salah,” jelas Altman.

Bahkan menurutnya, informasi yang sedianya sudah ada jawaban yang benar bisa saja melenceng dari kenyataan saat dijawab AI. Sehingga OpenAI berusaha untuk mengurangi kejadian-kejadian serupa.

Menurut Altman, solusi yang tepat untuk menghindari misinformasi akibat halusinasi AI adalah meneliti kembali jawaban-jawaban yang diberikan, serta berkaca kembali pada realita di lapangan.

“Kita butuh sebuah pagar peradaban, karena sekarang kita punya sesuatu yang sangat hebat. Kalau kita tidak hati-hati, pada akhirnya kepercayaan bisa saja menyalip kebenaran,” ujar Altman. (edo)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#kecerdasan buatan #halusinasi #ChatGPT #openai #kepercayaan #ai #Mengarang Bebas #chatbot #Sam Altman #halusinasi ai