Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mengapa Ada Orang yang Gemar Mengoleksi Barang Antik? Begini Menurut Psikologi

Hakam Alghivari • Rabu, 25 Juni 2025 | 20:25 WIB
Ilustrasi pria dan barang antik.
Ilustrasi pria dan barang antik.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Mengoleksi barang antik bukan hanya soal nilai jual atau estetika semata. Ada kebutuhan yang jauh lebih dalam di balik kegemaran ini — kebutuhan untuk merangkai narasi dari masa lalu, memberi makna pada benda-benda yang pernah ‘hidup’ di zamannya, hingga menciptakan koneksi emosional dengan sebuah era yang telah berlalu.

Tak heran jika sebagian orang rela menjelajahi pasar loak hingga situs lelang hanya untuk menemukan satu benda yang membuat jantung berdetak lebih kencang.

 Baca Juga: Ada Rahasia di Balik Ritual Minum Teh: Mengapa Kebiasaan Ini Membentuk Kepribadian Kita?

Bagi banyak kolektor, benda antik bukanlah sekadar pajangan. Mereka adalah “kapsul waktu” yang membawa cerita dan nilai personal, bahkan dapat memberi efek terapeutik bagi pemiliknya.

Berbagai studi psikologi dan sosiologi menekankan bahwa kegemaran ini terkait dengan kebutuhan manusia untuk memberi makna, menciptakan kontrol di tengah perubahan, hingga mengejar sensasi dari ‘berburu harta karun’ yang sulit dijelaskan dengan kata-kata biasa.

1. Nostalgia sebagai Mesin Waktu Pribadi

Koleksi antik bukan soal benda itu sendiri, tetapi soal memori yang dikandungnya. Russell Belk, profesor pemasaran dan sosiologi dari York University, dalam bukunya Collecting in a Consumer Society (1995), menjelaskan bahwa koleksi memungkinkan seseorang membuat semacam “museum pribadi” dari masa lalu.

Seorang kolektor piring enamel dari tahun 1950, misalnya, tidak hanya membeli sebuah piring tua, tetapi juga membawa pulang cerita masa kecil atau kenangan dari rumah nenek. Inilah daya magis dari benda antik: membuat manusia merasa ‘terhubung’ dengan waktu yang tak pernah kembali.

 Baca Juga: Jarang yang Tahu! Rahasia Tim Solid: Ternyata Shio Bisa Pengaruhi Kerjasama di Kantor

2. Koleksi Memberi Kontrol di Tengah Ketidakpastian

Hidup penuh dengan perubahan yang sulit dikontrol, dan koleksi dapat memberi semacam ‘kendali kecil’ bagi seseorang. Menurut McIntosh dalam Journal of Consumer Culture (2013), banyak kolektor merasa bahwa dengan merawat, mengatur, dan memberi tempat bagi koleksinya, mereka dapat menciptakan keteraturan pribadi dari “kekacauan” zaman modern.

Kontrol ini membawa efek positif bagi kesehatan mental. Ada perasaan tenang dan puas dari keberhasilan “mengamankan” sebuah benda antik dari masa lalu — semacam jaminan bahwa tidak semua hal dalam hidup ini berada di luar genggaman.

 Baca Juga: Catat! Ini 5 Kebiasaan Kecil yang Membentuk Karakter Sukses

3. Dopamin dan Sensasi Berburu ‘Harta Karun’

Selain soal makna dan nostalgia, juga terdapat aspek neurobiologis dari hobi ini. Berburu benda antik dapat memicu pelepasan dopamine di otak, hormon yang terkait dengan perasaan bahagia dan penghargaan.

Fenomena ini, yang kerap dijuluki thrill of the hunt, membuat para kolektor terus terdorong menjelajahi pasar antik, situs lelang, atau toko vintage guna menemukan ‘potongan’ selanjutnya dari koleksinya.

Studi McIntosh (2013) juga menyebutkan bahwa efek dari perburuan ini dapat memberi efek positif bagi kesehatan mental, terutama bila dijalani dengan kesadaran dan dalam porsi yang sehat.

 Baca Juga: Jajaran 9 Smartphone Terbaik 2025: Performa Puncak, Inovasi Terdepan

4. Identitas, Status, dan Ekspresi Diri

Koleksi antik juga dapat menjadi bentuk ekspresi diri, bahkan simbol status sosial. Belk (1995) mengungkapkan bahwa koleksi bukan hanya soal nilai material, tetapi juga soal nilai simbolik yang terkait dengan identitas pribadi dan apresiasi estetika tertentu.

Saat seseorang memamerkan koleksi lampu Art Deco dari era 1920-an atau mobil klasik tahun 1960-an, yang terlihat bukan hanya benda itu sendiri, tetapi juga nilai, selera, dan narasi pribadi sang pemilik. 

5. Koleksi sebagai Jalan Menuju Kesejahteraan

Penelitian Kleine et al. (2021) yang diterbitkan dalam Journal of Antiques and Collectibles menemukan bahwa kolektor dengan motivasi intrinsik — yaitu kecintaan murni pada benda dan nilai sejarah yang dikandungnya — umumnya memiliki tingkat kepuasan hidup lebih tinggi dibanding kolektor dengan motivasi ekstrinsik (hanya memikirkan nilai jual atau gengsi).

Saat koleksi dijadikan sebagai bentuk refleksi pribadi, bentuk apresiasi seni, atau bahkan terapi bagi kesehatan mental, efek positif dari hobi ini dapat dirasakan secara jangka panjang.

6. Risiko Gelap dari Hobi Koleksi

Namun, tidak dapat diabaikan bahwa kegemaran ini juga memiliki sisi gelap. Dalam DSM‑5 dari American Psychiatric Association, pola perilaku menimbun (hoarding disorder) dijelaskan sebagai gangguan ketika kebutuhan mengumpulkan benda tertentu tumbuh berlebihan hingga mengganggu kualitas hidup.

Dalam konteks koleksi antik, hal ini dapat terlihat dari rumah yang penuh dengan benda tak terpakai, sulit berpisah dengan koleksi, atau bahkan memicu konflik dengan keluarga.

Karena itu, kesadaran penuh dalam merawat dan memberi makna bagi koleksi sangatlah diperlukan agar hobi ini tidak berubah dari bentuk apresiasi dan makna pribadi menjadi obsesi yang merugikan.

 Baca Juga: Suka Merawat Tanaman? Ini Sisi Kepribadian yang Mungkin Kamu Miliki

Koleksi Antik, Antara Kenangan dan Makna

Koleksi antik bukan hanya soal nilai finansial atau daya tarik visual semata. Ada narasi panjang yang terkait dengan kebutuhan manusia untuk menemukan makna, memberi tempat bagi masa lalu, dan merayakan nilai pribadi yang terkandung dalam setiap benda. Jika dijalani dengan penuh kesadaran, hobi ini dapat menjadi bentuk terapi pribadi, refleksi nilai, bahkan sumber inspirasi bagi kehidupan sehari‑hari.

Pada akhirnya, setiap benda antik yang dikumpulkan membawa cerita sendiri. Dan bagi para kolektornya, cerita itu bukan hanya soal masa lalu, tetapi juga soal siapa mereka saat ini dan siapa yang ingin mereka jadikan di masa depan. (kam) 

Editor : Hakam Alghivari
#psikologi #Hobi #nostalgia #Barang Antik #makna