RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pernah merasa terdorong beres beres rumah saat suasana hati sedang buruk? Tiba‑tiba kamu menyapu lantai, merapikan rak, atau membersihkan sudut‑sudut yang biasanya kamu abaikan hanya demi menenangkan diri.
Kebiasaan ini disebut “rage cleaning”, bukan sekadar ingin melihat rumah rapi, tapi punya akar psikologis yang dalam.
Dilansir dari Medium, dorongan untuk “membereskan” ruang pribadi saat emosi sedang kacau muncul karena kegiatan tersebut memberi rasa kendali dan kenyamanan cepat—semacam pelarian yang sehat dari kekacauan emosional .
Dikutip dari jurnal “Actual Cleaning and Simulated Cleaning Attenuate Psychological and Physiological Effects of Stressful Events,” baik membersihkan secara fisik maupun sekadar membayangkan aktivitas itu mampu mengurangi stres dan meningkatkan respons tubuh terhadap tekanan.
Di samping itu, VeryWellMind juga menguatkan bahwa rumah yang rapi sering mengurangi ketegangan, meningkatkan konsentrasi, serta menimbulkan rasa pencapaian emosional, menjadikan membereskan sesuatu aktivitas yang menenangkan dan sama berharganya dengan teknik relaksasi lainnya.
1. Kontrol dan Stabilitas Emosional
Saat kamu merasa tak berdaya atau terbebani, membersihkan rumah bisa menjadi cara konkrit untuk mengembalikan rasa kontrol. Dikutip dari studi di News‑Medical, kontrol terhadap lingkungan sekitar memberi efek menenangkan: pikiran ikut rileks saat kamu mengatur apa yang bisa diatur .
Dilansir dari KoalaEco membersihkan menyebabkan fokus pada tindakan berulang—seperti menyapu atau mengelap—yang berfungsi sebagai ritual mindfulness: membawa kamu kembali “ke sini dan sekarang”.
Dengan kata lain, rage cleaning bukan sekadar refleks emosional, tapi bentuk coping adaptif terhadap stres.
2. Melepaskan Emosi: Catharsis & Sublimasi
Menjaga rumah agar tetap rapi saat marah atau sedih memberi efek “pembersihan” emosional—mirip dengan konsep catharsis dalam psikologi.
Dikutip dari VeryWellMind, catharsis adalah proses pelepasan emosi terpendam yang kemudian menghasilkan perubahan positif dan kepuasan emosional.
Selain itu, anggota rage cleaning sering juga mempraktikkan sublimasi, yaitu menyalurkan perasaan negatif menjadi tindakan konstruktif. Dilansir dari VeryWellMind, ini merupakan mekanisme pertahanan dewasa—mengubah impuls agresif atau frustrasi menjadi aktivitas bermanfaat seperti membersihkan.
3. Mengurangi Kecemasan Lewat Rutinitas Fisik
Menata atau membersihkan dengan cara berulang-ulang memicu efek menenangkan. Journal seperti SAGE menyebut bahwa aktivitas membersihkan bisa menurunkan tingkat kecemasan, termasuk respons jantung terhadap stres.
Menurut VeryWellMind, ketika rumah bersih, suasana hati dan fokus meningkat: berkurang gangguan, menurunnya kebingungan, dan peningkatan produktivitas. Otak kita menyukai ruang yang teratur—visual clutter dapat memicu stres dan kelelahan mental.
4. Saat Berlebihan: Mekanisme Kompulsif
Meski rage cleaning dapat bermanfaat, tetapi jika berlebihan bisa menjadi bentuk compulsive behavior. Dikutip dari Wikipedia, perilaku kompulsif termasuk dorongan kuat untuk melakukan suatu aksi berulang—meski sadari tidak masuk akal—sebagai jalan menyelesaikan ketidaknyamanan internal .
Jika menata rumah membuatmu gelisah atau tidak bisa berhenti melakukan aktivitas tersebut, ini mungkin sinyal dari gangguan obsesif‑kompulsif ringan. Mengejawantahkan control lewat membereskan adalah sehat—sampai ia mengambil alih hari dan membebani pikiran.
Kebiasaan “beresin rumah saat emosi” sebenarnya lebih kompleks daripada sekadar ingin rapi. Dari perspektif psikologi, kita bisa menjelaskannya sebagai:
- Kontrol terhadap situasi: mengembalikan stabilitas di tengah kekacauan emosional.
- Catharsis & sublimasi: menyalurkan emosi negatif menjadi aktivitas konstruktif.
- Rutinitas menenangkan: meneutralkan stres dengan aksi fisik berulang.
- Tanda compulsivity (jika berlebihan): risiko beralih ke pola kompulsif.
Jadi, lain kali saat kamu mengambil sapu karena kesal atau sedih—ketahuilah, ini bukan tanda lemah. Ini cara alami tubuh dan pikiran untuk meredakan gejolak dan memulihkan rasa aman. Namun, tetap bijak: jika sudah terasa mengganggu, mungkin saatnya meminta bantuan profesional atau mencari ritual emosional lain yang seimbang. (kam)
Editor : Hakam Alghivari