RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Setelah seharian beraktivitas, malam hari seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat. Namun, banyak dari kita—terutama perempuan usia 20–30 tahun—justru merasa pikiran semakin aktif, merenung berlebihan, bahkan dihantui rasa cemas yang sulit dijelaskan.
Fenomena ini dikenal sebagai overthinking, yakni kecenderungan untuk berpikir berlebihan atau terlalu dalam terhadap suatu hal dan sering kali memuncak saat malam tiba.
Kenapa bisa begitu? Yuk, kita bahas penjelasan psikologis dan ilmiahnya berikut ini.
1. Saat Tenang, Pikiran Tak Lagi Terdistraksi
Pada siang hari, aktivitas dan interaksi sosial menjadi distraksi alami yang membantu mengalihkan fokus kita dari pikiran-pikiran yang memicu stres. Namun saat malam tiba, suasana menjadi tenang dan sepi. Ini memberi ruang bagi pikiran yang tertunda sepanjang hari untuk “menyerbu.”
Menurut penelitian dari Harvard Medical School, otak manusia cenderung menyusun ulang dan merefleksikan kejadian di malam hari karena adanya penurunan rangsangan eksternal. Hal ini selaras dengan fungsi kerja sistem default mode network (DMN), yaitu jaringan otak yang aktif saat kita tidak sedang fokus pada dunia luar—terutama saat beristirahat atau menjelang tidur.
2. Kecemasan yang Tidak Tersalurkan
Perempuan cenderung lebih ekspresif secara emosional, namun juga lebih rentan mengalami kecemasan tersembunyi. Dalam jurnal Anxiety, Stress & Coping (2014), disebutkan bahwa perempuan dua kali lebih mungkin mengalami gangguan kecemasan dibanding laki-laki. Ketika siang hari terlalu sibuk untuk mengolah emosi, malam menjadi saat di mana semua perasaan tersebut muncul ke permukaan.
Kondisi ini semakin diperparah jika tidak ada outlet sehat untuk menyalurkan emosi, seperti menulis jurnal, berbicara dengan orang terdekat, atau melakukan aktivitas reflektif lainnya. Maka, overthinking pun menjadi bentuk “pelarian” otak untuk mengurai kegelisahan.
3. Kurangnya Kualitas Tidur dan Efeknya pada Otak
Ironisnya, overthinking di malam hari juga berkaitan erat dengan kualitas tidur yang menurun. Penelitian dalam Journal of Sleep Research menunjukkan bahwa mereka yang sering mengalami gangguan tidur juga mengalami peningkatan aktivitas kognitif sebelum tidur. Otak tidak dapat memasuki fase istirahat dengan baik jika masih sibuk berpikir.
Kurang tidur akan memperburuk kemampuan otak untuk memproses informasi secara rasional keesokan harinya, menciptakan lingkaran setan overthinking - susah tidur - kelelahan mental - overthinking lagi.
4. Budaya Produktivitas yang Menekan
Generasi muda saat ini hidup dalam budaya produktivitas tinggi yang menuntut pencapaian konstan. Terutama perempuan usia 20–30 tahun yang sedang dalam fase mencari jati diri, membangun karier, hingga mempertimbangkan relasi dan keluarga. Tekanan untuk “menjadi cukup” dan “menjadi versi terbaik diri” membuat pikiran terus bekerja bahkan ketika tubuh sudah ingin istirahat.
Sosiolog dari University of Texas juga mencatat bahwa ekspektasi sosial terhadap perempuan modern menimbulkan tekanan multitasking, yang berdampak pada stres kognitif berkepanjangan.
5. Bagaimana Mengatasi Overthinking Malam Hari?
-
Buat rutinitas malam yang tenang: misalnya membaca buku ringan, menulis jurnal, atau mandi air hangat.
-
Hindari layar gadget setidaknya 30 menit sebelum tidur.
-
Terapkan teknik mindfulness atau pernapasan dalam.
-
Jangan menunda menyelesaikan masalah penting di siang hari.
-
Berlatih menyusun prioritas pikiran: tulis apa yang bisa diselesaikan besok dan tinggalkan sisanya.
Overthinking di malam hari adalah fenomena umum, tapi bukan sesuatu yang tidak bisa dikendalikan. Dengan mengenali penyebab psikologis dan lingkungan yang melatarbelakangi, kita bisa lebih bijak dalam mengelola pikiran. Ingat, istirahat yang cukup dan pikiran yang damai bukanlah bentuk kemalasan, tapi kebutuhan. (kam)
Editor : Hakam Alghivari