RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kabupaten Bojonegoro diperkirakan menjadi lokasi berdirinya pabrik produksi bioetanol dan metanol. Kementerian ESDM menargetkan pabrik selesai dibangun pada 2027 mendatang, dan pabrik akan memperoleh pasokan gas dari kawasan Jambaran Tiung Biru (JTB), Kecamatan Ngasem.
Bioetanol sendiri menrupakan sebuah bahan bakar yang menggunakan tanaman sebagai bahan baku utama. Sehingga pembuatan bioetanol diyakini lebih mudah, hemat, dan mudah diperbarui jika dibandingkan dengan bensin, yang menggunakan bahan dasar minyak bumi.
Selain itu, bioetanol tidak perlu dicampur minyak bumi seperti biodiesel dan dapat langsung dipakai sebagai bahan bakar. Sebaliknya, umumnya bahan bakar minyak bumi dapat dicampurkan dengan bioetanol dengan kadar tertentu untuk menaikkan kadar oktan bahan bakar tersebut.
Selain itu, biodiesel dibuat dengan mengandalkan kadar lemak dalam tanaman yang dijadikan bahan baku, seperti biji jarak dan kemiri. Biodiesel dibuat dengan mengandalkan proses kimia esterifikasi.
Sementara bioetanol mengandalkan proses fermentasi untuk menghasilkan alkohol jenis etanol sebagai bahan bakar, serupa seperti membuat tape, tahu dan tempe. Sehingga bahan baku yang digunakan juga serupa seperti jagung, tebu, kentang, kedelai, berbagai jenis ubi, sagu dan sorgum.
Dengan demikian, produksi bioetanol tergolong mudah karena bahan-bahannya relatif mudah diperoleh dan diperbarui, dibanding dengan minyak bumi yang perlu ditambang dan lama untuk diperbarui. Selain itu produksi tidak harus menggunakan bahan-bahan utuh, limbah pabrik dari bahan baku dapat digunakan kembali untuk proses produksi.
Mengutip dari laman Pertamina, setelah fermentasi bioetanol hanya perlu melalui proses distilasi atau pemurnian agar kadar etanol cukup untuk dijadikan bahan bakar. Agar dijadikan bahan bakar, bioetanol wajib memilik kadar di atas 99,5 persen.
Menurut Pertamina, bioetanol dipercaya menghasilkan karbon dioksida jauh lebih sedikit ketimbang bahan bakar minyak bumi, karena karbon dioksida tersebut secara teknis kembali dari tanaman ke tanaman lain yang berfotosintesis. Dalam jangka panjang, produksi bioetanol juga dapat mendukung kesejahteraan petani yang menanam bahan baku bioetanol, serta mengurangi ketergantungan impor migas.
Brazil merupakan salah satu negara yang telah lama dan sukses dalam menggunakan bioetanol sebagai bahan bakar dalam kehidupan sehari-hari. Bioetanol pertama kali digunakan masyarakat Brazil pada 1975 sebagai solusi krisis minyak bumi saat itu, dengan bahan dasar tebu
Bioetanol dikenalkan secara perlahan oleh pemerintah Brazil dengan mencampur bioetanol dengan minyak bumi. Lama kelamaan, akhirnya kendaraan di Brazil dapat menerima bahan bakar bioetanol murni hingga sekarang, disamping berbagai campuran etanol dengan minyak bumi yang masih dijual. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana