Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Kenapa Banyak Perempuan Memotong Rambut Setelah Tekanan Emosional? Ini Jawaban Menurut Psikologi

Hakam Alghivari • Senin, 12 Mei 2025 | 23:45 WIB
Ilustrasi perempuan yang memilih untuk memotong rambut setelah mengalami tekanan emosional
Ilustrasi perempuan yang memilih untuk memotong rambut setelah mengalami tekanan emosional

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Fenomena memotong rambut setelah mengalami tekanan emosional seperti stres berat, kehilangan, atau patah hati bukanlah sesuatu yang asing, terutama di kalangan perempuan. Meskipun terlihat seperti tindakan sederhana atau bahkan impulsif, perubahan fisik ini menyimpan makna psikologis yang dalam. Banyak orang menghubungkan tindakan ini dengan keinginan untuk tampil berbeda, tetapi lebih dari itu, ia mencerminkan upaya untuk menata ulang kehidupan setelah mengalami disorientasi emosional.

Psikologi memandang tindakan mengubah penampilan, terutama rambut, sebagai mekanisme psikologis dalam menghadapi trauma atau tekanan mental. Rambut merupakan bagian dari identitas dan kontrol diri yang bisa dimanipulasi secara langsung. Oleh sebab itu, ketika segala sesuatu tampak di luar kendali, memotong rambut menjadi bentuk konkret dari "mengambil alih kembali" diri sendiri.

Dilansir dari Healthline dan Psychology Today, dijelaskan bahwa memotong rambut bisa menjadi bagian dari proses pemulihan emosional, simbolisasi transformasi diri, hingga respons fisiologis terhadap trauma dan kehilangan. Berikut ini penjabaran lebih lanjut berdasarkan temuan para ahli psikologi.

1. Potong Rambut sebagai Mekanisme Pengambilan Kontrol

Banyak perempuan memutuskan untuk memotong rambut saat mengalami krisis emosional sebagai cara untuk mengambil alih kendali atas hidup mereka. Saat berada dalam hubungan yang toksik atau menghadapi stres berat, seseorang bisa merasa kehilangan identitas atau agensi. Memotong rambut menjadi simbol bahwa ia masih memiliki kuasa atas tubuh dan dirinya sendiri.

Psikolog klinis juga mencatat bahwa kontrol terhadap aspek fisik seperti rambut bisa memberikan ilusi kestabilan di tengah ketidakpastian emosional. Dalam konteks trauma, tindakan ini bersifat terapeutik, memberikan rasa "me-reset" dan menghapus masa lalu yang menyakitkan. Ini dikenal dalam psikologi sebagai symbolic action, atau perbuatan fisik yang mewakili perubahan mental atau emosional.

Studi dari University of Westminster mendukung hal ini, di mana 74% responden perempuan melaporkan merasa lebih percaya diri setelah mengubah gaya rambut, terutama setelah menghadapi masa emosional sulit.

2. Respons Neurologis terhadap Trauma dan Stimulasi yang Hilang

Individu yang keluar dari hubungan emosional yang bergejolak akan mengalami fase penurunan stimulasi neurologis. Otak yang terbiasa dengan intensitas emosional tiba-tiba mengalami kekosongan, memicu respons disorientatif seperti rasa hampa, marah tanpa arah, atau kebutuhan mendesak untuk melakukan sesuatu yang drastis, termasuk potong rambut.

Fenomena ini dijelaskan sebagai bentuk reaksi otak yang kehilangan pusat stimulusnya. Saat seseorang terbiasa dalam dinamika hubungan yang penuh konflik, otak menjadi “ketagihan” terhadap rangsangan emosional. Ketika rangsangan itu berhenti, otak mencari kompensasi, dan tindakan fisik seperti memotong rambut menjadi pelampiasannya.

Menariknya, Healthline menyebutkan bahwa tindakan memotong rambut dalam fase ini bisa memicu efek neuropsikologis serupa dengan olahraga ringan, yakni memicu pelepasan dopamin dan serotonin, sehingga memberi rasa "mengendalikan" dan memperbaiki suasana hati meskipun sementara.

3. Simbolisasi Transformasi dan Penyembuhan Emosional

Dalam banyak budaya dan studi antropologi, rambut sering dihubungkan dengan kekuatan personal dan simbol masa lalu. Dengan memotong rambut, seseorang secara simbolis “memotong” bagian dari diri yang terikat pada pengalaman negatif. Healthline menyebutnya sebagai “ritual pemutusan”, sejenis tindakan simbolik untuk menandai akhir dari babak tertentu dalam hidup.

Transformasi ini bukan hanya fisik, tetapi juga emosional. Psikolog mencatat bahwa klien sering merasakan kelegaan dan kepercayaan diri yang baru setelah memotong rambut.

Mendukung hal ini, Dr. Vivian Diller dalam Psychology Today menjelaskan bahwa perubahan rambut sering kali menjadi bentuk visible change for invisible healing—sebuah perubahan nyata untuk luka batin yang tidak tampak, mempercepat proses penyembuhan emosional secara tidak langsung.

4. Tindakan Impulsif vs Proses Terapi Diri

Penting untuk membedakan antara tindakan impulsif sebagai bentuk pelarian, dengan tindakan sadar sebagai bagian dari proses penyembuhan. Potong rambut dalam keadaan emosional ekstrem bisa saja menjadi gejala dysregulation emosi yang lebih luas, terutama jika diikuti dengan perilaku destruktif lainnya. Dalam konteks ini, potong rambut bisa menjadi gejala awal dari gangguan kecemasan atau depresi.

Namun, dalam banyak kasus, tindakan ini justru menjadi langkah pertama menuju proses terapi diri. Ia memberi sinyal kepada diri sendiri dan dunia bahwa seseorang siap untuk berubah. Dalam terapi psikologis, perubahan eksternal seperti ini sering kali digunakan untuk memicu motivasi internal.

Bahkan dari sisi fisiologis, seperti disebutkan dalam artikel Healthline, perubahan pada rambut ini dapat memberikan lonjakan neurokimia positif, serupa dengan efek "boost" pasca-olahraga.

5. Perubahan Gaya Rambut sebagai Strategi Penerimaan Diri

Selain sebagai simbol kontrol dan transformasi, mengubah gaya rambut juga sering kali berhubungan dengan proses penerimaan diri. Orang yang memilih memotong rambut setelah kehilangan atau kegagalan emosional tidak selalu ingin melupakan masa lalu, tetapi berusaha menerima realitas baru.

Tindakan ini memberi pesan kuat bahwa seseorang mampu bertahan dan beradaptasi dengan perubahan, bahkan mengintegrasikan pengalaman pahit sebagai bagian dari pertumbuhan dirinya. Dalam banyak sesi terapi, perubahan eksternal ini dianggap sebagai tanda kesiapan untuk menghadapi dunia baru dengan identitas baru. (nnd/mgg)

Editor : Hakam Alghivari
#tekanan emosional #Perempuan #psikologi #memotong rambut #penampilan