RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Tidur merupakan kebutuhan alami manusia, dan seiring tumbuh kembang pribadi, waktu yang diperlukan untuk cukup tidur juga bervariasi. Misal, waktu tidur yang diperlukan seorang balita jauh lebih banyak ketimbang orang dewasa.
Aktivitas dan jenis kelamin juga turut memengaruhi kebutuhan tidur cukup, utamanya bagi perempuan. Selain perbedaan fisiologi dan metabolisme tubuh, pekerjaan dan kegiatan harian turut menghasilkan perbedaan waktu tidur antara perempuan dan laki-laki.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Universitas Loughborough di Inggris, rerata perempuan membutuhkan waktu tidur 20 menit lebih lama ketimbang laki-laki setiap harinya. Hal ini disebabkan oleh proses pemulihan otak yang lebih lama, terlebih kaum wanita lebih sering melakukan multitasking atau mengerjakan banyak hal bersamaan.
“Perempuan butuh lebih banyak waktu tidur karena mereka lebih sering multitasking, sehingga lebih banyak dan lebih intens menggunakan otak mereka,” jelas John Horne, pemimpin penelitian tersebut. John turut menambahkan, efek samping kurang tidur pada wanita, seperti stres, depresi, dan emosi labil juga nampak lebih jelas ketimbang laki-laki, sehingga lebih rentan menyebabkan gangguan jiwa.
Penelitian serupa yang dilakukan Universitas Duke di Amerika Serikat, tidak hanya kesehatan jiwa, perempuan yang kurang tidur juga memiliki risiko terkena penyakit jantung dan diabetes lebih tinggi. “Kurang tidur menyebabkan naiknya kandungan protein C-reaktif dan interleukin-6 yang dapat menyebabkan penyakit jantung, serta naiknya insulin,” terang Edward Suarez, yang memimpin penelitian Universitas Duke.
Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh peneliti Universitas Turku di Finlandia juga menunjukkan perbedaan kebutuhan tidur perempuan pada hari kerja dan akhir pekan juga sedikit berbeda. “Perempuan tidur lebih lama 14 menit di hari kerja, dan lebih lama 32 menit di akhir pekan. Selain itu, rerata perempuan membutuhkan waktu tidur hingga 32 menit lebih lama ketimbang laki-laki,” jelas pemimpin penelitian tersebut, Päivi Polo-Kantola.
Dibanding dengan jenis kelamin dan aktivitas harian, usia lebih banyak memisahkan waktu tidur antar rentang usia. Terutama bagi remaja yang mencapai akhir masa pertumbuhan, sehingga punya waktu tidur yang jauh lebih sedikit ketimbang saat mereka masih kanak-kanak, namun masih perlu tidur lebih lama ketimbang orang dewasa.
Pertumbuhan ini juga menjadi penyebab kaum remaja lebih sering begadang. “Secara alami, manusia mulai mengalami pergeseran jam tubuh saat remaja, sehingga menyebabkan susah tidur dan remaja cenderung tidur saat larut malam,” ujar peniliti Institut Kesehatan John Hopkins, Laura Sterni.
“Remaja juga menjalani proses perkembangan kognitif lanjutan, sehingga butuh waktu tidur lebih banyak untuk perkembangan otak,” tambah kolega Laura di Institut John Hopkins, Michael Crocetti. Menurut Michael, remaja setidaknya butuh waktu tidur ideal 9 hingga 9 ½ jam.
Tentu, berkurangnya jam tidur ideal juga bertambah seiring bertambahnya usia. “Seiring bertambahnya usia, pola tidur mungkin berubah. Lansia cenderung tidur lebih nyenyak dan untuk rentang waktu yang lebih singkat daripada orang dewasa,” papar dokter umum asal Jakarta Timur, Verury Verona Handayani dalam kolomnya di HaloDoc.
Idealnya, remaja usia sekolah (14-17 tahun) butuh waktu tidur 8 hingga 10 jam. Sementara orang dewasa mulai usia 18 tahun ke atas mengalami penurunan kebutuhan waktu tidur, yakni 7 hingga 9 jam. Bahkan kaum lansia cukup tidur hingga maksimal 8 jam.
Sehingga dapat disimpulkan, remaja perempuan perlu waktu tidur lebih lama satu hingga tiga setengah jam ketimbang ibu rumah tangga. Terlebih dengan perbedaan aktivitas dan bebas psikis yang diterima setiap harinya, perempuan butuh lebih banyak tidur nyenyak, namun kaum remaja putri perlu tidur lebih lama lagi demi perkembangan tubuh jelang dewasa. (edo/cho)
Editor : Yuan Edo Ramadhana