Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Inilah Kepribadian di Balik Kebiasaan Menonton Ulang Film, Menurut Psikologi

Hakam Alghivari • Senin, 28 April 2025 | 00:44 WIB
Ilustrasi seseorang yang sedang menonton film
Ilustrasi seseorang yang sedang menonton film

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Menonton film adalah salah satu bentuk hiburan yang paling populer di seluruh dunia. Setiap orang memiliki genre favorit mereka sendiri, mulai dari drama yang menyentuh hingga film aksi penuh adrenalin. Biasanya, setelah menonton sebuah film, seseorang akan mencari pengalaman baru dengan menonton film lain. Namun, ada pula sekelompok orang yang justru merasa nyaman dan bahagia menonton film yang sama berulang kali.

Fenomena ini, meskipun tampak sederhana, ternyata menarik perhatian para psikolog. Mengapa seseorang ingin terus kembali pada cerita yang sudah mereka ketahui akhirnya? Bukankah kejutan dan ketidakpastian adalah sebagian besar dari daya tarik menonton film? Jawabannya melibatkan faktor kepribadian yang lebih dalam, seperti kebutuhan akan kestabilan emosional, kenyamanan psikologis, atau bahkan strategi coping terhadap stres.

Dikutip dari Psychology Today, kebiasaan menonton film yang sama berulang kali berkaitan erat dengan kebutuhan emosional tertentu, mekanisme relaksasi, dan juga karakter kepribadian seperti keterbukaan terhadap pengalaman atau tingkat kecemasan yang dimiliki seseorang. Artikel ini akan menguraikan lebih lanjut aspek-aspek psikologis yang mendasarinya.


1. Pencarian Kenyamanan Emosional


Bagi banyak orang, menonton film yang sama berulang kali berfungsi sebagai "selimut emosional". Film yang sudah diketahui alurnya menciptakan rasa aman dan stabil, yang sangat menenangkan terutama di saat seseorang merasa tertekan atau cemas. Tanpa ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi, individu dapat menikmati momen-momen favoritnya tanpa rasa khawatir.

Dalam psikologi, hal ini disebut sebagai "kontrol prediktif", di mana orang merasa lebih nyaman ketika mereka tahu persis apa yang akan terjadi. Ketidakpastian dalam hidup nyata sering kali menimbulkan stres, sehingga menonton film yang sudah akrab menjadi semacam ritual menenangkan untuk menjaga keseimbangan emosional.

2. Keterikatan Emosional dan Nostalgia


Film tertentu sering kali terkait dengan kenangan spesifik, seperti masa kecil, momen bahagia, atau hubungan penting. Menonton ulang film tersebut membantu menghidupkan kembali emosi positif yang pernah dirasakan. Ini mirip dengan mendengarkan lagu favorit dari masa lalu.

Nostalgia dalam psikologi terbukti meningkatkan suasana hati, memperkuat identitas diri, dan memberikan rasa koneksi terhadap masa lalu. Oleh karena itu, kepribadian yang lebih sentimental atau reflektif cenderung memiliki kecenderungan lebih besar untuk menonton ulang film favorit mereka.

3. Strategi Coping terhadap Stres


Beberapa orang menggunakan aktivitas menonton ulang film sebagai mekanisme coping untuk menghadapi tekanan hidup. Karena film tersebut memberikan pengalaman yang bisa diprediksi, hal ini membantu menurunkan tingkat kortisol atau hormon stres dalam tubuh.

Menurut Psychology Today, mekanisme ini lebih banyak ditemukan pada individu dengan tingkat neurotisisme yang lebih tinggi, yaitu kecenderungan mengalami emosi negatif seperti kecemasan dan ketakutan. Dengan menonton film yang sama, mereka bisa merasa kembali mengendalikan emosinya.

4. Karakteristik Kepribadian: Rendah dalam Pencarian Sensasi


Orang yang sering menonton film yang sama berulang-ulang cenderung memiliki skor rendah dalam trait "pencarian sensasi" (sensation-seeking). Artinya, mereka tidak terlalu mencari pengalaman baru atau ketegangan tinggi, dan lebih menyukai stabilitas.

Berbeda dengan mereka yang berjiwa petualang yang selalu mencari film baru, individu dengan pencarian sensasi rendah lebih menghargai rasa akrab, stabil, dan dapat diprediksi yang diberikan oleh film yang telah dikenal. Ini adalah bentuk lain dari "comfort zone" psikologis.

5. Pengalaman yang Berbeda dari Film yang Sama


Menariknya, walaupun alur ceritanya tidak berubah, orang bisa mendapatkan pengalaman yang berbeda setiap kali menonton ulang. Perspektif baru, kondisi emosional saat itu, atau aspek kecil yang dulu terlewat bisa membuat film terasa berbeda.

Ini menunjukkan adanya keterbukaan terhadap pengalaman dalam kadar tertentu, meskipun dalam kerangka yang aman dan dikenal. Dengan kata lain, menonton ulang film bisa menjadi sarana refleksi diri dan pertumbuhan emosional yang halus. (nnd/mgg)

Editor : Hakam Alghivari
#psikologi #kebiasaan #kepribadian #menonton film