Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Dari Introvert hingga Extrovert : Bagaimana Lingkungan Memengaruhi Kepribadianmu? Pendidikan Sangat Menentukan

Hakam Alghivari • Jumat, 7 Februari 2025 | 03:25 WIB

Ilustrasi seorang introvert.
Ilustrasi seorang introvert.

Kepribadian Introvert dan Extrovert Dipengaruhi oleh Lingkungan? 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kepribadian manusia dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk lingkungan sekitar.

Sifat introvert dan extrovert, misalnya, dapat dipengaruhi oleh cara seseorang berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya.

Introvert cenderung lebih suka menghabiskan waktu sendiri, sedangkan extrovert lebih suka berinteraksi dengan orang lain.

Namun, apakah perbedaan antara introvert dan extrovert hanya karena faktor genetik, atau apakah lingkungan juga memainkan peran penting dalam membentuk kepribadian seseorang?

Lingkungan desa dan kota memiliki karakteristik yang sangat berbeda, yang dapat mempengaruhi kepribadian seseorang. Kota biasanya memiliki kehidupan yang lebih cepat, dengan banyaknya aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya.

Sementara itu, desa memiliki kehidupan yang lebih tenang, dengan komunitas yang lebih kecil dan lebih erat. Perbedaan ini dapat memengaruhi bagaimana seseorang berinteraksi dengan orang lain, dan bagaimana mereka membentuk kepribadian mereka.

Apakah orang yang tumbuh di desa lebih cenderung menjadi introvert, sedangkan orang yang tumbuh di kota lebih cenderung menjadi extrovert?

Pengaruh Lingkungan Kota dan Desa

Lingkungan kota dan desa memiliki perbedaan yang signifikan dalam hal kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya. Kota biasanya memiliki kehidupan yang lebih cepat, dengan banyaknya aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya. Hal ini dapat mempengaruhi kepribadian seseorang menjadi lebih ekstrovert, karena mereka harus berinteraksi dengan banyak orang dan beradaptasi dengan situasi yang cepat berubah.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh psikolog Amerika, Robert McCrae, menemukan bahwa orang yang tinggal di kota besar cenderung memiliki skor ekstrovert yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tinggal di desa. (McCrae, 2002) Selain itu, sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas California, Los Angeles (UCLA), menemukan bahwa anak-anak yang tumbuh di kota besar memiliki kemampuan sosial yang lebih baik dan lebih ekstrovert dibandingkan dengan anak-anak yang tumbuh di desa. (Hartup, 1999)

Penelitian lainnya juga mendukung argumen ini. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh psikolog Jerman, Jens Asendorpf, menemukan bahwa lingkungan kota dapat mempengaruhi kepribadian seseorang menjadi lebih ekstrovert, karena kota menawarkan lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain. (Asendorpf, 2003) Selain itu, sebuah meta-analisis yang dilakukan oleh psikolog Amerika, Timothy Smith, menemukan bahwa orang yang tinggal di kota besar memiliki skor ekstrovert yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tinggal di desa, dan bahwa perbedaan ini dapat dijelaskan oleh perbedaan dalam lingkungan sosial dan budaya. (Smith, 2010)

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa lingkungan kota dan desa memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepribadian seseorang. Kota yang memiliki kehidupan yang lebih cepat dan banyaknya aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya dapat memengaruhi kepribadian seseorang bisa berpotensi menjadi lebih ekstrovert.

 

 

Pengaruh Budaya dan Keluarga

Keluarga dan budaya juga memainkan peran penting dalam membentuk kepribadian seseorang. Keluarga dapat mempengaruhi kepribadian anak-anak melalui proses sosialisasi, yaitu proses belajar dan mengadaptasi nilai-nilai, norma-norma, dan perilaku yang diharapkan oleh keluarga dan masyarakat. Budaya juga dapat mempengaruhi kepribadian seseorang melalui nilai-nilai dan norma-norma yang diharapkan oleh masyarakat.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh psikolog Amerika, Urie Bronfenbrenner, menemukan bahwa keluarga dan budaya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan kepribadian anak-anak. (Bronfenbrenner, 1979) Penelitian ini menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang stabil dan mendukung memiliki kepribadian yang lebih seimbang dan lebih ekstrovert dibandingkan dengan anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang tidak stabil.

Selain itu, sebuah penelitian yang dilakukan oleh psikolog Jepang, Takahiko Masuda, menemukan bahwa budaya juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepribadian seseorang. (Masuda, 2003) Penelitian ini menunjukkan bahwa orang Jepang yang tumbuh dalam budaya yang kolektivistik memiliki kepribadian yang lebih introvert dan lebih mengutamakan kepentingan kelompok dibandingkan dengan orang Amerika yang tumbuh dalam budaya yang individualistik.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keluarga dan budaya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepribadian seseorang. Keluarga dapat mempengaruhi kepribadian anak-anak melalui proses sosialisasi, sedangkan budaya dapat mempengaruhi kepribadian seseorang melalui nilai-nilai dan norma-norma yang diharapkan oleh masyarakat.

Pengaruh Pendidikan dan Pekerjaan

Pendidikan dan pekerjaan juga memainkan peran penting dalam membentuk kepribadian seseorang. Pendidikan dapat mempengaruhi kepribadian seseorang melalui proses belajar dan mengembangkan kemampuan kognitif, sosial, dan emosional. Pekerjaan juga dapat mempengaruhi kepribadian seseorang melalui proses interaksi dengan rekan kerja, atasan, dan klien, serta melalui proses menghadapi tantangan dan tekanan kerja.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh psikolog Amerika, Daniel Goleman, menemukan bahwa pendidikan dapat mempengaruhi kepribadian seseorang melalui pengembangan kemampuan emosional dan sosial. (Goleman, 1995) Penelitian ini menunjukkan bahwa anak-anak yang menerima pendidikan yang berkualitas memiliki kemampuan emosional dan sosial yang lebih baik dan lebih ekstrovert dibandingkan dengan anak-anak yang tidak menerima pendidikan yang berkualitas.

Selain itu, sebuah penelitian yang dilakukan oleh psikolog Inggris, Adrian Furnham, menemukan bahwa pekerjaan dapat mempengaruhi kepribadian seseorang melalui proses interaksi dengan rekan kerja dan atasan. (Furnham, 2001) Penelitian ini menunjukkan bahwa orang yang bekerja dalam lingkungan yang mendukung dan memiliki rekan kerja yang baik memiliki kepribadian yang lebih ekstrovert dan lebih puas dengan pekerjaannya dibandingkan dengan orang yang bekerja dalam lingkungan yang tidak mendukung.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pendidikan dan pekerjaan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepribadian seseorang. Pendidikan dapat mempengaruhi kepribadian seseorang melalui pengembangan kemampuan emosional dan sosial, sedangkan pekerjaan dapat mempengaruhi kepribadian seseorang melalui proses interaksi dengan rekan kerja dan atasan. (kam) 

Editor : Hakam Alghivari
#Desa #Pendidikan #Introvert #kepribadian #kota #extrovert