RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu Terkenal dengan berbagai hasil alamnya yang dapat diperoleh masyarakat. Di sisi timur, warga dapat menikmati bakso dan ikan di Bendungan Gerak, sementara di sisi utara, masyarakat dapat memetik buah belimbing di Agrowisata Belimbing Ngringinrejo.
Berjarak 20-30 menit dari pusat kota Bojonegoro, Agrowisata Belimbing telah berdiri sejak 1984 sebagai kebun badan usaha milik desa (BUMDes) yang memanfaatkan kekayaan alam desa di pinggir sungai Bengawan Solo tersebut. Namun, pada 2011, kebun tersebut disulap menjadi lokasi agrowisata untuk menambah daya tarik pengunjung, dengan harga tiket hanya Rp 6.000 per orang.
Di dalam destinasi wisata, para pengunjung dapat memetik belimbing langsung dari pohonnya, baik langsung menggunakan tangan maupun alat bantu. Namun jika malas atau tidak dapat memetik buah, pengunjung juga dapat langsung berbelanja belimbng dan buah-buahan tropis lain dengan petani setempat yang membuka lapak di area wisata.
Buah-buahan yang dijajakan oleh petani juga tergolong murah, dengan harga tergantung ukuran. Belimbing ukuran kecil dan sedang dipasangi harga Rp 5.000 per buah, sedangkan belimbing besar dikenakan biaya dua kali lipat, sebesar Rp 10.000 per buah.
Tidak hanya perkebunan, terdapat pula berbagai wahana pendukung, seperti panggung hiburan di dekat pintu masuk wisata, serta miniatur kereta di belakang kebun. Panggung wisata selalu ramai pada akhir pekan, dan dipenuhi dengan pertunjukan musik dan seni.
Agrowisata Kebun Belimbing juga menjadi salah satu simbol kemakmuran dan suburnya sumber daya alam Bojonegoro. Selain Festival Belimbing yang digelar tahunan oleh masyarakat Desa Ngringinrejo, beberapa tahun belakangan destinasi wisata ini juga menjadi salah satu lokasi perjamuan tamu peserta Bojonegoro Thengul International Folklore Festival (B-TIFF).
Selain memberikan kesempatan pada peserta mancanegara untuk mengenal dan merasakan buah belimbing, mereka juga diberi kesempatan untuk memetik dan membawa pulang belimbing yang mereka petik atau beli. Selain itu, mereka juga disajikan berbagai kudapan lokal serta dikenalkan oleh berbagai kesenian dan tradisi lokal, seperti cara menggunakan lesung. (edo/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana