Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Padangan Heritage: Bangunan Sejarah yang Siap Menjadi Ikon Wisata dan Literasi Bojonegoro

Yuan Edo Ramadhana • Rabu, 11 September 2024 | 15:00 WIB
IKONIK: Sebuah bangunan rumah tua berarsitektur kolonial Belanda kini disebut sebagai Padangan Heritage sangat ikonik. Rumah tua yang berada di Desa/Kecamatan Padangan, Bojonegoro itu kelak bisa menja
IKONIK: Sebuah bangunan rumah tua berarsitektur kolonial Belanda kini disebut sebagai Padangan Heritage sangat ikonik. Rumah tua yang berada di Desa/Kecamatan Padangan, Bojonegoro itu kelak bisa menja

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Di tengah hiruk-pikuk kawasan Kecamatan Padangan, Bojonegoro, berdiri sebuah bangunan rumah tua bersejarah yang kini dikenal sebagai Padangan Heritage. Bangunan tersebut, pernah menjadi kediaman Haji Ali Rasyad, seorang pengusaha tembakau terkemuka pada awal abad ke-20.

Bangunan rumah tua itu memiliki daya tarik tersendiri dengan arsitektur kolonial Belanda yang memikat. Berdiri sejak 1911, rumah ini tidak hanya menyimpan nilai estetika, tetapi juga menyimpan sejarah panjang perdagangan tembakau di wilayah ini. Sehingga, menjadikan Padangan sebagai salah satu pusat perdagangan penting di masa kolonial.

Meski telah diproyeksikan menjadi museum, Padangan Heritage saat ini masih belum dilengkapi dengan koleksi artefak sejarah yang memadai. Kepala Desa (Kades) Padangan, Kristianawati menyebutkan, bahwa meskipun bangunan ini sudah dapat diakses oleh publik, pemanfaatannya sebagai museum secara resmi masih menunggu peresmian dari pihak terkait.

’’Potensinya besar, baik untuk wisata sejarah maupun pengembangan literasi masyarakat. Sayang, sampai saat ini belum ada koleksi benda bersejarah di dalamnya,” ujarnya. Sementara itu, antusiasme warga sekitar terhadap pengembangan museum ini cukup tinggi.

Kristianawati berharap Padangan Heritage segera diresmikan dan dilengkapi koleksi sejarah. Ia optimistis museum ini dapat menjadi destinasi wisata yang mengangkat ekonomi lokal dan memberikan edukasi sejarah kepada masyarakat luas.

’’Kami berharap Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro segera mengambil langkah untuk mempercepat proses peresmian dan pengembangan museum ini,” tambahnya. Dengan potensi yang dimilikinya, Padangan Heritage dapat menjadi pusat wisata sejarah yang menarik sekaligus mengangkat literasi di kalangan masyarakat Bojonegoro.

Tinggal menunggu langkah konkret dari pihak terkait untuk mewujudkan visi besar ini. Komunitas literasi dan taman baca di sekitar Padangan juga berharap kehadiran museum ini bisa menjadi wadah edukasi sejarah bagi masyarakat setempat.

Juhari, salah satu warga yang tinggal di belakang area museum berpendapat, bahwa museum ini dapat memberikan nilai lebih dalam upaya memperkenalkan sejarah lokal. ’’Jika museum ini diresmikan dan dilengkapi koleksi, maka masyarakat akan memiliki akses yang lebih baik terhadap literasi sejarah, terutama generasi muda yang mungkin belum begitu mengenal masa lalu Padangan,” jelasnya.

Namun, tantangan terbesar saat ini adalah penyediaan koleksi benda bersejarah yang sesuai dengan narasi sejarah yang ingin diangkat. Padangan, dengan latar belakangnya sebagai pusat perdagangan pada masa kolonial, memiliki potensi besar untuk diangkat sebagai destinasi wisata sejarah.

Keberadaan museum ini bisa membuka peluang wisata baru bagi Padangan, khususnya dengan daya tarik arsitektur kolonialnya yang khas. Bahkan, sebelum diresmikan, bangunan ini sudah menarik perhatian beberapa pasangan yang memilihnya sebagai lokasi pre-wedding, menandakan bahwa estetika bangunan ini memiliki daya tarik tersendiri. (fra/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#pariwisata #Pengusaha #kolonial #Wisata #destinasi wisata #pre-wedding #belanda #Padangan #sejarah lokal #Edukasi #Generasi Muda #Ekonomi #Kolonial Belanda #sejarah #edukasi sejarah #museum #disbudpar #bojonegoro #artefak #heritage #tembakau #Arsitektur #kepala desa #kades