Berawal dari dua kucing kesayangannya, Novitasari saat ini, telah membudidayakan sebanyak 14 kucing ras di rumahnya. Sehingga, dia terjun bisnis hewan berbulu itu.
BANYAKNYA minat masyarakat pelihara kucing menjadi lahan bisnis baru. Baginya, merawat kucing butuh ketelatenan dan kasih sayang. Perempuan asal Desa Brumbung, Kecamatan Jepon tersebut melihat peluang berbisnis budidaya kucing ras.
Di rumahnya, saat ini, terdapat empat kucing ras. Di antaranya Anggora, Himalaya, Persia, dan Pesek. ’’Awalnya dua kucing milik pribadi, terus bertambah saat ini menjadi 14 kucing,” ujarnya.
Novita mengaku ide bisnisnya berawal dari kecintaan kepada kucing. Ia sering unggah keseharian merawat kucing di media social (medsos). Ternyata, banyak yang komentar dan merespons ingin mengadopsi.
’’Dulu iseng-iseng unggah, eh ternyata ada yang mau adopsi, lalu membeli kucing,” katanya. Melihat peluang tersebut, dirinya mulai berani membudidayakan kucing beragam ras di rumah.
Paling banyak kucing ras Anggora. Karena paling sering berkembang biak. Kemudian, seiring berjalannya waktu, ia menambah kucing ras Himalaya, Persia, dan Pesek. Perempuan kelahiran 1989 tersebut menjelaskan, harga jual kucing rerata di kisaran Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu per ekor dengan minimal jual di umur 2,5 bulan hingga 3 bulan.
Namun, nominal harga tersebut bisa berubah, tergantung selera pembeli, bisa jadi malah lebih tinggi kalau sudah minat dengan kucing yang diinginkan. ’’Kalau saya seringnya jual yang Anggora, untuk yang pesek ini baru mulai satu ekor,” katanya.
Tentu, dirinya juga mempertimbangkan pakan ketika dari skema peliharaan rumah menjadi budidaya untuk dibisniskan. Ia menyiasati dengan pakan yang sesuai standar di pasaran. Sebab, saat awal mulai ia masih menggunakan pakan yang mahal.
’’Pakan pun saya sesuaikan dengan harga jual di pasaran,” jelasnya. Uniknya, ke 14 kucing yang dibudidayakan diberi nama saat lahiran. Menurutnya, hal itu untuk lebih mempunyai kedekatan dengan kucing.
Sebab, memelihara kucing butuh ketelatenan dan rasa sayang. ’’Dua kucing pertama saya beri nama Simba dan Shela. Dan, kedua kucing itu tidak akan saya jual,” ungkapnya. Novita menerangkan, kucing pun seperti halnya manusia, karena bisa mengalami stres.
Stres pada kucing bisa berasal dari birahi yang tidak bisa tersalurkan, termasuk jika ruangan tidak ada ventilasi dan udara yang lembab. Akibatnya, kucing akan gampang terserang jamur dan penyakit lain.
’’Biasanya kalau tempatnya kurang memadai, kucing banyak terserang penyakit,” terangnya. Belajar dari pengalaman, kucing yang di kandang lebih rentan terkena penyakit. Akhirnya, ia membiarkan peliharaan kucingnya bebas berkeliaran di rumah. ’’Berbaur dengan orang-orang rumah,” tambahnya. (luk/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana