BLORA, Radar Bojonegoro - Masa lalu tak selamanya pahit. Misalnya, barang berharga di masa lalu, kini menjadi barang antik. Bisa dijadikan koleksi. Hal itu dilakukan Chuplis, pemuda asal Desa Karangtengah, Kecamatan Ngawen itu sejak duduk di bangku SMA.
Kebiasaan unik selaras dengan namanya yang juga unik. Kini, dirinya telah mengoleksi kurang lebih 2.000 barang antik. Bak museum pribadi, bahkan rumahnya tak menyerupai rumah pada umumnya. Dalam pantauan, seisi rumahnya dipenuhi koleksi barang antik miliknya.
Mulai dari barang-barang dari kayu seperti lesung, hingga yang terbuat dari kuningan. Juga barang-barang tinggalan masa kolonial. Seperti bifet, sketsel, hingga perabotan rumah tangga lain. ’’Dulu memulai hobi ini cuma sekadar buat mengisi pajangan di kamar aja. Karena bagus, jadinya keterusan sampai saat ini,” jelasnya.
Tak hanya barang perabotannya yang klasik. Dirinya juga mengoleksi motor klasik seperti F1Z-R dan Vespa. Bahkan, sampai sekarang pun ia tak pernah membeli kendaraan bermotor baru dari dealer. Hobinya didukung dengan kebiasaannya suka touring.
Dari saling silaturahmi, ia menemukan ada koleksi-koleksi dan pajangan barang unik maupun lawas milik teman-temannya itu. Ia akui, awalnya memang niat hanya mengoleksi. Tetapi, empat tahun belakangan, ia mulai berpikir ulang. Lantaran banyak teman menawar.
Sehingga berpikir juga soal bisnis. ’’Ya, akhirnya beberapa teman-teman minat, saya jual. Ternyata lumayan. Lagian saya sudah banyak juga relasi dan jaringan di luar. Jadi, kalau mau cari lagi gampang,” tuturnya.
Ia menyebut hobinya itu mengasyikkan. Lantaran juga bernilai profit sembari bisa touringi. Tetapi, belakangan barang-barang yang dicari sudah mulai langka. Menurutnya, ia bisa mendapatkan barang-barang itu dengan beragam cara.
Mulai dari berburu ke rumah-rumah tua, beli secara online, hingga kerja sama dengan sesama kolektor. Sejauh ini barang-barang antik yang dimiliki dan dijual berasal dari beragam jenis. Jenis barang kuningan ada bokor dan setrika.
Kemudian dari barang elektronik ada televisi dan radio zaman dulu. Juga ada mainan jadul. Serta, lukisan dan jam dinding zaman kolonial. ‘’Ini sudah ada 2.000 koleksi. Dengan harga terendah Rp 100 ribu hingga yang paling mahal Rp 11 Juta. Barang yang paling saya sukai itu radio antik. Soalnya termasuk alat komunikasi tertua,” terangnya. (hul/bgs)
Editor : Hakam Alghivari