LAMONGAN, Radar Lamongan - Cuaca panas menyelimuti perjalanan ke rumah Dhanang Kriwul, peternak murai batu di Dusun Bakalan, Desa Sidorejo, Kecamatan Deket. Dhanang Kriwul menyulap rumah berukuran 4 meter x 17 meter menjadi kandang produksi murai batu. Terdapat sekitar 60 ekor anakan hingga indukan burung murai batu di sana.
Di ruang depan terdapat burung murai batu siap jual, yang ditempatkan pada sangkar terpisah. Menuju ke ruang tengah, terdapat burung anakan yang masih disuapi. Sedangkan, di ruang paling belakang terdapat satu kandang berukuran 1 meter x 2 meter. Di ruang berukuran 8,5 meter inilah, burung murai batu dikawinkan dan menghasilkan telur. Di depan kandang dilengkapi kolam, dengan suara gemericik air.
Kriwul, sapaan akrabnya mulai hobi memelihara burung sejak Tahun 2009. Namun, dia baru memulai beternak burung murai batu Tahun 2018. Awalnya, dia masih memahami karakter burung, serta mempelajari permasalahan perawatan burung murai batu.
Saat ini, dia mulai membeli burung murai batu jawara nasional. Sebab, menurut Kriwul, trah (keturunan) burung sangat mempengaruhi kualitas anakan burung. Bahkan, dia merogoh kocek hingga Rp 435 juta untuk membeli indukan burung murai batu jawara nasional.
‘’Untuk burungnya saja, jadi benar-benar fokus beternak, karena ilmu tertinggi itu pada beternak,’’ tuturnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (14/10).
Indukan jantan paling mahal yang dibelinya seharga Rp 90 juta per ekor. Sedangkan, indukan betina paling mahal Rp 30 juta per ekor. Kriwul mengaku terkadang orang hanya mengandalkan indukan jantan, serta menghiraukan kualitas betina. Padahal, indukan jantan dan betina yang berkualitas sama pentingnya.
‘’Rata-rata teman-teman mengabaikan betina, kalau betina di bawah jantan otomatis 18 persen, itu akan mengurangi kualitas pejantan. Kalau grade sejajar, akan naik kualitasnya,’’ ujar bapak dua anak ini.
Upayanya dalam mengawinkan pejantan dan betina berkualitas, berbanding lurus dengan hasilnya. Kriwul mengaku satu bulan bisa menjual 15 ekor sampai 30 ekor burung murai batu. Penjualan paling jauh ke Palembang, Bangkabelitung, dan Bali. Kisaran harga paling rendah Rp 1,5 juta, untuk paling mahal Rp 7 juta dengan usia masih dua bulan. ‘’Setelah (anakan, Red) bisa mandi dan makan sendiri, baru dikirim,’’ ucapnya.
Namun, penjodohan pejantan dan betina burung murai batu tidak semudah yang dilihat. Kriwul mengatakan, permasalahan itu biasa dialami peternak pemula. Namun, Kriwul memiliki trik untuk menjodohkan di awal. Yakni, melihat kondisi betina dan jantan.
‘’Birahi betina kalau sudah keluar, itu biasanya lompat-lompat. Kita bisa cek dengan diberikan daun cemara, kalau sudah dipatuk, berarti sudah birahi,’’ ungkapnya.
Berdasarkan pengamatannya, murai batu paling banyak bertelur empat butir. Bisa menetas semua, terpenting harus memperhatikan pola makan. Kriwul mengatakan, peralihan cuaca memberikan pengaruh pada anakan murai batu. Biasanya umur tujuh hari hingga 21 hari berpotensi terserang berak kapur. Selain itu, terkena peradangan sendi dan bisa komplikasi.
‘’Kalau seperti itu, antisipasinya kalau dingin diberikan lampu. Jika panas, buka tutup jendala untuk sirkulasi udara, kemudian vitamin dan pakan harus bagus,’’ imbuhnya. (sip/ind)
Editor : Hakam Alghivari