LONTONG kikil Bu Sarpin sudah cocok dengan lidah pelanggannya sejak 36 tahun silam. Setiap hari membutuhkan sekitar 15 kilogram kikil sapi.
tak lengkap rasanya jika berkunjung Kabupaten Bojonegoro, tanpa mencicipi kuliner khas Kota Migas ini. Salah satunya lontong kikil Bu Sarpin.
Lokasinya tak jauh dari pusat kota dan mudah dijangkau, membuat masyarakat dalam hingga luar kota wajib mencicipinya. Terlebih rasanya pedas dan gurih bikin nagih.
Tepatnya di barat Jembatan Sosrodilogo, Kecamatan Trucuk. Sekitar 10 kilometer dari Alun-Alun Bojonegoro. Pengunjung dapat menikmati panorama jembatan di atas Sungai Bengawan Solo dengan menikmati sajian cita rasa khas kuliner juara satu dalam ajang perlombaan thengul tersebut.
‘’Jualan lontong kikil sejak 1987,” kata Bu Sarpin, Pemilik Warung Lontong Kikil.
Dia menceritakan, awalnya lontong kikil buatannya dijual di pasar, sebelum di barat Jembatan Sosrodilogo. Dalam menyiapkan bahan hingga peralatan masak lontong kikil, Bu Sarpin dibantu sang suami.
Bahkan, tak diragukan lagi karena sudah berjualan selama 36 tahun membuat lontong kikil Bu Sarpin sering kali menjuarai kontes memasak. Salah satunya juara satu kontes memasak lontong kikil dalam perlombaan kuliner thengul yang dinilai langsung oleh Chef Juna (juri Master Chef Indonesia).
‘’Lomba thengul lalu kami juara satu jurinya Chef Juna,” kenangnya.
Dalam produksi lontong kikil, Bu Sarpin menghabiskan sekitar 3 kilogram beras atau 55 lontong dan sepuluh hinggga 15 kilogram kikil sapi setiap harinya.
Harganya pun cukup ekonomis. Dibanderol mulai Rp 13.000 untuk satu porsi lontong tiga tusuk kikil dan Rp 15.000 untuk empat tusuk kikil.
‘’Khasnya kami menggunakan bumbu pepek (lengkap) dalam memasak sayur atau kuah kikilnya,” pungkasnya. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana