RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kementerian Agama RI (Kemenag) berencana menggelar sidang isbat untuk memantau hilal atau bulan baru pada minggu depan, tepatnya 17 Mei mendatang. Selain menentukan datangnya bulan Dzulhijjah, sidang isbat ini juga bakal menentukan kapan jatuhnya Hari Raya Idul Adha.
Sebagai pengingat, Hari Raya Idul Adha, atau juga dikenal sebagai lebaran haji dan Idul Qurban, jatuh setiap 10 Dzulhijjah dalam kalender Hijriyah. Sehingga ada jarak sembilan hari antara sidang isbat dengan jatuhnya Idul Adha.
Momen ini bertepatan dengan puncak ibadah haji di wilayah Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna). Setelah melaksanakan wukuf di Arafah dan melaksanakan mabit di Muzdalifah pada 9 Dzulhijjah (Hari Arafah), sebagian besar ibadah haji dituntaskan pada keesokan harinya, termasuk melakukan lempar jumrah, tahallul atau mencukur rambut, melaksanakan thawaf ifadah, dan sa’i.
“Sidang isbat merupakan forum musyawarah yang mempertemukan pemerintah, ormas Islam, serta para ahli falak dan astronomi dalam menetapkan awal bulan Hijriah,” jelas Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI, Abu Rokhmad pada Rabu (6/5), sebagaimana dikutip dari laman Kemenag dan Antara.
Sidang isbat bakal dilakukan dengan metode yang sama dengan sidang pada bulan Ramadan lalu, yakni dengan mengandalkan data perhitungan (hisab) dan pengamatan langsung (rukyat). Sehingga data hisab yang telah diperoleh bakal menjadi pedoman untuk konfirmasi posisi bulan baru melalui rukyatul hilal.
Baca Juga: Lebaran Idul Adha 2026 Serentak? Cek Jadwal Versi Pemerintah, Muhammadiyah, dan NU
“Pendekatan ini memastikan keputusan yang diambil tidak hanya berbasis data ilmiah, tetapi juga terkonfirmasi melalui pengamatan lapangan,” tambah Rokhmad.
Menurut Rokhmad, hisab yang telah dikantongi Kemenag saat ini telah memenuhi kriteria MABIMS (Malaysia, Brunei Darussalam, Indonesia dan Singapura), sehingga diyakini tidak ada penambahan sehari seperti Ramadan lalu. Hanya saja, pada akhirnya perhitungan tersebut tetap harus dikonfirmasi melalui rukyat.
“Perhitungan menunjukkan tinggi hilal berada di atas 3 derajat dan elongasi di atas 6,4 derajat, sehingga secara teori telah memenuhi kriteria imkan rukyat,” ujar Rokhmad. Sehingga jika hilal nampak pada 17 Mei, Hari Arafah bakal jatuh pada 26 Mei, dan Hari Raya Idul Adha bakal jatuh pada 27 Mei.
Berdasarkan Informasi Prakiraan Hilal dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), saat matahari terbenam pada 17 Mei di wilayah Indonesia, tinggi hilal berkisar antara 3,29 derajat di Merauke, Papua hingga 6,95 derajat di Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam. Sementara elongasi bulan berkisar antara 8,91 derajat di Merauke hingga 10,62 di Sabang.
Di wilayah Jawa Timur, tinggi bulan saat matahari terbenam pada tanggal tersebut berada di ketinggian 4,44 dderajat dengan elongasi 9,86 derajat. Sementara di Bojonegoro, bulan diperkirakan berada di ketinggian 4,50 derajat dengan elongasi 9,89 derajat.
Menariknya, hal ini juga berarti ada kemungkinan Hari Raya Idul Adha versi pemerintah bakal jatuh bersamaan sesuai dengan perhitungan dari organisasi masyarakat Muhammadiyah, yang menggunakan perhitungan hisab Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT). Bedanya, perhitungan hisab Muhammadiyah sebagaimana tertuang dalam Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 berlandaskan perhitungan ijtimak pada 29 Dzulqaidah, atau 16 Mei.
Menurut maklumat tersebut, saat matahari terbenam pada 16 Mei, tidak ada wilayah di seluruh dunia yang mengalami hilal memenuhi ketentuan Parameter Kalender Global (PKG), yakni tinggi minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derjat. Sehingga PP Muhammadiyah menyimpulkan bahwa 1 Dzulhijjah jatuh pada 18 Mei, Hari Arafah jatuh pada 26 Mei, dan Hari Raya Idul Adha jatuh pada 27 Mei. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana