Lenggak-lenggok sang ibu berjalan dengan pakaian-pakaian yang masih kinyis-kinyis. Demi pawai dilihat banyak orang dan berkeliling kota, ibu-ibu masih muda itu nekat mengeluarkan kocek demi membeli baju baru. Rela mengeluarkan uang jatah beli beras demi membeli baju baru.
Bahkan, uang untuk membayar arisan terpaksa ditunda, hanya untuk bisa membeli parfum dengan aroma woody. Parfum dengan jejak berjalannya sampai 3 meter pun meninggalkan aroma. Ibu-ibu muda ini modis berjalan dengan sepatu casual putih. Padahal, jalannya berdebu, dan harus mencincing jilbab karena genangan lumpur sisa-sisa hujan kemarin sore.
Benar kata Bu Dewi, bahwa nantinya jalannya lenggak-lenggok. Bukan karena lenggak-lenggok seperti di atas catwalk. Tapi, lenggak-lenggok gegara ada genangan air dengan lumpur berlumur sisa-sisa material proyek drainase. ‘’Eits hampir aja kepeleset, bisa-bisa bajuku jadi cokelat lumpur,’’ ujar Mama Adila dengan tangan menepuk dada menandakan selamat dari jebakan lumpur.
Semua ibu-ibu wali murid TK Kaum Beriman itu sudah menanti hari spesial pelaksanaan pawai payung hias. Payung sudah dihias dengan ditempeli berbagai aksesori, hingga baju baru untuk tampil saat berlenggak-lenggok di jalanan pusat kota.
Ada sekitar 75 siswa-siswi TK Kaum Beriman ini yang mengikuti Parade Payung Hias memperingati Hari Ibu. Semua ikut, karena mereka sudah merindu pawai atau karnaval setelah dua tahun vakum sejak dilanda pandemi.
Parade Payung Hias ini siswa-siswi ikut bersama ibunya. Karena memperingati Hari Ibu, tentu harus didampingi ibu atau sosok perempuan lainnya. Bisa kakak perempuan, atau bibi, bahkan neneknya.
Dari 75 siswa-siswi TK Kaum Beriman itu, hanya Fairil dan Fairuz saja yang tidak bersama orang tuanya. Ketika semua bergembira, teman-temannya satu payung dengan ibunya, Fairil dan Fairuz hanya sendirian. Berjalan gontai memegangi payung sendirian.
Teman-temannya tampak senang, karena sudah dipayungi oleh orang tuanya. Sehingga tidak terlalu capek. Namun, semangat juang Fairil yang memayungi Fairuz adiknya begitu kuat. Fairil harus menahan capek untuk memegang gagang payung. Keringat dibiarkan mengucur dari rambut sampai raut mukanya sudah lungset kena sinar matahari.
‘’Ganti sebelah kiri ya dik, kakak ganti memegang payung dengan tangan kiri,’’ ujar Fairil kepada adiknya sambal menukar tangan kirinya memegangi payung.
Sebelumnya tangan kanannya hampir satu jam memegangi payung sambil berjalan. Begitulah dilakukan Fairil harus ganti-ganti tangan untuk memegangi payung agar adiknya tidak kepanasan. Fairil memang anak yang kuat. Badannya yang gemuk dan posturnya tinggi membuatnya tegap. Fairil siswa tertinggi dan tergemuk di TK Kaum Beriman tersebut.
Meski kekar, namun tidak ada sosok yang menunjukkan Fairil itu anak yang nakal. Justru, anak yang sumeh,selalu tersenyum saat diajak bicara teman-temannya. Anak yang legawa, tidak pernah membantah kepada siapapun. Fairil anak yang sederhana, terlihat dari pakaiannya jarang disetrika dan beraroma.
Sosok anak tinggi besar, tapi pakainnya seadanya. Sepatu kirinya yang bolong tetap dipakainya meski sudah hampir delapan bulan. Ya, saat itu Fairil lupa menjemur sepatu usai dicuci. Siangnya hujan, dan sepatu menjadi basah lagi. Saat itu sepatu basah ditaruh di bawah meja. Ternyata, setelah bangun tidur, betapa hati Fairil tersayak.
Sepatu yang baru dibeli dua bulan lalu itu dikerokoti sama tikus. Hatinya bersedih, karena membeli sepatu itu hasil menabung di celengan bambu selama setahun lalu. Ya, delapan bulan bersekolah, Fairil selalu memakai sepatu hitam meski jebol seukuran jempol orang dewasa.
Fairil dan Fairuz termasuk anak yang kuat. Setahun ini ikut bersama pamannya di sebuah dusun yang berlokasi dekat dengan Bengawan Solo. Kakak-adik yang terpaut setahun ini terpaksa boyongan ikut pamannya, karena orang tuanya kapundut (meninggal dunia) setelah terserang Covid-19. Orang tuanya harus menyerah dengan serangan Corona saat mendapat perawatan medis di rumah sakit di Surabaya.
Fairil dan Fairuz harus mengubur mimpi bisa melihat wajah orang tuanya kali terakhir. Subuh itu, saat mendengar kabar orang tuanya meninggal dunia, Fairil merangsek hendak ikut ke rumah sakit. Namun, dia dicegah oleh tetangga dan kerabatnya. Tangis pecah saat Fairil dan Fairuz hanya bisa menanti di sebuah rumah kos di Surabaya. Padahal, kakak-adik yang berusia 6 dan 5 tahun itu ingin melihat wajah orang tuanya kali terakhir.
Namun, ketika sirine ambulans tiba di rumah kos, ternyata orang tuanya sudah ditaruh di dalam peti. Fairil dan Fairuz selanjutnya diajak naik ambulans, dengan didampingi pamannya itu, menuju Kota Bengawan. Jenazah orang tuanya dimakamkan di Kota Bengawan, di sebuah dusun berhimpitan dengan Bengawan Solo.
Sepanjang perjalanan, Fairil hanya bisa memegangi tangan adiknya. Menggosok-gosok punggung adiknya agar bisa tidur. Sepanjang perjalanan 2,5 jam itu, Fairil harus menahan tangis. Hanya tetesan air mata yang tak terbendung. Kaus yang dikenakan itu basah untuk mengusap air mata.
***
Setahun tinggal bersama pamannya, Fairil menjadi anak penurut. Hanya, terkadang yang rewel justru Fairuz. Adiknya masih di kelas kelompok bermaian (KB). Sedangkan, Fairil duduk di TK B. Ketika membeli jajan, Fairil selalu ingat adiknya. Jadi selalu dibagi dua. Saban jam selalu bersama adiknya, baik bermain hingga menjaganya ketika tidur di rumah.
Pamannya harus berangkat pagi dan pulang pukul lima sore. Pamannya bekerja sebagai juru parkir. Berangkat pagi menata lokasi parkir di sebuah jalan protokol. Ikut bersih-bersih jalan, agar pengendara yang parkir nyaman. Juga, agar pemilik toko yang digunakan mangkal untuk parkir juga senang. Sore pulang harus membawa uang sebagai bekal membeli makan bersama dua keponakannya.
Ketika pulang tidak selalu membawa uang. Maklum, penerapan parkir berlangganan di ruas jalan protokol, tentu pamannya tidak berani menarik jasa parkir. Seikhlasnya pengendara yang memberi uang. Paling banyak bawa uang Rp 40.000. Itu pun harus cukup sebagai bekal dua keponakan untuk makan malam dan sarapan besoknya.
Ketika pulang bawa uang Rp 15.000, pamannya harus mendatangi Mbak Ningsih untuk ngebon nasi pecel sarapan pagi untuk dua keponakannya. Sebulan ketika mendapat gaji parkir, baru utangnya dilunasi. Pamannya tidak bisa memasak sendiri. Hanya, bisa menanak nasi, dan beli sayur untuk ngirit biaya. Tetapi, ketika sore tentu sulit mencari sayur. Warung makan dan penjual sayur sudah banyak yang tutup.
‘’Sabar ya dik, kalau malam menu kita, sering nasi goreng Rp 5.000-an. Atau nasi kucing (nasi bungkus berupa nasi dan oseng tempe). Mungkin paman akan membelikan mi ayam dan ayam bakar ketika sudah gajian,’’ tutur Fairil sambil menyapu rumah peninggalan neneknya itu.
Pamannya memilih menunda nikah demi merawat dua keponakannya masih mungil itu. Istikamah menjadi perjaka dulu, sebelum dua keponakannya itu masuk jenjang SMP. Pamannya takut, ketika memiliki istri kelak, justru dua keponakannya kepontal atau tidak terurus. Ya, kalau istrinya itu bersedia merawat dua keponakannya. Kecemasan menikah menghantuinya karena takut istrinya kelak justru jahat terhadap dua keponakannya yang yatim piatu itu.
***
Fairil sempat kalang kabut, ketika adiknya demam tinggi. Siang itu, Fairil menunggu adiknya yang tidur karena sakit demam. Fairil tak henti-hentinya mengompres adiknya agar suhu demamnya menurun. Tak punya uang untuk membeli obat. Hendak utang, tapi takut karena masih anak kecil.
Suhu badan adiknya makin tinggi. Ketika dites dengan thermometer menunjukkan angka 39 derajat. Fairil pun tak bisa berbuat, seketika memanggil tetangganya untuk menelpon pamannya.
‘’Ibu, ibu, Fairuz kangen ibu,’’ ucap Fairus mengigau dengan demam tinggi.
Sontak, Fairil pun meneteskan air mata. Bergegas membangunkan adiknya dan memberi minum air putih. Suasana makin kalut melihat adiknya demam tinggi. Sedangkan, pamannya belum pulang kerja. Fairil terpaksa menyuapi nasi putih sisa sarapan pagi yang tak habis. Tidak ada lauk. Fairil nekat mendatangi Mbak Siti dan utang obat penurun panas.
Demam sedikit menurun. Usai minum obat itu, Fairuz nyenyak tertidur. Fairil di sampingnya adiknya sambil menggosok-gosok adiknya agar larut dalam tidur. Kakak-adik itu pun terlelap tidur di atas tikar daun pandan.
‘’Fairil dan Fairuz ibu datang Nak,’’ tutur ibunya.
Memakai baju serbaputih, ibunya memberi nasihat kepada dua putranya itu agar selalu bersama sampai kapan pun. Di waktu sakit hingga senang bermain, agar kakak-adik ini saling menjaga. Ibunya tiba membawa sepatu untuk Fairil. Juga, membawakan ayam bakar untuk Fairuz.
Fairil tersenyum. Fairuz riang. Kakak-adik itu pun bergegas memeluk ibunya. Mendekap erat. Berjalan di atas jalan seperti labirin dan bergandengan tangan erat. Ibunya memegang payung dan menjaga Fairil dan Fairuz dari hujan deras. Saling tersenyum dan bahagia.
Payung itu pun sudah dihias dengan aksesori yang unik. Ditempeli ornamen warna-warni. Payungnya juga diberi tulisan Hari Ibu. Payung yang indah seperti dedaunan yang lebat meneduhkan hewan-hewan di bawahnya terhindar dari tetesan air hujan.
Ibu dan dua anaknya ini pun saling membaca puisi. Fairil sudah membuat puisi untuk ibunya. Disiapkan sejak lama menunggu Hari Ibu. Begitu pun, Fairuz sudah membuat pantun untuk ibunya yang selalu membelikannya ayam bakar ketika malam minggu.
“Glodak,’’ suara ember jatuh dari rak yang disenggol kucing. Seketika Fairil bangun dengan kaget. Hatinya berdegup. Menengok kanan dan kiri, dan melihat kucing berbulu hitam putih itu pun berlarian membawa ayam bakar.
Sementara pamannya itu berusaha mengejar kucing. Tapi, ayam bakar itu pun sudah dibawa kabur kucing. Pamannya sudah tiba dari kerja dan membawakan ayam bakar yang dibeli di pasar sore. Sengaja pamannya membawa ayam bakar kesukaan Fairuz setelah mendapat kabar keponakannya itu sakit demam. Berharap demamnya cepat turun usai lahap memakan ayam bakar.
Fairil yang masih kaget itu pun semakin cemas, karena adiknya Fairuz kembali mengigau: ‘’Ibu, ibu, Fairuz kangen ibu’’. (*)
Ghifari Z.A
Penulis tinggal di permukiman dekat aliran Sungai Bengawan Solo di Bojonegoro.
Editor : M. Yusuf Purwanto