Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Jejak Sejarah Tungku Pembakaran Kapur sejak 1893, Berdiri di Kecamatan Bubulan dan Ngraho

Yana Dwi Kurniya Wati • Minggu, 2 November 2025 | 14:45 WIB
BUKTI SEJARAH: Jubung, atau tungku pembakaran kapur untuk proyek pembangungan irigasi pada 1893 di Desa Clebung, Kecamatan Bubulan.
BUKTI SEJARAH: Jubung, atau tungku pembakaran kapur untuk proyek pembangungan irigasi pada 1893 di Desa Clebung, Kecamatan Bubulan.

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kabupaten Bojonegoro menyimpan segudang kekayaan sejarah hingga sektor sumber daya alam. Jika medhayoh atau berkunjung ke kabupaten perbatasan Jawa Timur dengan Jawa Tengah ini, masyarakat bisa mencicipi wisata kuliner seperti ledre dan nasi buwuhan. Juga, berkunjung ke salah satu destinasi sejarah di Desa Clebung, Kecamatan Bubulan.

Berjarak sekitar 23 kilometer (KM) dari pusat Kota Bojoegoro, masyarakat bisa menilik peninggalan sejarah zaman Hindia-Belanda. Tepatnya tungku pembakaran kapur.

Menurut salah satu pegiat sejarah di Bojonegoro Muhammad Andre, awalnya menemukan data di beberapa majalah maupun koran. Kemudian memutuskan mencari informasi di Instagram terkait warga yang tinggal di desa setempat, hingga akhirnya ada respons bahkan diantar ke lokasi.

Sesampainya di tempat, ia bersama beberapa rekannya membuktikan langsung adanya jubung itu. Dia pun mulai menjelaskan sejarah tungku pembakaran kapur itu.

‘’Pada 1893, Pemerintah Hindia-Belanda memulai mengerjakan megaproyek untuk mengendalikan banjir sekaligus mengairi lahan pertanian di sepanjang Bengawan Solo. Pekerjaan ini mencakup pembangunan kanal-kanal besar, tanggul, pintu air, serta saluran utama dari wilayah Ngluwak hingga ke muara di Gresik,” kata Andre.

Dia melanjutkan, Selama proses pembangunan, dibutuhkan bahan perekat, fondasi, dan konstruksi dalam jumlah besar. Karena itu, pada 1895 pemerintah kolonial mendirikan dua tempat pembakaran kapur permanen di wilayah yang kaya batu kapurnya, yaitu di Ngluwak (Ngraho) dan Clebung (Bubulan).

Menurutnya, dalam catatan Koloniaal Verslag 1897, tungku pembakaran kapur di Clebung dibangun sekitar 1895 bersamaan dengan pendirian pabrik batu bata di Ngluwak dan Doerek atau Wilayah Tenggara Bojonegoro.

Tempat-tempat ini berfungsi sebagai pusat produksi bahan bangunan lokal untuk mendukung proyek irigasi tersebut.

Namun, imbuh pria domisili Kecamatan Sugihwaras itu, pada 1896, kegiatan di Clebung sempat terhambat karena masalah teknis. Dua tungku kapur di Ngluwak dan Clebung tidak dapat beroperasi penuh akibat memerlukan perbaikan.

‘’Meski produksi sebelumnya telah cukup untuk memenuhi kebutuhan proyek kanal dan saluran air,” tuturnya.

Dikonfirmasi terpisah, Sekretaris Desa Clebung, Kecamatan Bubulan Yusa Rofianto membenarkan, di desanya terdapat jubung atau tungku pembakaran kapur masa Hindia-Belanda. Menurutnya, keberadaan jubung itu sudah lama diketahui warga sekitar. ‘’Iya, sudah lama tahunya,” ucap Yusa, sapaannya. (yna/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Jawa Timur #sumber daya alam #bengawan solo #Bubulan #tungku #Jawa Tengah #belanda #Pertanian #kekayaan sejarah #pembakaran #kapur #sejarah #bojonegoro #Pemerintah Kolonial #Clebung