Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Lembar Budaya: Santri dan Sayap-Sayap Malaikat

Bhagas Dani Purwoko • Sabtu, 25 Oktober 2025 | 15:30 WIB
Ilsutrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilsutrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
SUHARSONO A.Q.S.
Guru Bahasa Indonesia MAN 1 Lamongan

 

ASHAR itu tak lagi bernama senja. Langit di atas pondok hanya memantulkan debu dan nyala jingga yang muram. Bau asap debu dan tanah bercampur perih tak sempat diucapkan. Dari reruntuhan atap dan tembok yang retak, suara adzan terdengar lirih, bukan dari pengeras suara, melainkan dari bibir seorang santri yang tersisa.

Ia menggigil, memanggil nama Tuhan dengan napas terpotong, sementara di sekelilingnya kitab-kitab berserakan, halaman-halaman yang dulu mereka hafalkan kini tercampur dengan gumpalan-gumpalan debu semen dan air mata.

Siang sebelumnya, mereka masih tertawa di serambi pondok. Menyimak kisah para sahabat nabi dan bercita-cita menjadi penerus ilmunya. Tak ada yang tahu bahwa beberapa jam kemudian, bumi akan bergetar dan menguji iman sekeras-kerasnya.

Reruntuhan itu bukan sekadar batu yang jatuh, melainkan ujian yang menimpa selembar demi selembar takdir. Di tengah jerit dan sunyi, seseorang santri sempat berkata lirih, “Jika ini ujian, maka biarlah kami menjawabnya dengan pasrah, Tuhan…?”

Kalimat itu menjadi ucapan terakhir sebelum pondok yang mereka cintai runtuh dalam satu tarikan waktu.

Ketika malam kembali mencoba menembus gelap, beberapa warga sekitar pondok datang dengan tangan gemetar. Mereka mencari para santri yang hilang, menggali dengan peralatan seadanya.

Dari balik puing, ditemukan satu sajadah kecil yang masih terlipat rapi, tanda bahwa shalat jamaah yang tak sempat diselesaikan. Di sisi lain, ditemukan kitab kuning dengan noda darah di tepinya. Tak ada yang berani menyentuhnya, seolah kitab itu masih hangat oleh dzikir yang panjang.

Di antara kepanikan, seorang santri berbisik, “Lihat... itu seperti sayap…?”- --menunjuk selembar kain putih yang tersangkut di reruntuhan, terbang perlahan diterpa angin malam. Mereka percaya, sayap-sayap itu bukan kebetulan.

Seolah malaikat turun tanpa suara, menjemput para santri yang tertimbun sujud. Wajah-wajah mereka ditemukan dengan senyum yang tenang, seolah sedang menyelesaikan hafalan terakhir. Di dada mereka, tak ada ketakutan, hanya ketenangan yang sulit dijelaskan.

“Aku di sini, Fakh... kakiku tertimpa balok beton,” sahut Fikri lirih. Napasnya pendek, tapi suaranya masih membawa ketenangan yang aneh.

Fakih meraba sekitar, menemukan tangan sahabatnya yang dingin dan berdebu. Mereka saling menggenggam, tak lagi tahu apakah itu tanda bertahan atau menyerah.

“Kau takut mati, Fikri?” tanya Fakih di tengah suara gemeretak balok beton yang masih menindihnya. Fikri tersenyum lemah, “Tidak, aku hanya takut belum cukup berbuat baik sebelum dipanggil.”

***

Hening menyelimuti reruntuhan. Dari kejauhan, mereka mendengar jeritan para santri lain, tapi di sela-sela itu juga terdengar lantunan ayat suci, pelan, menusuk kalbu. Fakih menutup mata, merasakan denyut bumi yang masih bergetar.

“Kau dengar itu? Mereka masih mengaji,” ucapnya. Fikri menjawab, “Mungkin itulah sayap malaikat yang turun, membawa doa mereka ke langit.” Fakih terdiam. Dalam kegelapan, kata-kata itu menjadi cahaya yang menenangkan hatinya.

Waktu berjalan lambat. Napas mereka berat, dan debu semakin menyesakkan. “Jika kita tidak bisa keluar, apa malaikat benar akan menjemput?” tanya Fakih lirih.

Fikri menatap retakan di atas mereka yang menampakkan seberkas cahaya samar. “Mungkin... tapi aku yakin, setiap doa yang kita panjatkan adalah undangan bagi sayap-sayap malaikat itu.”

Ia mencoba tersenyum, meski darah menetes dari pelipisnya. Dalam keheningan yang mencekam itu, mereka masih senandungkan sholawat bersama, menyebut nama kekasih tuhan yang agung, Muhammad, menyeruak di antara puing dan nyawa yang menggantung.

Suara langkah dan teriakan penyelamat mulai terdengar dari luar reruntuhan. “Ada suara! Tahan, kami akan keluarkan kalian!” Fakih menggenggam tangan Fikri erat, “Kau dengar? Kita akan hidup, Fikri!” Namun Fikri hanya diam.

Tubuhnya tak lagi menggigil, napasnya berhenti di antara dzikir yang belum selesai. Fakih memanggil namanya berulang kali, tapi hanya pantulan suaranya yang kembali. Ia menangis dalam diam, merasa sayap-sayap malaikat benar-benar telah turun, bukan untuk menolong, tapi untuk menjemput sahabatnya itu.

Beberapa penyelamat datang berlari, membawa alat penghancur beton dan lampu senter. “Ada suara dari arah timur! Cepat, angkat batu ini!” teriak salah satu relawan, wajahnya penuh debu dan keringat. “Sabar, Nak... kami datang,” ucap seorang penyelamat dengan suara gemetar.

Dari balik celah, tangan kecil Fakih terjulur lemah, menggenggam potongan tasbih. “Tolong... teman-temanku di ruang sebelah... mereka masih di sana,” katanya pelan, matanya setengah terbuka, menatap langit yang mulai memutih.

Ketika mereka berusaha mengangkat balok beton yang menindih tubuhnya, runtuhan kecil kembali jatuh. “Mundur dulu! Batu di atas masih goyah!” teriak salah satu penyelamat muda. Debu menutup pandangan, dan di tengah kepulan itu, Fakih seperti melihat cahaya lembut turun dari langit.

“Itu... sayap putih...?” gumamnya.

Seorang penyelamat menatapnya bingung. “Apa, Nak?” Fakih tersenyum samar. “Ada malaikat di sini, Pak...! dia bilang kami tidak sendiri.” Lalu, kesadarannya perlahan menghilang di antara kepingan-kepingan malam.

Mereka akhirnya berhasil menarik tubuh Fakih keluar. Napasnya berat, namun masih sempat berbisik, “Jaga kitab kami...! itu bekal kami menuju Allah.”

Para penyelamat terdiam, beberapa menunduk, menahan haru. Di sekitar mereka, reruntuhan pondok itu seperti menyimpan potongan ayat-ayat yang tak selesai dibacakan.

Dari celah batu yang jebol, sinar matahari menembus debu, jatuh tepat di wajah Fakih yang tenang seolah sedang tidur. “Dia sudah tenang sekarang,” kata penyelamat itu lirih.

Seorang santri lain, yang selamat dari reruntuhan, menatap langit dengan mata basah. “Mungkin benar kata Fakih, malaikat datang menjemput teman-teman kami.” Di antara debu dan puing, para penyelamat berhenti sejenak, menundukkan kepala.

Hari itu, mereka menyadari: dari reruntuhan pondok itu, bukan hanya tubuh yang tersisa, tetapi juga sayap-sayap iman yang terbang menuju langit.

Hari ketiga setelah reruntuhan pondok, udara masih dipenuhi debu dan aroma anyir tubuh yang tertimbun. Burung-burung kehilangan sarang. Desir angin yang membawa lantunan ayat-ayat terakhir yang sempat dilantunkan malam sebelum bencana. Langit berwarna abu-abu, seolah turut berduka.

Namun, di balik kabut kesedihan itu, ada sesuatu yang berbeda, sebuah cahaya lembut menembus selasela awan, turun pelan seperti sayap-sayap malaikat. Para relawan dan warga mencari dengan tangan gemetar, menyibak batu, beton, dan puing dinding.

Tiba-tiba, dari bawah reruntuhan, terdengar suara lirih membaca “Yaa Rahmaan... Yaa Rahiim…” Suara itu menggetarkan dada siapa pun yang mendengarnya.

Di sana, seorang santri muda, wajahnya berdebu namun matanya masih menyala iman, menggenggam tasbih yang terhenti. Ia tersenyum ketika ditemukan, seolah telah lebih dulu melihat sesuatu yang tak terlihat oleh manusia.

Ketika para penyelamat mendekat, mereka mengaku mencium wangi samar seperti kasturi. Santri itu berkata dengan suara lemah, “Tadi mereka datang…? berpakaian putih, membawa kendi bening. Mereka mengajakku berjamaah di antara reruntuhan, dan memberi seteguk air yang sejuk dari surga.”

Matanya memandang ke langit yang perlahan terang, sementara bibirnya bergetar melafalkan syukur. Tak ada yang berani berbicara. Semua hanya terdiam, menyadari bahwa keajaiban bisa hadir di tengah derita.

Di sisi reruntuhan yang sama, selembar sajadah terbentang, padahal tak ada yang tahu dari mana asalnya. Di atasnya tersisa jejak kaki kecil dan butiran-butiran tasbih berputar. Burung-burung kecil mulai turun, hinggap di bongkahan batu yang roboh, seolah ikut bertakbir bersama para penyelamat yang menangis haru.

Hari ketiga menjadi hari kebangkitan iman: bahwa hidup dan mati hanyalah jeda antara panggilan adzan dan salam terakhir.

Menjelang sore, cahaya matahari menembus puing-puing seperti sayap yang terbuka. Santri yang selamat itu duduk lemah, memandang reruntuhan pondoknya dengan tatapan damai. Ia berbisik, “Mereka tidak pergi. Malaikat masih di sini, menjaga yang tersisa.”

Dan dalam senja yang menguning, semua orang merasa seperti diselimuti doa-doa yang terbang di sayap malaikat, menuntun setiap jiwa untuk percaya bahwa dari reruntuhan pun, surga masih mungkin menyapa.

Hari-hari berlalu tanpa kepastian, dan halaman pondok yang telah rata dengan tanah kini menjadi lautan doa dan tangis. Di antara reruntuhan, seorang ayah santi duduk bersila dengan tangan bergetar menggenggam harapan yang kuat. Setiap adzan berkumandang, matanya menatap langit yang mulai memudar di balik tetesan air mata. Ia tak lagi tahu mana yang lebih perih, menunggu atau menerima kehilangan.

Di setiap hembus angin sore, ia merasa mendengar suara anaknya melantunkan ayat, samar, tapi penuh cahaya. Malam keempat, lampu-lampu sorot tim penyelamat masih menari di antara puing-puing.

Seorang ibu berdiri memeluk sarung lusuh milik putranya, berbisik lirih, “Nak, Ibu masih di sini, jangan takut.” Ia menolak tidur, menolak pulang. Setiap dentingan alat berat yang mengais reruntuhan membuat jantungnya berdegup seperti hendak pecah.

Orang-orang mencoba menenangkannya, tapi bagaimana menenangkan hati yang menunggu di antara hidup dan maut? Ia terus menatap tumpukan bata itu seperti menatap pintu surga yang tertutup.

Para relawan menunduk, hening dalam diam. Di bawah sinar senter, seseorang berteriak menemukan sesuatu. Semua berlari, termasuk sang ayah. Dari tumpukan batu dan beton, tangan kecil itu akhirnya terlihat, tangan yang dahulu menggenggam Al-Qur’an dengan khusyuk.

Tubuh sang anak diangkat perlahan, masih dengan peci yang menempel di kepala, wajahnya tenang seolah sedang tidur dalam dekapan malaikat. Tak ada jerit, hanya senyap yang menggigil.

Sang ayah memeluk tubuh anaknya dengan tangan gemetar, tak lagi mampu membedakan antara pagi dan malam. Ia berbisik di telinga anak itu, “Kau sudah di rumah, Nak…? rumah yang lebih damai dari pondok ini.” Di antara suara yang bersahutan, seolah langit pun ikut berduka.

ahaya kilat menyorot wajah para santri lain yang berdiri di sekeliling, mata mereka menatap temannya yang kini berpulang, seraya menunduk dalam kesyahduan yang suci. Syahid.

 

Bumi Utara, 15 Oktober 2025

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#pondok pesantren #runtuh #ayat suci #Adzan #Iman #penyelamat #cerpen #tembok #kisah #pondok #langit #sayap #pon #Santri #atap #Ashar #kitab #debu #Cerita #Malaikat